Pintu rumah Arsendra terbuka sebelum Rifky sempat mengetuk.
Laras berdiri di baliknya dengan wajah basah. "Di atas," katanya terisak. "Saya tidak berani mendekat."
Lorong lantai bawah gelap, dan setiap lampu yang mereka lewati ternyata sudah mati. Zhafir menyalakan senter di bahunya. Cahaya putih itu menyapu foto-foto di dinding, vas bunga plastik, dan satu sandal anak kecil yang tergeletak miring di anak tangga. Rifky menghitung langkah di kepalanya, kebiasaan lama sebelum masuk ruangan yang belum ia kenal: sembilan anak tangga, satu belokan, empat langkah ke pintu. Di belakangnya, napas Hanif terdengar semakin pendek, dan Rifky tahu adiknya sudah merasakan sesuatu jauh sebelum mereka sampai di ujung lorong.
Rifky naik tangga dua anak tangga sekaligus. Hanif dan Zhafir menyusul dengan tas alat. Di ujung lorong, pintu kamar utama terbuka lebar, dan dari dalam terdengar suara kecil seorang anak yang sedang bercakap-cakap pelan.
Rifky berhenti di ambang. Napasnya tertahan.
Tiyas berdiri di depan cermin besar dengan boneka kelinci di dada. Lampu kamar mati, hanya cahaya tipis dari jendela yang menyentuh punggung mungilnya. Di kaca, pantulan dirinya terlihat normal. Tapi di belakangnya, di pantulan itu, berdiri sosok yang tidak ada di kamar.
Sangat tinggi. Kepalanya hampir menyentuh langit-langit. Wajahnya rata, tanpa mata, tanpa hidung, hanya kulit pucat yang menutup seluruh permukaan.
"Om," kata Tiyas pelan, "kenapa nama Papa dicoret?"
Hanif mencengkeram lengan Rifky. "Bang. Dia di situ."
"Aku lihat," bisik Rifky. Yang mengejutkannya, ia memang melihat. Samar, seperti bayangan di kaca berembun, tapi ada.
Zhafir yang berdiri di belakang mereka sudah menyalakan kamera termal. Ia memandang layarnya, dan wajahnya berubah. "Rif. Minus empat derajat. Di tengah ruangan, setinggi dua meter."
Tiyas menoleh sedikit. "Om bilang kalau aku baik, Papa akan balik."
Itu cukup bagi Rifky. Ia melangkah masuk, tidak cepat dan tidak lambat, lalu berlutut di samping anak itu dan menutup tubuh kecilnya dengan punggungnya sendiri. Ia tidak menoleh ke cermin. Ia tahu kalau ia menoleh, ia akan kehilangan keberanian untuk tetap di sana.
"Tiyas," katanya lembut, "Om di sini. Tidak apa-apa. Sekarang Om bawa kamu keluar, ya."
"Tapi Om itu bilang…"
"Om itu bohong." Rifky menggendongnya sambil berdiri. "Papa tidak akan balik, Sayang. Dan Om itu bukan teman."
Sosok di cermin bergerak. Kepalanya miring, seperti mendengar. Suhu di ruangan jatuh seketika, dan napas mereka berubah jadi uap putih.
"Zhafir, bawa dia keluar!" seru Rifky, menyerahkan Tiyas.
Zhafir menerima anak itu tanpa bertanya. Ia berlari ke pintu, memberikannya pada Laras yang menunggu di lorong, lalu kembali dengan napas memburu. "Hanif!"
Hanif sudah berdiri di tengah kamar, menghadap cermin. Wajahnya pucat, tapi suaranya mantap.
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Bismillāhilladzī lā yaḍurru ma'asmihī syai'un fil-arḍi wa lā fis-samā'i wa huwas-samī'ul-'alīm.
"Dengan nama Allah, yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat mencelakakan, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Sosok itu bergetar. Pantulan di kaca bergelombang seperti permukaan air yang dilempar batu.
Hanif tidak berhenti. Ia membaca surat An-Nas.
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَٰهِ النَّاسِ