RIFKY dan HANIF #1 — BLOOD COVENANT

Bobby Mahmud
Chapter #8

Bab 6 — Sinyal

"Sepuluh Maret," kata Zhafir tanpa menoleh dari layar. "Hari ini tanggal sepuluh."

Garasi pagi itu berbau kopi dan kabel panas. Tiga laptop menyala di meja, dua ponsel tersambung ke kabel data, dan di papan tulis Rifky sudah menempelkan foto ukiran lingkaran di pohon, di samping foto garis di telapak tangan Arsendra. Hanif duduk di kursi dengan selimut di bahu, wajahnya masih pucat setelah semalam.

Hanif belum menyentuh kopinya sejak pagi. Ia hanya memandangi foto ukiran beringin di papan tulis tanpa berkedip, seolah gambar itu bisa menjawab sesuatu yang tidak ia tanyakan. Di sisi lain meja, Zhafir sudah menghabiskan cangkir ketiganya, jejak lingkaran kopi tercetak di tiga kertas catatan yang tak lagi bisa dibaca. Rifky memperhatikan keduanya dari ujung ruangan sambil mengikat sepatu. Garasi itu, pikirnya, sudah berubah dari bengkel kecil menjadi markas yang tidak pernah ia rencanakan. Dan yang paling aneh, ia sama sekali tidak ingin menutup tempat ini. Ada tiga orang di ruangan ini yang akhirnya berhenti berjalan sendirian.

"Kenapa tanggalnya penting?" tanya Rifky.

"Karena kertas ayah kalian menyebut dua belas Maret." Zhafir akhirnya menoleh. "Dan dua belas Maret tinggal dua hari lagi."

Tak ada yang berkata apa-apa. Rifky mengambil spidol, menulis angka itu besar-besar di sudut papan, lalu menggarisbawahinya. 12 MARET. Jam yang berdetak.

"Baik. Apa yang sudah kita punya soal perangkat itu?"

Zhafir menarik napas, jelas senang kembali ke wilayahnya. "Modul di belakang cermin memakai kartu SIM prabayar. Nomornya terdaftar dengan identitas palsu. Nama dan nomor induk yang dipakai ternyata milik orang yang meninggal tiga tahun lalu." Ia mengetuk layar. "Bukan amatir. Orang ini tahu persis cara menyamar."

"Bisa dilacak?"

"Tidak lewat pendaftarannya. Tapi lewat kebiasaannya." Zhafir memutar layar. Sebuah peta dipenuhi titik merah dan garis tipis. "Setiap kali modul aktif, ia mengirim sinyal ke menara terdekat. Dua minggu terakhir, pukul 02.13, sinyalnya sama setiap malam. Tapi pesan perintah ke modul itu, yang diketik manusia, dikirim dari menara yang berbeda."

"Berbeda dari rumah Arsendra," tebak Rifky.

"Berbeda dari mana pun yang berhubungan dengan rumah itu. Menara itu melayani satu sektor kecil di pusat kota, area Taman Sari." Zhafir melingkari bagian peta. "Kantor, apartemen, satu hotel, dan satu gedung perkantoran kecil."

Rifky mendekat. Matanya menyipit pada salah satu titik di dalam lingkaran.

"Kantor Notaris Wiryawan & Rekan," bacanya pelan.

"Aku juga melihatnya." Zhafir bersandar. "Tapi jangan lompat dulu. Sektor itu mencakup ratusan orang. Bisa kebetulan."

"Kamu bilang kamu sudah berhenti percaya pada kata itu."

"Aku bilang aku berhenti percaya sejak kemarin." Zhafir tersenyum kecil. "Tapi sebagai detektif, aku tetap perlu bukti kedua."

Hanif, yang sejak tadi diam, mengangkat tangan seperti murid di kelas. "Boleh aku bilang sesuatu?"

"Silakan."

"Semalam, setelah makhluk itu pergi, aku masih bisa merasakan arahnya." Hanif menekan pelipisnya. "Seperti ada benang yang ditarik. Bukan ke satu tempat. Tapi ke suatu arah."

"Ke mana?"

Hanif menunjuk ke jendela garasi, ke arah barat laut. Rifky dan Zhafir sama-sama menoleh ke peta. Taman Sari memang berada di sisi barat laut.

Zhafir membuka mulut, lalu menutupnya. "Aku tidak akan menjawab itu hari ini."

"Tidak perlu," kata Rifky. "Cukup tahu bahwa kita punya dua petunjuk yang saling menunjuk ke tempat yang sama."

Mereka makan seadanya, mi instan dan telur dadar yang Rifky masak sambil mendengarkan Zhafir mengetik. Sementara itu Rifky memperhatikan adiknya. Hanif makan pelan-pelan, mengunyah dengan jeda, seperti menghitung setiap gigitan. Tangannya masih sesekali gemetar.

"Nif," katanya setelah piring kosong. "Kita latihan."

Lihat selengkapnya