RIFKY dan HANIF #1 — BLOOD COVENANT

Bobby Mahmud
Chapter #9

Bab 7 — Notaris

Gedung itu tua, tiga lantai, dengan plang kuningan yang mulai kusam: Kantor Notaris Wiryawan & Rekan.

Mereka tiba menjelang siang. Taman Sari ramai dan bising, tapi di dalam kantor suasananya hening, seperti rumah duka yang sedang menahan napas. Dua staf berbisik di meja depan. Karangan bunga bertuliskan Turut Berduka Cita bersandar di dinding, kelopaknya sudah layu di tepinya.

Lobi kantor berbau kertas tua dan lilin lantai. Jam dinding kayu di dekat resepsionis berdetak lebih keras daripada seharusnya, dan di bawahnya tergantung potret seorang pria berkacamata dengan senyum tipis: Hartono Wiryawan, pendiri kantor. Matanya, di foto itu, seperti mengikuti siapa pun yang melintas. Rifky tidak suka potret yang matanya terlalu hidup. Ia memperhatikan pintu-pintu di lorong, tangga ke lantai dua, dan lift tua dengan pintu besi berlipat. Semua tampak biasa, dan itu justru membuatnya waspada. Di sudut lobi, sebuah dispenser air berdengung pelan, dan satu staf muda mengangkat kepala sebentar, melirik mereka, lalu menunduk lagi seolah takut tertangkap. Tatapannya sempat singgah pada Hanif lebih lama dari yang wajar, seperti orang yang mengenali sesuatu pada wajah asing.

Zhafir sudah menyiapkan cerita. Ia mengaku sebagai konsultan data yang diminta keluarga untuk memastikan berkas klien Arsendra aman. Rifky dan Hanif hanya memperkenalkan diri sebagai "rekan". Itu tidak sepenuhnya bohong, dan Rifky tidak suka berbohong terlalu banyak.

Sekretaris kantor, perempuan berusia empat puluhan bernama Ratri, menyalami mereka satu per satu dengan mata sembap. Ketika menjabat tangan Hanif, ia berhenti sedetik. Hanif menegang. Dari kulit perempuan itu tercium samar bau balsam dan melati.

"Maaf," gumam Ratri, "saya habis pakai minyak gosok. Kepala saya sakit sejak Pak Arsen meninggal."

Hanif menoleh pada Rifky, hampir tak kentara. Rifky memahami maksudnya dan menaruh tangan ringan di bahu adiknya, tanda tahan dulu.

Zhafir mengambil alih dengan lancar. "Ibu Ratri, kami hanya butuh melihat ruang kerja Pak Arsen dan arsip beliau. Sebentar saja."

Sebelum Ratri menjawab, pintu ruangan di ujung lorong terbuka. Seorang pria berusia awal empat puluhan keluar dengan setelan abu-abu rapi dan wajah yang seperti sudah lama tidak tersenyum. Rambutnya sudah memutih sebelum waktunya, kacamatanya tipis, dan tangannya terbungkus sarung tangan tipis berwarna kulit.

"Bayudewa Sentana," ia memperkenalkan diri datar. "Mitra senior kantor ini. Siapa yang mengundang kalian?"

"Keluarga almarhum," jawab Zhafir tanpa berkedip.

"Keluarga almarhum tidak pernah memberi tahu saya." Pak Bayudewa memandang mereka satu per satu. Tatapannya berhenti agak lama pada Hanif. "Berkas klien dilindungi hukum. Ruang kerja Arsendra sudah disegel. Silakan pulang."

"Hanya lima belas menit," kata Rifky tenang. Ia berdiri tegak tanpa mengangkat suara. "Kami tidak akan menyentuh berkas klien. Kami hanya ingin tahu apa yang Pak Arsen pikirkan di minggu-minggu terakhirnya."

Pak Bayudewa menatap Rifky seperti pria yang mengukur lawan. Lalu ia tersenyum tipis, tanpa kehangatan. "Lima belas menit. Ratri akan mengawasi."

Ia berbalik dan masuk ke ruangannya, menutup pintu pelan.

Zhafir menunggu sampai pintu itu benar-benar rapat sebelum mengembuskan napas. "Dia bersarung tangan di dalam ruangan ber-AC. Menarik."

"Tapi bukan satu-satunya yang berbau balsam," bisik Hanif.

"Benar." Zhafir mengangguk. "Dan itulah masalahnya. Di meja Ratri ada botol minyak gosok, di meja resepsionis ada dua. Setengah kantor ini bau balsam." Ia menepuk bahu Hanif. "Jangan menuduh dulu. Mungkin ini cuma kebiasaan kantor yang lelah."

Di lift tua yang berderit, Zhafir menyenggol lengan Rifky. "Perhatikan sarung tangannya," bisiknya. "Orang yang kena eksim biasanya memakai kapas atau kain tebal. Yang dia pakai sarung kulit tipis, jenis yang dipakai untuk menjaga sidik jari."

"Kamu curiga padanya?"

"Aku curiga pada semua orang yang menyembunyikan tangannya." Zhafir menatap angka lantai yang menyala satu per satu. "Tapi curiga bukan bukti. Kita lihat saja."

Ruang kerja Arsendra rapi sampai terasa menyedihkan. Meja kayu, lemari buku, foto keluarga kecil dengan Tiyas di pangkuan Laras. Zhafir langsung membuka laci satu per satu. Rifky memeriksa dinding dan lantai. Hanif berdiri di tengah ruangan, menahan napas, tidak berani menyentuh apa pun.

Ratri berdiri di ambang pintu. Ia menunggu sampai langkah kaki Pak Bayudewa terdengar menjauh ke lantai atas, lalu menutup pintu pelan-pelan dan mengunci dari dalam.

"Mas," katanya lirih, hampir berbisik. "Kalian yang bernama Anggara, bukan?"

Lihat selengkapnya