Rifky mendorong pintu itu dengan bahu, siap menerjang siapa pun di baliknya.
Ruangan kosong.
Rifky berdiri diam di ambang pintu, membiarkan matanya menyapu ruangan sebelum kakinya melangkah. Tidak ada kursi terguling. Tidak ada laci terbuka. Di sudut ruangan, kipas angin kecil berputar pelan, menggerakkan ujung kertas di atas meja. Dari jendela terbuka, terdengar kucing mengeong di gang dan suara piring beradu dari dapur warung di seberang. Seseorang baru saja berada di sini, dan pergi dengan sangat hati-hati. Rifky terbiasa membaca ruangan seperti membaca lawan: yang paling meyakinkan bukan yang berantakan, melainkan yang terlalu tenang. Ia berjalan ke meja dan menyentuh permukaannya dengan punggung jari. Debu tipis, tanpa sidik jari, seolah baru dilap.
Meja kerja Pak Bayudewa rapi, kursinya masih berputar pelan, seperti baru saja ditinggalkan. Jendela di belakang meja terbuka, tirainya bergoyang tertiup angin dari gang belakang. Di atas meja, sebuah laptop menyala. Layarnya menampilkan kolom obrolan kosong, dengan satu kalimat terakhir yang diketik dan belum terkirim:
Mereka membawa map itu.
Zhafir meraba bagian bawah laptop. "Hangat. Orangnya pergi satu atau dua menit lalu." Ia memotret layar, lalu mencatat merek laptop dan stiker di sudutnya. "Tapi ini laptop kantor, bukan pribadi. Siapa pun bisa duduk di sini."
Rifky menjulurkan kepala ke jendela. Gang sempit di bawah kosong, hanya ada tumpukan boks dan kucing yang mengintip. Tidak ada tanda orang berlari.
"Bisa Pak Bayudewa," katanya. "Bisa juga orang yang ingin kita mengira itu Pak Bayudewa."
"Atau Ratri," tambah Hanif.
"Atau siapa pun yang tahu kita di sini." Zhafir menutup laptop dengan ujung jari. "Kita tidak bisa tinggal. Ayo pergi sebelum ada yang mengingat wajah kita terlalu baik."
Di dalam mobil, Rifky mengembuskan napas panjang. Map cokelat itu tergeletak di pangkuan Hanif. Tak ada yang membukanya lagi. Terlalu banyak yang harus dicerna.
"Dua nama digunting," gumam Zhafir sambil menyetir. "Siapa pun yang menggunting, ia ingin kita tahu ada dua orang lagi. Tapi tidak ingin kita tahu siapa mereka."
"Atau melindungi mereka," kata Rifky.
"Atau melindungi dirinya sendiri."
Hanif menatap jalanan lewat jendela. "Yang jelas, ada tiga nama yang masih bisa kita datangi. Yang sudah meninggal. Keluarga mereka mungkin tahu sesuatu."
"Bramantyo yang pertama," Zhafir mengangguk. "Istrinya masih tinggal di rumah mereka di kawasan Pondok Asri."
Rumah keluarga Sastrowijoyo besar dan dingin seperti galeri. Lantai marmer, lampu gantung, patung-patung kecil di setiap sudut. Seorang perempuan paruh baya bernama Kemuning menyambut mereka dengan gaun sederhana dan wajah yang sudah lama tak mengenal tidur nyenyak.
"Saya sudah menunggu seseorang datang," katanya. "Entah polisi, entah wartawan, entah siapa. Tapi tidak ada yang datang."
"Kami datang bukan atas nama polisi, Bu," jawab Rifky. "Kami ingin tahu apa yang terjadi pada suami Ibu, dan mengapa."
Kemuning menatap mereka lama, lalu mempersilakan masuk.
Mereka duduk di ruang tamu yang terlalu besar untuk bertiga. Kemuning membawa teh, tapi tangannya gemetar hingga cangkir berdenting di tatakan. Zhafir membantu menuangkan.
"Tiga bulan sebelum meninggal, suami saya mulai berubah," ia memulai. "Dia lebih sering diam. Kadang saya dengar dia menangis di ruang kerja. Padahal Mas Bram itu orang keras, Mas. Tidak pernah menangis, bahkan waktu ibunya wafat."
"Pernah menyebut sebabnya?" tanya Zhafir.
"Tidak. Hanya satu kalimat, berkali-kali. 'Anak-anak itu belum tenang.'" Kemuning menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Saya kira dia mulai pikun. Atau tertekan urusan bisnis."
Hanif dan Rifky bertukar pandang.