RIFKY dan HANIF #1 — BLOOD COVENANT

Bobby Mahmud
Chapter #11

Bab 9 — Pisau

Malam itu garasi seperti ruang rapat darurat.

Papan tulis penuh. Foto lemari 07, salinan surat perjanjian, kutipan berita kebakaran Nur Cahaya, dan lingkaran besar bertuliskan 12 MARET di sudut kanan atas. Rifky berdiri di depannya dengan kedua tangan di pinggang. Zhafir duduk di lantai dengan laptop di pangkuan, dikelilingi gelas kopi kosong. Hanif bersandar di rak, menyelimuti dirinya dengan jaket tebal meski ruangan tidak dingin.

"Hasil lab dari temanku sudah masuk," kata Zhafir tanpa menengadah.

"Gelas di kamar Arsendra?" tanya Rifky.

"Aku mengambil sisa cairan di dasar gelas itu waktu kita di kamar Arsendra, ingat?" Zhafir menggulir layar. "Ada residu obat penenang. Dosis cukup besar. Dan ada senyawa dari ekstrak tumbuhan yang efeknya mengacaukan persepsi dan membuat seseorang sangat mudah disugesti."

Hanif mengangkat kepala. "Jadi dia dibius?"

"Dibuat patuh, lebih tepatnya." Zhafir menutup berkas. "Itu menjelaskan kenapa garisnya begitu tenang. Dan menjelaskan kenapa ia terlihat menerima. Obat membuat pikirannya lunak, suara dari modul memberinya perintah, dan sosok di cermin..."

"Memberinya alasan," potong Hanif pelan.

"Atau menakutinya sampai ia setuju." Zhafir mengangkat bahu. "Aku tidak bisa menjelaskan yang itu. Tapi untuk bagian manusianya, sekarang aku punya bukti."

Rifky mengetuk papan tulis, tepat di tulisan PISAU HILANG. "Dan itu bagian terakhir yang belum kita jawab. Garis di telapak tangan, selalu rapi, selalu sama. Berarti satu jenis alat. Pisau yang sama, atau pasangannya."

"Dari korban ke korban," gumam Zhafir. "Dan setelahnya, ada tangan bersarung yang mengambilnya kembali."

Rifky berhenti. Matanya menatap sesuatu yang jauh.

"Rif?"

"Pisau lipat kecil." Suaranya pelan. "Yang ada di meja Ayah malam itu, kata Hanif. Gagangnya dari tanduk."

Hanif menegakkan badan. "Abang tahu pisau itu?"

"Aku tahu persis." Rifky menghela napas. "Ayah selalu membawanya di saku. Dipakai membuka amplop, mengupas buah, memotong tali. Gagangnya ada ukiran huruf. S.A. Aku pernah meminjamnya waktu SMP dan dimarahi habis-habisan karena menghilangkannya sehari." Ia tersenyum getir. "Setelah Ayah meninggal, aku mencarinya di semua barang. Tidak ketemu. Kupikir ikut terbawa ke kecelakaan."

"Tapi ternyata tidak," sambung Zhafir, "karena yang mengambil barang-barang Ayah adalah Arsendra, atas nama kantor notaris."

"Berarti pisau itu pindah ke Arsendra," kata Hanif. "Dan Arsendra menyimpannya selama sembilan tahun."

"Sampai menjelang akhir," lanjut Rifky. "Ketika dia menyembunyikannya."

"Tapi di mana?" Hanif tiba-tiba berdiri. "Bang, ingat Tiyas? Di kamar itu, waktu kita ruqyah. Dia bilang Papa punya sesuatu yang..."

Zhafir sudah membuka catatan di ponselnya. "Tiyas bilang, 'Papa bilang Om itu baik, tapi tidak punya mata.' Itu saja."

"Bukan itu." Hanif menutup mata, mencoba mengingat. "Waktu Zhafir menggendongnya keluar kamar, Tiyas bergumam di bahunya. Dia bilang, 'Papa kasih tidur pisaunya.'"

Hening.

"Kamu yakin dia bilang begitu?" tanya Rifky.

Zhafir mengerutkan dahi. "Aku mendengarnya juga. Kukira anak itu mengigau."

"Mungkin bukan." Hanif membuka mata.

Zhafir ikut berdiri, tapi dahinya berkerut. "Tunggu. Kalau pisau itu memang penting, kenapa tidak ada yang mengambilnya dari rumah Arsendra? Tangan bersarung itu sudah masuk ke sana setidaknya dua kali."

"Karena mereka tidak tahu di mana," jawab Rifky. "Arsendra menyembunyikannya dari mereka."

"Atau mereka tahu, tapi tidak bisa mendekat." Hanif memandangi telapak tangannya. "Tempat yang disentuh ayat, atau tempat yang dijaga seseorang yang berniat baik, tidak mudah dimasuki."

Zhafir menghela napas. "Dua penjelasan, satu dari logika, satu dari iman, dan aku tidak sanggup memilih salah satunya." Ia menutup laptop. "Ayo. Sebelum aku berubah pikiran."

Lihat selengkapnya