Pintu samping garasi tidak dicongkel. Tidak ada engsel yang rusak, tidak ada gembok yang patah.
Zhafir berjongkok di ambangnya dengan senter di mulut dan kaca pembesar di tangan. Rifky berdiri di belakangnya, lengan terlipat, rahangnya kaku. Hanif duduk di bangku dekat rak, memeluk lutut.
Di seberang jalan, seorang tetangga menyapu halaman sambil sesekali melirik ke arah mereka, penasaran melihat tiga laki-laki mengerubungi pintu garasi sepagi itu. Zhafir menyapanya dengan anggukan sopan dan berpura-pura sibuk dengan kabel.
"Dibuka dengan kunci," kata Zhafir akhirnya. "Kuncinya masuk mulus, tidak ada goresan. Orang ini tahu persis di mana kuncinya."
Rifky menutup mata sebentar. Lalu ia melangkah ke pot besar di sisi pintu, mengangkatnya, dan menemukan bekas lingkaran di tanah. Kunci cadangan yang biasa ia taruh di sana sudah tidak ada. Ia mengembalikan pot itu dengan hati-hati, lalu menarik napas panjang dan mengingatkan dirinya sendiri: kesalahan kecil hari ini tidak boleh jadi alasan untuk menyalahkan siapa pun besok.
"Aku yang ceroboh," katanya datar. "Sembilan tahun aku taruh kunci di situ, dan tidak pernah sekali pun berpikir ada yang memperhatikan."
"Siapa pun bisa tahu kalau dia mengawasi kita beberapa hari," jawab Zhafir. "Bukan salahmu."
Ia memutar laptop. Kamera kecil yang ia pasang di atas pintu garasi sejak kemarin sempat merekam sesuatu, tapi sebagian besar rekamannya rusak, penuh bintik statis. Hanya empat detik yang bersih. Seseorang berpakaian gelap dan bertopi masuk dari kanan, menutup pintu perlahan, lalu hilang dari bingkai.
Zhafir memperbesar gambar, mengukur tinggi tubuh berdasarkan kusen pintu, lalu mencatat. "Sekitar seratus enam puluh lima sentimeter. Langkah ringan. Tangan bersarung tipis, warna kulit."
"Pendek," gumam Rifky. "Lebih kecil dari Pak Bayudewa."
"Lebih mirip Ratri, kalau mau dibilang," kata Hanif pelan.
Zhafir mengangguk, tapi tidak yakin. "Atau perempuan lain. Atau laki-laki bertubuh kecil. Kita belum punya cukup alasan untuk menyebut nama."
Rifky membuka brankas kecil di bawah meja kerja, memeriksa kain pembungkus pisau itu, lalu menguncinya lagi dan menggantungkan kunci di lehernya dengan tali. "Ini tidak boleh pergi dari tubuhku sampai selesai."
"Pisau itu aman?" tanya Hanif.
"Selama aku hidup."
Hanif ingin membantah kalimat itu, tapi tidak menemukan kata yang tepat.
Mereka berangkat pukul sembilan, menuju Wicaksana Dharmawan, korban kedua dalam daftar.
Dosen itu tinggal di kompleks perumahan staf kampus di pinggir kota. Istrinya, Anjani, perempuan bertubuh kecil dengan mata yang tampak tua untuk usianya, menyambut mereka di teras dan langsung membawa mereka masuk ke ruang kerja suaminya.
"Saya belum menyentuh apa pun sejak Mas Wicak pergi," katanya. "Entah kenapa, rasanya tidak adil."
Rak buku menjulang sampai langit-langit. Hampir semua judulnya tentang psikologi: sugesti, hipnosis klinis, trauma kolektif, dinamika kelompok. Zhafir langsung mengambil satu map besar di meja bertuliskan Catatan 12-3.
"Suami Ibu sedang meneliti sesuatu?" tanyanya.
"Bukan penelitian resmi." Anjani menggeleng. "Dia menulisnya diam-diam, tiap malam, dalam dua tahun terakhir. Katanya itu 'utang intelektual'."
Zhafir membuka map itu dan membaca beberapa halaman dengan cepat. Alisnya berkerut.
"Dengar ini," katanya, lalu membaca dengan suara datar.
"Hipotesis: sekelompok orang yang menyimpan satu rahasia kelam bersama akan sangat mudah dikendalikan lewat rasa bersalah. Tidak diperlukan ancaman. Cukup ingatkan pada rasa itu, berulang-ulang, dalam keadaan tubuh yang lemah dan pikiran yang terbuka. Mereka akan menghukum dirinya sendiri."
"Ia menulis tentang dirinya sendiri," bisik Hanif.
"Atau tentang orang yang melakukan ini pada mereka," kata Rifky.