Garasi dipenuhi cahaya jingga terakhir yang menembus jendela tinggi dan jatuh di atas papan tulis, membuat tulisan tangan Rifky terlihat seperti tulisan orang lain. Sejak siang mereka bertiga makan tidak teratur dan tidur hanya sebentar. Rifky menyiapkan nasi bungkus dari warung ujung gang, meletakkannya di meja, dan menunggu sampai Hanif mengambilnya. Hanif mengambilnya, membuka bungkusnya, lalu menatap nasi itu cukup lama tanpa menyentuhnya. Rifky memilih tidak bertanya. Ada hari-hari ketika diam adalah satu-satunya hal yang bisa ia berikan. Dari jendela tinggi terdengar azan magrib di kejauhan, dan Hanif memejamkan mata sebentar, merasakan suara itu seperti tangan hangat yang menepuk bahunya dari jauh. Ia ingin menangkap rasa itu dan menyimpannya di saku, untuk nanti, ketika suara-suara lain mulai datang dan tidak ada tangan yang bisa menepuknya.
Setelah azan, Hanif akhirnya mau makan. Mereka duduk bersila berhadapan di lantai garasi, seperti dulu saat listrik rumah padam. Rifky menceritakan kekonyolan masa SMA-nya, hari ketika ia dipukul mundur oleh seorang anak kelas satu yang ternyata juara silat tingkat provinsi. Hanif tertawa sampai tersedak, dan untuk beberapa menit mereka lupa pada papan tulis, pisau, dan angka dua belas.
Tawa itu hilang secepat datangnya. Awalnya Hanif mengira dengungan yang kembali itu bunyi kulkas tua di pojok garasi. Dengungan rendah yang naik turun, nyaris tak terdengar. Lalu ia sadar suara itu tidak datang dari kulkas, tidak dari pipa, dan tidak dari luar. Suara itu berada tepat di belakang telinganya, seperti seseorang berdiri sangat dekat dan berbicara tanpa menggerakkan bibir.
"…Nif…"
Ia menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa. Hanya Rifky di meja kerja, memeriksa ulang peta rute ke rumah Danurwenda, dan jam dinding yang menunjukkan hampir pukul delapan.
"Kamu kenapa?" tanya Rifky tanpa menengadah.
"Tidak apa-apa."
"Kamu menoleh seperti dipanggil."
"Cuma capek." Hanif tersenyum kecil. "Jangan khawatir."
Rifky akhirnya mengangkat kepala dan memandang adiknya lama. Ia tidak percaya, tapi memilih tidak mendesak. Janji mereka di basement masih berlaku: tidak ada yang dibawa sendirian. Hanya saja, ia belum tahu bagaimana cara menagih janji itu dari orang yang sudah terlalu lama belajar diam.
Zhafir sedang tidak di garasi. Sejak sore, ia mengejar jejak Danurwenda Hasan lewat rekening, jadwal penerbangan, dan sistem pelacak ponsel. "Kalau dia benar-benar pengusaha logistik, pasti ada jejak digital di mana-mana," katanya sebelum pergi. "Aku keluar dua jam. Telepon kalau ada apa-apa."
Maka malam itu, hanya Rifky dan Hanif yang berjaga.
Pukul sepuluh, suara itu menguat.
"…Nif… Hanif…"
Kali ini Hanif mengenalinya. Napasnya terhenti.
Bukan suara yang ia ingat dari masa kecil, yang hangat dan berat saat memanggil untuk makan malam. Ini suara yang ia dengar di malam terakhir, lirih dan penuh ketakutan. "Kamu melihatnya ya, Nif?"
Ia mengepalkan tangan di lututnya. Rifky, yang duduk di seberangnya sambil membaca ulang surat perjanjian, tidak menyadari apa pun. Hanif memejamkan mata dan berusaha membaca ayat yang biasa menenangkannya.
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.
"Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."
Suara itu terdiam sejenak. Lalu kembali, kali ini lebih dekat, lebih lembut.
"Nak… pisaunya kasih ke Ayah…"
Tubuh Hanif menegang.
"Ayah mau selesaikan. Supaya kamu tidak perlu ikut. Supaya Rifky tidak perlu ikut. Kasih ke Ayah, ya?"
Air mata menggenang di matanya. Ia tahu itu bukan ayahnya. Ia tahu. Tetapi suara itu begitu mirip, begitu tepat di tempat ia paling rapuh, sampai logikanya berderak seperti kaca retak.
"Bang," bisiknya.
"Hm?"
"Kalau aku bilang aku capek, boleh aku tidur duluan?"