Mobil sewaan itu ditemukan pukul satu lewat sepuluh, terparkir di basement Menara Taman Sari.
Zhafir yang menemukannya, lewat kamera lalu lintas dan satu panggilan telepon kepada seorang kenalan di bagian keamanan gedung. Ia tidak menjelaskan bagaimana caranya, dan Rifky tidak bertanya. Yang penting, platnya cocok.
Basement parkir itu berbau beton lembap dan oli, dengan lampu neon yang sebagian padam dan bayang-bayang pilar memanjang di lantai. Kamera pengawas di sudut langit-langit berputar pelan, dan di bawahnya seorang petugas keamanan tertidur dengan kepala bersandar ke dinding. Zhafir melewatinya dengan langkah ringan, seperti orang yang sudah terbiasa mengabaikan siapa pun yang tak perlu diperhatikan. Rifky menyadari ia sudah mulai menghitung pintu keluar, arah angin, dan jarak ke tangga darurat. Kebiasaan yang tidak ia sukai, tapi ia syukuri. Zhafir menyalakan senter kecil dan mengarahkannya ke lantai, menunjukkan jejak ban basah yang menuju satu slot parkir di ujung kiri, jejak yang sengaja tidak dihapus siapa pun.
"Lantai dua belas," kata Zhafir sambil membuka laptop di kap mobil mereka. "Unit servis harian. Check-in pukul sebelas empat puluh. Atas nama Danurwenda Hasan. Belum check-out."
"Pukul sebelas empat puluh," ulang Rifky. "Tepat setelah mendarat. Dia tidak pulang ke rumahnya."
"Dia dijemput," kata Hanif pelan. Ia duduk di kursi belakang dengan tangan kanan terselip di bawah paha, menyembunyikan telapak yang kini menyisakan setengah lingkaran merah. "Atau dia datang sendiri karena merasa harus."
Waktu menunjukkan 01.14. Satu jam sembilan belas menit lagi.
Sebelum naik, Rifky membagi tugas dengan suara rendah di basement. Zhafir memegang peralatan dan memantau sinyal. Hanif di tengah, tidak boleh jauh dari siapa pun. Rifky di depan, selalu. "Kalau ada yang bergerak, yang pertama melihatnya aku," katanya. Tidak ada yang berdebat. Itu sudah seperti hukum alam di antara mereka.
Mereka naik lewat tangga darurat karena Zhafir tak mau mengambil risiko lift yang terpantau. Dua belas lantai terasa lama, terutama ketika Hanif mulai tersengal di lantai tujuh. Rifky mengambil tas alat dari bahunya tanpa banyak bicara dan menyampirkannya di bahu sendiri.
Di lantai sepuluh, Zhafir tiba-tiba menghentikan langkah. Ia mengangkat satu tangan.
"Diam."
Rifky dan Hanif berhenti. Zhafir mengeluarkan perangkat kecil sebesar dompet dari saku jaketnya, layar mungil menyala dengan garis-garis hijau yang bergerak naik turun.
"Apa itu?" bisik Hanif.
"Penganalisis spektrum akustik. Aku biasa memakainya untuk mencari penyadap." Zhafir menatap layar, dahinya berkerut. "Ada getaran di bawah ambang pendengaran. Sekitar sembilan belas hertz. Stabil dan sangat rendah."
"Sembilan belas?" Rifky mengulang. "Itu bukan suara."
"Bukan suara yang bisa kau dengar." Zhafir menurunkan alatnya. "Tapi tubuh bisa merasakannya. Pernah merasa tidak enak di ruangan yang kelihatannya normal? Bulu kuduk berdiri, jantung berdebar, merasa ada yang mengawasi?"
Hanif mengangguk pelan. Sejak lantai delapan, ia memang merasakannya.
"Sembilan belas hertz itu salah satu frekuensi yang dikaitkan dengan itu," lanjut Zhafir. "Para peneliti menemukannya di ruangan-ruangan yang dianggap berhantu. Bola mata ikut bergetar sedikit, pandangan jadi kabur di pinggir, otak menafsirkannya sebagai bayangan. Tubuh panik tanpa tahu penyebabnya."
"Jadi bisa disetel," kata Rifky.
"Bisa disetel, bisa diarahkan, bisa dipasang di ventilasi." Zhafir menatap ke atas tangga. "Seseorang menyiapkan lantai dua belas supaya penghuninya tidak pernah merasa aman."
"Tapi itu hanya setengah cerita," kata Hanif.
Zhafir menoleh. "Maksudmu?"
"Frekuensi itu bisa membuat orang takut. Bisa membuat orang melihat bayangan." Hanif menatap telapak tangannya. "Tapi tidak bisa membuat orang melihat sosok tanpa mata dengan suhu minus empat derajat di kamera termal."
Zhafir terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Aku tahu. Aku sudah berhenti membantah soal itu. Aku cuma mau kita sadar, kita menghadapi dua lapis sekaligus. Lapis yang bisa diukur, dan lapis yang tidak."
"Dua lapis," ulang Rifky. "Bagus. Mari kita patahkan lapis pertama dulu."
Pintu unit 1207 tertutup rapat. Lampu dalam lorong berkedip pelan, seirama dengan getaran yang makin terasa di dada. Zhafir menempelkan telinga ke daun pintu, lalu menggeleng.
"Tidak ada suara."