RIFKY dan HANIF #1 — BLOOD COVENANT

Bobby Mahmud
Chapter #15

Bab 13 — Tamu

Fajar menyingkap garasi dalam warna kelabu pucat.

Di luar garasi, burung gereja mulai ribut di atas kabel listrik, dan dari kejauhan terdengar suara tukang roti keliling yang membunyikan klakson kecilnya. Dunia luar berjalan seperti pagi biasa, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di dalam empat dinding itu semalam. Rifky memperhatikan jari-jarinya sendiri yang belum berhenti gemetar halus sejak mereka membawa Danurwenda keluar dari menara. Ia mengepalkannya, lalu membukanya lagi. Tidak apa-apa, katanya pada dirinya sendiri. Satu orang selamat. Itu bukan hal kecil. Ia menoleh ke Hanif yang masih tertidur, wajahnya tenang seperti anak kecil, dan merasa dadanya hangat dan nyeri sekaligus.

Danurwenda Hasan tidur di sofa, diselimuti jaket Rifky, napasnya dalam dan teratur untuk pertama kali sejak mereka menemukannya. Dokter kenalan Zhafir sempat datang pukul tiga pagi, memeriksa tekanan darah dan pupilnya, lalu memberi satu kesimpulan singkat: dehidrasi berat, efek obat penenang dosis tinggi, dan tubuh yang nyaris tak mau bangun. "Beri dia makan dan jangan biarkan sendirian," pesannya. "Selebihnya, dia butuh waktu."

Rifky duduk di kursi dekat sofa dengan secangkir teh, mengawasi pria tua itu tanpa suara. Hanif tertidur di lantai bersandar pada kaki meja, kepala miring, mulutnya sedikit terbuka. Zhafir bekerja di depan laptop sambil membongkar kotak hitam dari ventilasi menggunakan pinset dan lampu kecil.

"Buatan rumahan," bisiknya, takut membangunkan yang lain. "Papan sirkuit sederhana, penguat daya, sebuah penghasil gelombang yang bisa diatur. Dikendalikan lewat SIM yang sama dengan modul di cermin." Ia mengangkat kepala. "Orang ini tidak hanya pintar. Dia sabar. Rakitannya rapi dan semua komponennya bisa dibeli bebas di toko elektronik."

"Berarti bukan orang yang tidak terbiasa memegang solder," gumam Rifky.

"Atau tidak asing dengan listrik dan teknisi." Zhafir tersenyum miring. "Teknisi yang masuk ke rumah korban sambil membawa tas peralatan. Sejauh ini cocok."

Pukul tujuh pagi, bel pagar garasi berbunyi.

Rifky berdiri seketika. Hanif terbangun dengan tersentak. Zhafir menutup laptop dengan satu gerakan lincah.

"Siapa yang tahu alamat ini?" bisik Hanif.

"Hampir tidak ada yang tahu." Rifky bergerak ke pintu, intip dari celah tirai, dan wajahnya berubah.

Di luar berdiri seorang pria paruh baya berusia sekitar enam puluh lima, bertubuh tegap, mengenakan batik cokelat tua dan membawa tongkat kayu hitam berkepala perak. Rambutnya putih, disisir rapi ke belakang. Di pergelangan tangannya melingkar gelang dari akar bahar yang digosok mengilap. Di belakangnya berdiri dua laki-laki muda bertubuh besar dengan kemeja gelap, tangan terlipat di depan.

Pria tua itu tersenyum ramah begitu bertemu pandang dengan mata Rifky di balik tirai.

"Selamat pagi, Nak Rifky," katanya, cukup keras untuk terdengar. "Maaf mengganggu sepagi ini. Saya Ardhaka Wisesa. Saya teman lama ayahmu."

Rifky tidak membuka pintu. "Saya tidak pernah mendengar nama Bapak."

"Wajar. Ayahmu orang yang menjaga rahasia dengan baik." Senyumnya tidak berubah. "Boleh saya masuk? Hanya sebentar. Saya membawa sesuatu yang mungkin kalian perlukan. Perlindungan."

Zhafir mendekat. "Jangan buka," gumamnya.

"Aku tidak akan membukanya lebar," jawab Rifky pelan. Ia menarik pintu hanya sebatas lebar sekitar tiga puluh sentimeter, cukup untuk berbicara. "Silakan bicara dari situ, Pak."

Pria tua itu menatap celah sempit itu dan tertawa kecil. "Benar-benar anak Satrio. Waspada sampai ke tulang."

"Apa yang Bapak tawarkan?"

"Pagar." Pria itu mengangkat tongkatnya sedikit. "Perlindungan gaib bagi kamu dan adikmu. Kalian sedang diincar, Nak, dan kalian belum paham siapa yang kalian hadapi. Makhluk yang menagih janji itu tidak bisa dilawan dengan ayat saja. Dia terikat pada darah. Hanya yang mengerti cara kerja darah yang bisa menutupnya."

Hanif sudah berdiri di samping Rifky. Pria tua itu menatapnya langsung, dan untuk pertama kalinya senyumnya menghangat.

"Dan kamu pasti Hanif. Yang melihat." Suaranya turun, lebih lembut. "Aku sudah menduga akan seperti ini. Ayahmu sering bercerita bahwa kamu berbeda."

Tengkuk Hanif meremang. Ia menutup mata dan mencoba merasakan pria itu, seperti yang biasa ia lakukan dengan siapa pun yang baru ia temui. Biasanya ada sesuatu: hawa dingin, bayangan di sudut pandangan, berat di udara.

Lihat selengkapnya