RIFKY dan HANIF #1 — BLOOD COVENANT

Bobby Mahmud
Chapter #16

Bab 14 — Sumpah

Danurwenda minta segelas air putih dulu, dan tangannya baru berhenti gemetar setelah gelas ketiga.

Mereka duduk melingkar di lantai garasi. Rifky bersila di sisi kanan, Hanif di sisi kiri, dan Zhafir di seberang dengan perekam kecil menyala di pangkuannya. Sinar pagi masuk lewat jendela tinggi, jatuh di wajah pria tua itu dan memperlihatkan setiap kerut yang selama ini ia sembunyikan.

Hanif memperhatikan pria tua itu dengan saksama. Tangan Danurwenda bergetar halus di atas pangkuan, dan di pergelangan kirinya melingkar jam tangan tua berpenunjuk jarum yang diam. Jarum pendeknya berhenti di angka dua, jarum panjangnya di menit ketiga belas, sudah berdebu di balik kacanya. Ia tidak memperbaikinya, tidak melepasnya, dan tidak pernah mengganti baterainya. Seakan benda itu adalah satu-satunya hal dalam hidupnya yang ia izinkan berhenti. Hanif menoleh pada kakaknya. Rifky juga memperhatikan jam itu, dan keduanya tahu tanpa bicara bahwa cerita yang akan datang akan jauh lebih panjang dari yang mereka kira.

"Aku akan mulai dari awal," katanya. "Karena kalau tidak, kalian tidak akan paham kenapa kami semua pantas mati."

"Pak," kata Rifky pelan, "tidak ada yang pantas mati."

"Kau belum dengar ceritanya, Nak."

Ia menarik napas panjang. Matanya menatap kosong ke langit-langit, jauh sekali, ke tempat dua puluh tahun lalu.

"Kami tujuh orang. Hartono, notaris yang paling tua dan paling dihormati. Bramantyo, pengusaha yang tangannya selalu terbuka untuk acara amal. Wicaksana, dosen muda yang mengajar anak-anak panti hari Sabtu. Harjuna, kontraktor yang membangun ulang atap asrama secara gratis. Aku sendiri, yang membiayai makan mereka. Satrio, ayah kalian, yang paling dekat dengan anak-anak itu. Dan satu orang lagi."

"Pak Z," sela Hanif tiba-tiba.

Danurwenda menoleh kaget. "Dari mana kau tahu?"

"Aku tidak tahu." Hanif menggeleng pelan. "Nama itu tiba-tiba ada di kepalaku."

Danurwenda mengerjap, lalu melanjutkan. "Kami memanggilnya begitu. Pak Z. Seorang pria pendiam, berkacamata, tidak pernah banyak bicara. Dia datang terlambat ke kelompok kami dan tidak pernah mau menyebut nama aslinya. Kami tidak pernah memaksa."

Zhafir menggerakkan jarinya di layar, mencatat. Wajahnya datar, tapi ujung penanya berhenti sepersekian detik lebih lama dari biasanya.

"Kami semua baik," lanjut Danurwenda. "Itu yang paling menyakitkan. Kami bukan penjahat. Kami orang-orang yang suka menolong, sampai rasa takut kehilangan membuat kami bodoh."

"Takut kehilangan apa?" tanya Rifky.

"Usaha. Nama baik. Anak-anak kami sendiri." Ia tersenyum getir. "Waktu itu semua usaha kami sedang jatuh, hampir bersamaan. Hartono diancam perkara perdata. Bramantyo bangkrut. Aku hampir kehilangan semua kapal. Dan di tengah itu, seseorang memperkenalkan kami pada seorang guru."

"Ardhaka Wisesa," kata Hanif.

Danurwenda mengangguk. Wajahnya memucat. "Dia tidak pernah menjanjikan apa-apa pada awalnya. Hanya bilang ada cara untuk 'mengikat keberuntungan'. Perlindungan, katanya. Pagar. Dia melakukan ritual kecil beberapa kali, dan anehnya, semuanya mulai membaik. Perkara Hartono selesai. Proyek Harjuna cair. Kapalku kembali berlayar. Kami percaya."

"Lalu?" tanya Zhafir.

"Lalu dia bilang untuk menjaga pagar itu tetap kuat, kami harus melakukan satu ritual besar. Tengah malam, dua belas Maret, di asrama Nur Cahaya. Katanya tempat itu memiliki 'tanah yang bersih'." Danurwenda menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Dia minta semua anak dikumpulkan di satu ruangan. Katanya supaya mereka terlindung selama ritual. Ruangan itu dikunci dari luar. Aku yang membawakan kuncinya."

Tak ada yang bicara.

Lihat selengkapnya