Jalan menuju bekas panti itu tidak diaspal sepenuhnya.
Mobil mereka terguncang di atas bebatuan sejak dua kilometer terakhir, melewati sawah kering dan deretan pohon jati yang daunnya menguning. Matahari sudah condong ke barat. Di bangku belakang, Danurwenda duduk bersandar dengan wajah pucat dan tangan terlipat di atas lutut. Ia sendiri yang memaksa ikut, dan tak ada yang tega melarangnya.
Di luar jendela, deretan pohon jati bergoyang pelan tertiup angin kering. Sesekali tampak gubuk-gubuk bambu di tepi sawah dengan jemuran terjuntai, dan seorang petani tua mengangkat topi capingnya ketika mobil mereka lewat. Dunia ini begitu biasa, pikir Hanif, begitu jauh dari malam-malam yang baru ia lalui. Ia memandangi tangannya sendiri, lalu mengalihkan mata ke tas kain yang tergeletak di kursi depan. Di dalamnya, kunci perak kecil dan surat perjanjian lama menunggu, ringan di tangan, berat di dada. Rifky, di belakang setir, mengatur laju mobil supaya tidak terlalu mengguncang, seakan khawatir getarannya bisa membangunkan sesuatu yang sudah terlalu lama tidur. Hanif memperhatikan bahu kakaknya dari belakang, tegang tapi mantap, dan merasa lega sekaligus bersalah karena membuat bahu itu menanggung begitu banyak.
"Dua puluh tahun," gumam Danurwenda. "Aku tidak pernah lewat sini."
Tangan kanan Hanif selalu tertutup, sebuah kebiasaan baru sejak setengah lingkaran merah itu muncul. Zhafir di kursi depan mengetik di laptop yang bersandar di lutut, wajahnya tegang.
"Aku menemukan sesuatu," katanya. "Tanah panti Nur Cahaya tidak dijual setelah kebakaran. Sekarang atas nama Yayasan Cahaya Baskara."
Rifky melirik. "Baskara?"
"Nama anak Dirgantoro yang meninggal." Zhafir mengetuk layar. "Yayasan itu berdiri delapan tahun lalu. Pajak tanah dibayar rutin, tiap tahun, tepat waktu. Pendirinya anonim lewat kuasa notaris. Dan kau tahu notaris mana yang mengurusnya?"
"Wiryawan & Rekan," jawab Hanif pelan.
Zhafir mengangguk. "Pak Bayudewa sendiri yang menandatangani."
Tak ada yang bicara beberapa saat. Rifky mengencangkan pegangan pada setir.
"Bisa jadi dia hanya bekerja untuk klien," kata Zhafir hati-hati. "Aku tidak mau melompat."
"Tapi seseorang menyimpan tanah ini selama delapan tahun," kata Hanif. "Seseorang yang tidak mau itu dilupakan."
Gerbang bekas panti tampak dari kejauhan sebagai dua tiang bata yang miring, dikelilingi alang-alang setinggi pinggang. Di sisi kiri tiang berdiri pohon beringin raksasa, akarnya menjuntai menyentuh tanah. Di bawahnya, setengah tertutup lumut, terdapat sebuah kotak pos besi berwarna biru yang catnya sudah mengelupas.
Mereka berhenti dan turun. Angin sore membawa bau tanah kering dan sisa arang yang entah mengapa belum hilang setelah dua dekade.
Hanif berdiri di depan gerbang dan tidak bergerak.
"Nif?" panggil Rifky.
"Mereka di sini," jawab Hanif lirih. "Semuanya."
Di balik tiang-tiang gerbang, di antara alang-alang yang bergoyang, tampak bayangan-bayangan kecil berdiri berjajar. Tujuh anak, dalam pakaian lusuh, wajah-wajah mereka setengah tertutup bayang. Tidak ada yang menakutkan. Mereka hanya berdiri, menunggu, seperti anak-anak yang menanti dijemput.
Danurwenda menutup mulut dengan telapak tangan dan jatuh berlutut di tanah. Isaknya pecah tanpa suara.
"Kamu melihat mereka juga, Pak?" tanya Rifky lembut.
"Tidak." Danurwenda menggeleng. "Aku hanya merasakannya. Mereka begitu dekat."
Hanif melangkah maju, pelan, sampai berdiri di depan jajaran anak-anak itu. Salah satu dari mereka, yang paling kecil, mengangkat kepala. Hanif tersenyum padanya, senyum sedih yang paling jujur yang pernah ia berikan pada siapa pun.