RIFKY dan HANIF #1 — BLOOD COVENANT

Bobby Mahmud
Chapter #18

Bab 16 — Retak

Matahari tenggelam, dan tak ada yang tampak datang.

Mereka menunggu di mobil yang diparkir di balik semak jati, lampu padam, mesin mati, lensa kamera kecil Zhafir tersembunyi di dua tiang gerbang. Alang-alang berdesir. Danurwenda tertidur di kursi belakang dengan kepala miring. Hanif duduk di bangku depan, surat ayah mereka terlipat di pangkuannya.

Udara malam di antara pohon jati terasa lembap dan berbau tanah yang baru disiram hujan. Jangkrik bersahutan dari semak, dan kadang-kadang terdengar suara burung hantu di kejauhan. Zhafir menyiapkan termos teh di bangku belakang, membagi tiga gelas plastik tanpa suara. Rifky memegang gelasnya tapi tidak meminumnya. Hanif menyandarkan kepala ke kaca jendela, matanya setengah terpejam, menghitung detik sampai sesuatu terjadi, atau sampai tidak ada yang terjadi sama sekali, dan ia tidak tahu mana yang lebih ia takuti. Di luar, kunang-kunang melayang pelan di antara alang-alang, titik cahaya kecil yang entah kenapa membuatnya teringat pada lampu tidur di kamar masa kecilnya. Ia hampir tersenyum, tapi senyum itu menghilang sebelum sempat sampai ke bibir, digantikan perasaan yang sulit ia beri nama.

Dua jam lewat. Tidak ada kendaraan. Tidak ada langkah kaki.

"Mungkin dia menunggu gelap," bisik Zhafir dari belakang.

"Atau tahu kita ada di sini," kata Rifky.

Hanif membuka lipatan surat itu lagi di bawah cahaya ponsel yang diredupkan. Matanya menyusuri baris terakhir. Pisau itu harus dikembalikan ke tempat apinya menyala.

"Bang," katanya akhirnya. "Kita harus melakukannya malam ini."

Rifky menoleh. "Apa?"

"Mengembalikan pisaunya. Ke tanah ini. Dua belas Maret, pukul dua lewat tiga belas." Hanif menunjuk gerbang. "Kita sudah di sini. Waktunya tinggal enam jam."

"Kita belum tahu caranya."

"Ayah bilang mungkin tanah ini akan menerimanya. Mungkin." Hanif menatapnya. "Kalau kita menunggu, Danurwenda berikutnya akan mati. Lalu siapa lagi. Dan darahku sudah ditulis."

"Bukan darahmu saja. Darahku juga."

"Dan karena itu aku yang akan melakukannya."

Rifky mengerjap. "Kamu apa?"

"Aku yang akan menanam pisau itu. Aku yang melihat mereka, Bang. Mereka percaya padaku."

"Tidak."

Kata itu keluar begitu cepat dan keras sampai Zhafir terlonjak. Rifky mencondongkan badan, suaranya turun menjadi geraman.

"Tidak, Nif. Aku yang akan melakukannya. Kamu duduk di mobil."

Hanif tertawa pendek, tanpa humor. "Lagi-lagi."

"Apa?"

"Duduk di mobil. Di belakang. Tunggu di sini." Hanif melipat surat itu dengan gerakan marah. "Dua hari ini Abang selalu menaruhku di belakang. Aku sudah dua puluh enam tahun, Bang."

"Kemarin malam kamu berjalan dalam tidur dan hampir merebut kunci pisau itu dari leherku!"

"Itu bukan salahku!"

"Aku tidak bilang itu salahmu. Aku bilang aku takut!" Suara Rifky pecah, dan hening mendadak jatuh di dalam mobil. Zhafir memegang pegangan pintu, tidak berani bernapas.

Rifky melanjutkan, lebih pelan tapi lebih menyakitkan. "Aku sudah kehilangan Ayah. Aku tidak akan kehilangan kamu."

Hanif menatap kakaknya lama. Wajahnya berubah. Bukan marah, tapi sesuatu yang lebih dalam dan lebih pedih.

"Sembilan tahun," katanya lirih. "Sembilan tahun Abang tidak pernah bertanya apa yang kulihat. Yang Abang tanya cuma, 'Sudah makan belum?' 'Tidur yang cukup ya?' 'Jangan begadang.'"

"Karena aku tidak tahu harus tanya apa!"

"Karena Abang takut mendengar jawabannya." Hanif menarik napas gemetar. "Dan sekarang Abang mau menentukan juga bagaimana aku boleh mati atau tidak."

Lihat selengkapnya