RIFKY dan HANIF #1 — BLOOD COVENANT

Bobby Mahmud
Chapter #19

Bab 17 — Ibu

Zhafir tidak bicara sepanjang perjalanan pulang.

Itu aneh. Biasanya dialah yang paling banyak mengomentari apa pun, dari kualitas jalan sampai teori kebocoran pipa. Malam ini ia hanya menatap jendela mobil, rahangnya kaku, tangan kanannya memutar-mutar kancing jaket tanpa sadar.

Lampu jalan lewat satu per satu di kaca jendela, melemparkan garis-garis kuning pucat ke wajahnya. Hanif, yang duduk di sampingnya, memutuskan tidak mengganggu. Sesekali ia melirik, dan yang ia lihat bukan Zhafir si detektif yang cerewet, melainkan seorang laki-laki yang sedang berjalan sangat hati-hati di atas lantai yang ia tahu rapuh. Rifky mengemudi dalam diam, kedua tangannya mantap di setir, tapi sesekali matanya melirik ke spion untuk memastikan sahabatnya masih di sana. Di perempatan, lampu merah menyala lama sekali. Tak seorang pun berbicara, dan keheningan di dalam mobil itu terasa seperti kain basah yang menutupi mulut mereka bertiga.

Di garasi, setelah Danurwenda dibaringkan di sofa dan pisau itu kembali terkunci di brankas, Zhafir akhirnya berkata, "Aku harus pulang ke rumah ibuku."

Rifky mengangkat kepala. "Sekarang? Hampir jam sepuluh."

"Justru sekarang." Zhafir mengambil kunci mobilnya. "Ada yang harus kupastikan."

"Soal Pak Z?"

Zhafir berhenti di ambang pintu. Ia tidak menoleh. "Aku sudah tahu sejak Danurwenda menyebut nama itu. Sejak kalian membaca surat Ayah kalian." Suaranya datar, nyaris tanpa nada. "Tapi aku harus melihat sendiri."

Rifky berdiri. "Aku ikut."

"Tidak. Kau jaga pisau dan Danurwenda." Zhafir akhirnya menoleh, menatap Hanif. "Tapi aku butuh dia."

Hanif mengerjap. "Aku?"

"Aku butuh seseorang yang bisa melihat, kalau aku tidak sanggup."

Tak ada yang membantah.

Rumah ibu Zhafir berada di kompleks kecil di pinggir kota. Pagarnya rendah, halamannya penuh tanaman pot, dan lampu teras menyala hangat. Seorang perempuan bertubuh mungil dengan kerudung putih membuka pintu bahkan sebelum Zhafir sempat mengetuk, seolah ia sudah menunggu di balik daun pintu.

"Fir," katanya. Suaranya lembut dan gemetar. "Kamu datang."

"Maaf larut, Bu."

"Nggak apa-apa, Nak." Ia memandang Hanif dengan mata ramah. "Ini teman kamu?"

"Hanif, Bu. Teman kerja."

"Masuk, masuk. Ibu buatkan teh."

Mereka duduk di ruang tamu kecil yang dindingnya penuh foto. Zhafir kecil dengan seragam SD, Zhafir remaja dengan medali olimpiade sains, Zhafir wisuda dengan toga di sebelah ayahnya. Pria itu berkacamata, berambut tipis, tersenyum canggung seperti orang yang tak terbiasa difoto.

Hanif memperhatikan foto itu lebih lama dari yang sopan.

"Bu," kata Zhafir setelah ibunya menaruh teh. "Aku mau tanya tentang Ayah."

Perempuan itu terdiam. Jari-jarinya meremas ujung kerudungnya.

"Sudah enam tahun, Fir."

"Aku tahu. Tapi aku harus tahu. Nama lengkap Ayah. Dan apa yang Ayah lakukan di bulan-bulan sebelum meninggal."

Hening panjang. Jam dinding berdetak di sudut ruangan.

"Zulfikar Arkana," bisik ibunya akhirnya. "Kamu tahu itu."

"Bukan nama itu, Bu. Z. Orang yang dulu dipanggil 'Pak Z'."

Wajah perempuan itu pucat seperti kertas. Ia menatap anaknya, lalu menatap Hanif, lalu menutup mulut dengan telapak tangan.

Lihat selengkapnya