RIFKY dan HANIF #1 — BLOOD COVENANT

Bobby Mahmud
Chapter #20

Bab 18 — Gentar

Rifky tiba dua puluh menit kemudian, dengan Danurwenda di kursi depan dan tas alat terkunci di pangkuannya.

Ibu Zhafir membukakan pintu sebelum bel berbunyi. Ia menatap kedua laki-laki baru itu, mengangguk singkat, lalu mundur memberi jalan tanpa bertanya. Barangkali ia sudah kelelahan dengan pertanyaan.

Rumah itu hangat dan berbau kayu manis. Di ruang tamu, deretan tanaman pot di dekat jendela tampak terawat. Ibu Zhafir menawarkan teh hangat dengan senyum gemetar. Di dinding dekat dapur tergantung foto pernikahannya, dan di bawahnya selembar kaligrafi kecil bertuliskan nama keluarga. Hanif menangkap betapa rumah itu dirawat seperti seseorang merawat ingatan: setiap benda ada di tempatnya, tak satu pun dipindahkan sejak enam tahun lalu. Hanif menerimanya dengan kedua tangan, dan perempuan itu menatap tangannya agak lama, seperti sedang mencari sesuatu yang ingin ia kenali.

"Kita sapu seluruh rumah," kata Rifky begitu masuk. "Setiap ruangan. Setiap cermin, setiap ventilasi, setiap stopkontak."

Zhafir mengangguk. Wajahnya pucat, tapi tangannya sudah kembali memegang alat. Pemindai sinyal berwarna hijau menyala di genggamannya, dan ia berjalan dari ruang ke ruang seperti sedang menyapu ladang ranjau.

Mereka menemukan tiga perangkat.

Yang pertama, modul kecil di balik bingkai cermin oval di ruang kerja ayahnya. Yang kedua, pengeras suara tipis yang ditanam di dalam lampu tidur kamar Zhafir. Dan yang ketiga, paling menyakitkan, sebuah kotak hitam sebesar korek api yang tersembunyi di balik foto wisuda Zhafir di ruang tamu.

"Yang ini dipasang baru," kata Zhafir datar, memutarnya dengan pinset. "Debunya tipis. Mungkin seminggu."

"Berarti pembunuh itu sudah ke sini, sebelum kita," kata Rifky.

"Atau ibuku membukakan pintu untuk orang yang salah." Zhafir menoleh pada ibunya yang berdiri di ambang. "Bu. Beberapa minggu terakhir, ada teknisi?"

Wajah perempuan itu berubah. "Ada. Dua minggu lalu. Katanya dari perusahaan listrik, untuk periksa meteran. Perempuan, pakai topi dan masker. Ibu pikir..." Ia menutup mulutnya dengan tangan. "Ya Allah. Ibu yang membukakan pintu."

Hanif dan Rifky bertukar pandang. Jangan percaya siapa pun yang membukakan pintu untukmu. Kalimat Arsendra kini terdengar seperti kutukan yang menyindir semua orang baik.

"Tidak apa-apa, Bu," kata Zhafir cepat, memeluk bahu ibunya. "Bukan salah Ibu. Mereka memang pandai menyamar."

Tapi suaranya bergetar di akhir kalimat. Ia membuka tangan ibunya dan menggenggamnya sebentar, lalu melepaskannya dan menatap lantai. Hanif melihat bahunya turun sedikit, seperti orang yang sedang menahan sesuatu yang terlalu berat untuk dipegang di depan ibunya.

Rifky mengambil alih, seperti biasa, tanpa banyak bicara. Ia mengecek jendela, memeriksa kunci pintu depan dan belakang, memotret setiap perangkat sebelum dicabut, lalu membungkusnya dalam kantong terpisah. "Bukti," katanya singkat, dan Zhafir mengangguk, tak punya tenaga untuk berdebat soal prosedur.

Rifky mengatur segalanya dengan cepat. Ia sempat menelepon seseorang di luar rumah, dan Hanif mendengar potongan percakapannya: "...dua orang, berjaga di ujung gang, tidak perlu dekat..." Hanif tidak bertanya. Rifky punya beberapa kenalan lama dari masa ia berlatih bela diri, orang-orang yang tidak perlu penjelasan panjang. Danurwenda dan Ibu Zhafir dipindahkan ke rumah Pak RT, sepasang suami-istri tua yang dikenal ibu Zhafir selama dua puluh tahun. Rifky sendiri yang mengantar mereka sampai ke ruang tamu, memastikan jendela dan pintu terkunci dari dalam, lalu memberi nomor ponselnya pada Pak RT. "Kalau ada yang ketuk pintu setelah jam sebelas, jangan buka. Telepon saya."

Ketika ia kembali ke rumah Zhafir, pukul sudah menunjukkan 00.42.

Di ruang kerja, Zhafir duduk di lantai dengan punggung bersandar pada kaki meja, memegang jam saku ayahnya dengan dua tangan. Hanif duduk di seberangnya, diam, menemaninya.

"Ia berdetak lagi," kata Zhafir tanpa menoleh. "Aku sudah menutupnya dengan kain. Tapi tetap terdengar."

"Aku mendengarnya juga," jawab Hanif pelan.

"Bagus. Berarti aku belum gila."

Zhafir tertawa kecil, kering. "Baik? Rifky, seumur hidupku aku berpikir ayahku meninggal karena jantung. Enam tahun aku memasang tembok di kepalaku: tidak ada yang tidak bisa dijelaskan. Semua ada penyebabnya. Semua ada datanya." Ia mengangkat jam saku itu. "Dan sekarang jam ini berdetak setelah enam tahun mati, di jam yang sama dengan kematian ayahku, di jam yang sama dengan kematian Arsendra, di jam yang sama dengan kebakaran. Aku bahkan tidak bisa menjelaskan kenapa aku tidak bisa menjelaskannya."

Lihat selengkapnya