PERINGATAN:
Cerita ini termasuk ke dalam kategori anachronistic period drama yang mengambil ambience dari keraton tapi secara sejarah tidak akurat atau tidak pernah ada. Harap dibaca menggunakan logika fiksi di dalam cerita tanpa menyangkut-pautkan dengan tokoh-tokoh sejarah asli.
Mohon maaf jika ada banyak kesalahan dari segi kepenulisan. Terima kasih.
⊱༻𖥸༺⊰
Ludira menyaksikan bunga Wijaya Kusuma mekar pada tengah malam, dipetiknya sebelum fajar. Sang Ratu Malam memihak gadis kecil tersebut, para prajurit yang berbaris menabuh gamelan mengiringi derap kaki kuda yang membawa kereta kencana keluarga kerajaan.
Sang ayah menuai panen melimpah dari festival di alun-alun kota. Kerajinan gerabah tanah liat buatannya digandrungi para rakyat yang berhamburan di pasar malam, menanti kemunculan Sang Pangeran Kecil.
Usai dagangan sang ayah ludes, Ludira mendesak untuk berada lebih dekat di alun-alun. Dia pula yang bersikeras ingin ikut ke ibu kota.