Istana Kaputrian dikelilingi senyap, tawa beserta langkah kaki tertimbun di bawah lantai batu hitam yang mengkilap. Aroma dupa bercampur kelopak bunga melati menyentuh penciuman Ludira pertama kali dia sampai.
Gemercik lembut air dari kolam teratai sekilas menenangkan batin perempuan yang baru beranjak masa awal dewasa itu.
Wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi berjalan anggun menghampiri Ludira, wanita itu—Nyai Lurah—menyambut Ludira melalui tatapan yang menilai dari atas kepala sampai bawah kaki.
Ludira dikirim oleh orang tuanya ke Keraton Lelatu, atas keinginan dia sendiri. Pengabdian selama bertahun-tahun kepada Pangeran Kanigara kini berbuah di dalam genggaman tangannya—sang cinta pertama telah menjadi Sultan Kanigara Pradipa IV. Ludira masih terbawa angan-angan; dia bisa berada di sini.
Bekerja untuk keluarga kerajaan tidak selalu mengejar upah tinggi, melainkan berkah dan kehormatan selepas melayani keluarga Kerajaan Dahana yang diperoleh. Derajat keluarga ikut naik di mata orang-orang di kampung dari setiap gerak jemari Ludira merangkai bunga, mempersembahkan sesaji di setiap sudut tempat sakral istana nanti.
Sebagai kanca sekar.
"Kau tidak mungkin melayani Yang Agung dengan rambut berantakan seperti ini," cerca Nyai Lurah, suaranya mengalun tegas. ". . . dan kaki yang kotor."
Setiap pelayan istana tidak boleh memakai alas kaki saat berada di sekitar istana, aturan itu membuat Ludira tanpa sengaja meninggalkan jejak tanah dari sepasang kakinya pada lantai yang sekarang kotor. "M, Maafkan saya."
Dia buru-buru menundukan kepala dalam-dalam.
Nyai Lurah memerintahkan pelayan istana yang seumuran dengan Ludira untuk membantunya melakukan pembersihan diri.
Para pelayan muda istana yang berkumpul tampak terkejut saat pertama kali melihat Ludira. Surai yang berantakan, kaki yang kotor—semua itu bagai kerikil yang membungkus intan; paras si calon kanca sekar baru.
"Bawa gadis ini ke sendang," titah Nyai Lurah.