Deru riak air ulah jemari seseorang membelokan langkah sultan menuju kolam teratai.
Para pelayan wanita muda berhenti mengipasi sang sultan di belakang saat dirinya berhenti di balik pilar ukir. Mereka menurunkan kepala dalam-dalam.
Calon tunangannya; Mustika—sedang duduk dengan anggun di atas tepian batu kolam. Sebelah tangan memegang batang bunga teratai yang sudah dipetik, tangan yang bermain di dalam kolam mengguyur tetesan air ke atas kelopak bunga teratai.
Daun-daun teratai berwarna hijau tua mengambang di bawah sengatan matahari.
Mustika memutar secara perlahan bunga teratai yang dibasahinya.
"Kelopak bunga teratai ini akan menutup saat senja lalu mekar kembali saat fajar. Seiring malam tangkai bunganya seolah tunduk pada kegelapan di dalam air."
Wirya, ajudan pribadi yang disuruh oleh sultan untuk menemani Mustika berdiri cukup dekat dengan posisi duduk wanita yang dikawalnya. Aturan para pria yang tidak boleh terlihat berada di Kaputrian itu melonggar setelah Kanigara memerintah, dulu hanya sang sultan sendiri yang boleh berada di Istana Para Putri ini.
Larangan keberadaan pria di Istana Para Putri jika masih berlaku; sudah pasti Wirya sekarang langsung dijatuhi hukuman berat. Terlebih lagi dia berada di dekat calon tunangan sultan.
"Tapi bunganya tetap mekar saat berada di tengah lumpur sekalipun."
Wirya merupakan seorang lelaki berwajah imut. Dia terlihat berbeda jauh jika dibandingkan dengan Kanigara yang lebih maskulin.
Dari tatapannya; Wirya sangat memuja keanggunan Mustika. Gusti Kanjeng Mustika Swara, putri terbaik kepunyaan sang ayah. Berbeda dengan kakak perempuannya yang pernah mengguncang satu kerajaan dulu karena kasus penculikan—Mustika lebih penurut, serta tahu cara menjaga reputasinya tetap suci.
Kasus penculikan sang kakak itu terselesaikan berkat campur tangan Mustika. Orang-orang di luar keluarga Swara masih menyebar bisik; kakak Mustika tidak diculik melainkan ingin kawin lari bersama seorang pria yang secara status sosial lebih rendah darinya. Keluarga Swara meskipun bukan berasal dari keluarga inti kerajaan, mereka termasuk ke dalam golongan keluarga bangsawan tinggi di kerajaan.
Mustika memastikan bahwa sang kakak adalah korban dari kasus penculikan tersebut, pelaku tidak dihukum mati karena sang pelaku bersedia mengakui segala kesalahannya—yang masih menjadi perdebatan di kalangan orang-orang.
Sejak kasus itu, Mustika mengambil jalan yang jauh lebih tenang. Dia tidak terlibat dengan pria manapun—dan para sepuh; bangsawan senior di kerajaan menilai itu sebagai salah satu strategi ayah Mustika untuk mempersiapkan putrinya menjadi calon permaisuri yang agung dan suci.
Mustika adalah angsa yang mampu menjaga bulunya tidak kotor sebagai kehormatan keluarga Swara.
Kehormatan ayahnya.
Kehormatan dirinya.
Tapi tidak berlaku untuk kehormatan batinnya.
Cara dia menuai senyum, membalas tatapan, dan berbicara dengan Wirya. Sangat terlihat dia begitu ingin merasakan sentuhan lelaki yang didambakannya.
"Gusti Mustika," sapa sultan, berjalan mendekati kolam teratai.
Melihat kehadiran sultan, Wirya dengan cepat menunduk hormat dan melangkah menjauhi wanita yang dipujanya. Karena Mustika milik sultan.
Sampai kapanpun Mustika tidak akan memilihnya. Permaisuri adalah tempat yang tepat untuk wanita itu. Bukan di sisinya, menjadi tercela karenanya.
Mustika menurunkan sudut matanya, sebelum menutupi rasa terganggu dengan mudah menggunakan senyumnya yang tidak mencapai mata melainkan cukup berakhir di lengkungan bibir yang tidak ditarik berlebihan.
Dia selalu menjaga sopan santun di hadapan sang sultan.
Mustika menyatukan kedua tangan di depan wajah, setelah menaruh bunga teratai di atas batu tepian kolam di sebelahnya. Tatapan bergerak turun, mengikuti tubuh rampingnya yang perlahan merendah hingga selutut sang sultan.
"Yang Agung."
Sultan melepaskan kacamata, mengangkat sebelah telapak tangan untuk menyuruh Mustika berhenti merunduk di depannya.
"Aku hanya menyapa, sembari berjalan-jalan sebentar. Lanjutkan saja pembicaraan kalian," katanya dengan ramah. Memasang senyum pada Wirya yang ingin berlutut di depannya.
Wirya tetap menunduk, tidak berbicara. Mustika mengangkat tubuhnya.