Tari Rekta dipersembahkan sebagai bagian ritual adat Kamardikaning Nala. Tubuh keempat perempuan terpilih di atas plataran istana yang sudah berpuasa bicara dan makan sebelum hari pertunjukkan—terbawa hanyut arus pukulan redam gamelan yang bersahut-sahutan dengan rintihan penuh pengkhayatan dari sang penyinden.
"Siapa wanita pesinden itu?" tanya Ludira penasaran. Dia duduk memeluk kedua lutut, menaruh dagu di atas lutut—bersama para kanca sekar lain di dekat pintu gerbang belakang.
Tugas mereka mempersiapkan sesaji sudah selesai.
Tarni menampar pelan kaki Ludira. "Lipat kakimu ke dalam!"
Setengah hati Ludira mengarahkan kaki kanan ke belakang diikuti kaki kiri sebagai penopang tubuh.
Pariyah tergelak kecil. Ludira memang sering dimarahi oleh kanca sekar lain baik yang sudah senior maupun sesama kanca sekar baru karena masih sering kelepasan membawa kebiasaannya di kampung ke area istana.
"Hati-hati menyebut 'wanita pesinden' itu, dia calon tunangannya Yang Agung," Pariyah mewanti-wanti.
'Jadi dia...'
Ludira mengalihkan tatapan dari sosok Gusti Mustika yang terlihat sangat percaya diri pada kemampuan menyindennya. Tatapan Ludira sekarang tertancap pada burung rawa yang digenggam oleh para penari.
Dia sudah pernah mendengar soal 'wanita calon tunangan Sultan Kanigara'; hanya saja dia belum melihat sendiri bagaimana sosoknya. Setya hanya menggambarkan Gusti Mustika sebagai wanita pemilik kepribadian yang sangat bersebrangan dengan Sultan Kanigara. Menurutnya, kedua orang itu tidak terlihat begitu cocok saat bersama.
Burung rawa pun dilepaskan begitu mencapai pertengahan ritual pelepasan jiwa. Menyambut masa kesuburan kerajaan di mana ini merupakan awal bulan penyucian; semua energi negatif ditampung dan dilepaskan oleh ke-empat elemen air, api, tanah, udara yang menerbangkan jiwa mereka pada setiap kepakan sayap burung rawa.
Suara menyerupai siulan dari burung-burung yang terbang membangkitkan lantunan penyambut dari Setya. Suaranya terasah alun, seakan berdiri di sepanjang lengan mencapai pundak Ludira sendiri.
Bunga melati asli menyirat mengelilingi sanggul besar, sulaman benang emas di kemben yang melilit tubuh tegap, sinjang batik menjaga paha tetap rapat; semua perpaduan itu membuat Gusti Mustika terlihat seperti permata yang berkilau memantulkan merah padma.
Prianya Gusti Mustika, Sultan Kanigara duduk di tengah damar kencana didampingi ibu suri. Sikepan ageng memeluk tubuhnya, membuat dia terlihat semakin gagah dari jarak sini dipandang Ludira.
Dia semakin tidak sabar menyentuh hari di mana ibu suri memercayainya mulai merangkai bunga untuk putranya.
Itu saja sudah membuat Ludira menyembunyikan dagu dan bibirnya di balik telapak tangan.
Biarpun dia hanya bisa seumur hidup mengagumi sang sultan dalam keterasingan, Setya menyemangatinya. Dari jauh pemain gamelan itu tersenyum padanya, rahasia di antara mereka bisa terdengar bahkan dalam diam.