Anak panah dilepaskan. Di halaman Kamandungan Keraton, Sultan Kanigara menyaksikan pertandingan panahan didampingi oleh Patih beserta jajaran menteri di bawahnya dan para penasihat spiritual yang bertugas menganalisis para pemanah dari segi batin serta unjuk kerja.
Sultan memegang kamera Voigtländer Bessa; untuk memotret Wirya sebagai salah satu peserta yang anak panahnya mengenai kepala merah target sampai lonceng di atas kepala target berdenting disusul pukulan gong dari pengawas.
"Seperti yang diharapkan dari ajudan pribadi Sultan," gumam salah satu penasihat spiritual dengan kagum. Wirya mencetak skor tertinggi saat baru memulai pada ronde pertama.
"Pundaknya tidak terlihat tegang, dia mengatur napasnya dengan tenang dan tarikan busurnya tidak terlihat terburu-buru. Pengendalian emosinya sangat baik," papar penasihat lain.
Juru tulis mencatat skor yang diraih oleh semua pemanah. Menteri yang mengurus hubungan diplomatik Kerajaan Dahana dengan kerajaan lain tertarik akan pengendalian emosi Wirya yang terukur, mengancang-ancang ingin berbisik pada Patih; Wirya cocok menjadi Utusan Agung yang dikirim ke luar kerajaan andai saja jika kedekatan ajudan pribadi Sultan tersebut dengan calon permaisuri tidak menjadi isu buram di dalam istana.
Patih yang tengah menilai dengan serius didekati oleh komandan. Komandan berbisik di samping kepala Patih.
Kerutan di antara alis Patih muncul. Dia segera membisikan sesuatu kepada Kanigara yang membuat sultan merenggangkan pahanya lebar-lebar.
Dia berdengkus remeh.
Hampir kata-kata lolos dari bibirnya namun sepasang mata sudah membidik sosok yang memberikan salam hormat setelah berjalan masuk ke halaman melalui tangkupan telapak tangan di depan wajah—kepadanya.
Seorang peserta yang baru ingin bergabung pada ronde kedua.
Setya Kuncoro.
Wiyogo itu membawa empat busur panah sendiri.
Sultan mengangkat kepala tinggi-tinggi, melemparkan suara tawanya yang membahana ke seluruh Kemandungan Keraton. Gelak histerisnya menggores keras lubang telinga Patih. Lagi-lagi Patih tidak mengerti cara Yang Agung dalam bekerja. Sultan memakai kemeja longgar yang tidak mencerminkan kedudukan sebagai seorang sultan, membawa kamera, sekarang menertawakan si Wiyogo.
Para menteri terpaksa menahan tawa mereka, tergiur mendengar suara tawa sultan. Seorang wiyogo membawa anak panah itu merupakan pemandangan langka di istana.
Sultan menurunkan gelak tawanya, mengalahkan siasat menggelitik untuk dikawal oleh wajah ramahnya.
"Seorang anak selir yang ibunya terbunuh oleh anak panah, datang terlambat dan mengatakan ingin mengikuti pertandingan... panahan?" gurau sultan. Suaranya lantang menyebut "anak selir" yang ditujukan pada Setya.
Setya menggenggam kuat anak panahnya. Sultan yang mengolok-olok kematian ibunya; mantan selir ayah sultan yang dibinasakan oleh selir lain adalah hal biasa di antara keduanya. Semua orang menusuk ke satu arah, dirinya. Sultan di mata orang-orang adalah sosok penguasa yang suka bercanda, ramah, dan blak-blakan. Mereka terpedaya pada sosok luarnya; senyumnya dan penampilan santainya—sampai titik di mana jika sultan mengotori tangannya dengan darah milik orang lain, semua pendukungnya yang kuat di istana termasuk rakyat akan ikut melumuri tangan mereka sendiri dengan darah.
Mereka tidak ingin memahami perasaan seorang anak kecil di dalam diri Setya yang bersembunyi di balik tebasan gamelan, tembang kerinduan pada sosok ibu, atau tempat tinggalnya di luar istana. Semenjak kematian ibunya, status Setya sebagai anak selir diubah serendah mungkin oleh ibu suri. Dia tidak boleh tinggal di dalam istana, dia hanya boleh bekerja di posisi yang tidak terlalu menonjol di istana.
Semua demi melindungi perasaan Kanigara sebagai putra satu-satunya sultan yang sah dari permaisuri.
"Saya tidak berada di sini karena ibu saya, saya di sini untuk menemani teman saya. Dia yang berhasil membujuk supaya saya mau datang ke sini." Setya menarik simpul senyumnya. Satu tangan terangkat mengarah ke belakang, di mana Ludira sejak tadi duduk bersimpuh sebagai pemanah.
"Yang Agung sering berada di Kaputrian, wilayah kembang paling harum di istana. Teman saya adalah salah satu bagian dari Kaputrian, sehingga kehadiran saya di sini hendaknya tidak menyinggung perasaan Yang Agung karena saya melakukannya atas dasar mendukung suasana hati baik Yang Agung seperti yang lainnya."