Di depan emperan bangsal hunian kanca sekar, Ludira menyisir surai Kasih yang tergerai.
"Aww! Lakukan pelan-pelan!" tegur Kasih memakai suara keras.
Ludira bergumam "maaf". Memelankan gerakkannya.
Kanca sekar lain yang sama-sama bersantai menekan cekikikan. "Lebih dulu melangkah daripada berpikir," cela Tarni tajam pada Ludira. "Kau sudah diajari unggah-ungguh di istana berkali-kali masih saja keliru."
"Nyai Lurah sampai mengeluh padaku kalau dia ini orang paling bebal yang pernah dihadapinya," timpal Kasih, dengan kasar ditariknya pergelangan tangan Ludira. "Seperti ini, coba sisir pelan-pelan!"
Dinaik-turunkannya secara paksa tangan Ludira yang menggenggam sisir.
"Nggateli Mas Setya saja bisamu!" bentak Kasih, menepis jauh tangan Ludira yang masih terasa terlalu kasar menyisir rambut—menurutnya.
Kasih memutar tubuhnya ke belakang. Perempuan itu terlihat sangat kesal melihat Ludira yang hanya bisa menundukkan kepala.
"Aku, tidak ada yang salah dengan,—"
Ludira tahu aturan bisu di Kaputrian. Suara sekecil apapun bisa terdengar menghina Area Para Putri. Tapi, dia sudah berusaha menyisir sepelan mungkin tanpa menyakiti kulit kepala atau menarik kepala Kasih terlalu keras.
"Kasihan Mas Setya," celetuk Dariyah. "Padahal dia itu termasuk pangeran tapi karena ibunya seorang selir... dia jadi diasingkan di istana ini."
Ludira melihat raut Kasih melunak dengan cepat saat kisah sedih Setya terdengar. Seperti biasa, membicarakan Setya selalu terasa harum di bibir mereka.
Mereka lantas tidak lagi mempedulikan Ludira.
"Jangan keras-keras membicarakan ibunya! Kita bisa dihukum kalau sampai ketahuan Ibu Suri."
"Katanya selir yang membunuh ibunya Mas Setya itu selir yang paling setia kepada Ibu Suri."
"Ibu Suri", "Mas Setya", "Selir". Para kanca sekar terus menyusuri tiga kata tersebut.
'Mas Setya...'
Ludira pun ikut memikirkan Setya. Gambaran wajah Setya terakhir kali menghujaminya seperti bintang jatuh—dia masih berharap Setya tidak marah padanya. Dia menggulung diri dalam perasaan bersalah yang menghanyutkannya ini.
Sama seperti Setya, Ludira menganggap si wiyogo sudah seperti kakak laki-lakinya. Di kampung, dia yang sering menyuapi adik-adiknya makan, memandikan, menemani mereka bermain. Bersama Setya dia merasa terbebas sejenak dari tugasnya sebagai seorang anak sulung yang terkadang juga haus pengasuhan dari orang-orang dewasa di sekelilingnya.