Gemuruh berantai dari teriakan kapten kapal, tiupan peluit kelasi kepala yang melengking—jangkar besi seberat ratusan kilogram dibanting keras dari haluan kapal. Cipratan air laut terguncang sampai setinggi tiang kapal.
Rantai besi terseret turun, kepulan debu memeluk penglihatan disaat jangkar sudah menggenggam erat lumpur dasar laut.
Kapal armada perang itu perlahan mendarat setelah berlayar lama mengancam lautan. Moncong-moncong meriam yang masih terpejam diam mengarah langsung pada daratan keraton.
Dari ketinggian geladak belakang, bendera Gouden berwarna biru-putih-merah berkibar di belakang sosok serupa Fosite dengan badan tinggi menjulang di atas rata-rata.
Topi besar berbulu angsanya dilepas. Helai pirang putih pucat terombang-ambing diserbu angin laut. Mata biru abu-abu terangnya menatap lurus ke daratan.
Satu tangan menyentuh kerah cravat, merasa gerah.
Hentakan sepatu cepat yang naik ke atas geladak belakang lalu berhenti di belakangnya membuat dia menoleh.
Sang saudagar muda yang memiliki keahlian menerjemahkan bahasa melepaskan topi, membungkuk dalam-dalam kepadanya.
"Tuan Besar, utusan agung dari sultan keraton dikirim untuk menemui Anda."
Harmen menepuk kecil pinggiran lebar topi, memasang benda itu ke atas kepala kembali.
Dia menarik pedang anggar dari pinggangnya.
"Suruh utusan itu naik," titahnya menggunakan suara yang rendah namun tetap terdengar tegas.
Ombak yang tenang tapi perlahan naik ke permukaan terasa seperti melumuri suaranya.
Saudagar muda melangkah mundur, menegakkan tubuh diakhiri memasang topi.
Senyap yang tajam seperti gigi pedang Laksamana Putih menunggu untuk dipecahkan.
⊱༻𖥸༺⊰
Di malam hari setelah mengirim utusan agung menemui Laksamana Putih, Sultan Kanigara baru ingin berjalan meninggalkan Kaputrian setelah berdiskusi dengan Ibu Suri—kalau saja dia tidak sengaja melihat seorang perempuan berjalan pulang menuju Kaputrian. Perempuan itu sepertinya salah satu kanca sekar karena dia membawa wadah bunga yang dipeluk di perut.
Perempuan itu hanya seorang diri tanpa ditemani kanca sekar yang lain.
Pas sekali.
Dia sedang membutuhkan belaian tangan lembut serta pelukan hangat dari perempuan. Dia hanya perlu melemparkan beberapa rayuan manis untuk mendapatkan kanca sekar ini.
Kanigara menunggu sampai langkah sayup kanca sekar itu terang mendekatinya.
Namun, ketika perempuan itu mengangkat kepala memperlihatkan wajahnya—sang Sultan mendesah kecewa. Kanca sekar yang diincarnya ternyata si perayu anak selir.
Bahu Ludira yang terbuka mengkilap kemerahan, sanggulnya sudah melonggar sehingga anak rambut melekat di sekitar kening yang basah. Dia terlihat kuyu dan berkeringat hebat.
Kanigara menelan ludahnya, dia tidak pernah secara seksama memperhatikan kanca sekar yang satu ini. Bahkan keberadaannya saja baru dia ketahui saat Setya memperkenalkan secara terbuka perempuan itu di pertandingan panahan.
Dia pun hampir lupa pernah memotret perempuan itu menggunakan kameranya.
Pupil mata jernih si kanca sekar membesar saat menyadari keberadaannya.
"Yang Agung!" Ludira dengan cepat menurunkan pandangan, berjongkok dan menyatukan kedua tangan. Wadah bunganya yang kosong meloncat ke arah samping—Kanigara menatap dengan geli benda itu.
"Kau sepertinya pulang lebih dulu dari kanca sekar lain; apa kau sedang sakit?" Kanigara bergumam lembut, "berdirilah, kau akan sangat tersiksa kalau tubuhmu sedang tidak sehat kau buat berjongkok seperti itu."
"Saya memang sedang sakit, tapi aturannya saya tidak boleh menunjukkan kondisi tubuh saya yang sedang lemah kepada Yang Agung," kelit Ludira.
Andai Setya ada di sini, Kanigara ingin sekali melihat bagaimana ekspresi anak selir itu melihat "teman"nya begitu patuh pada aturan keraton dan dirinya.
"Berdirilah, Nona."
Pandangan Ludira masih tertahan di bawah, tapi tubuhnya yang panas itu tersanjung ke atas. Kedua tangan saling menggenggam di depan.
Telapak tangan Sultan mengarah ke wadah bunga yang masih tergeletak seperti barang rongsok. "Kau tidak mengambil wadah bunga itu?" tanyanya heran.
"Ah!" Seolah baru teringat, Ludira ingin berjongkok lagi tetapi segera dicegah oleh Sultan yang mendesah keras.
Kanigara melangkah ke arah wadah bunga, dia membungkuk lalu mengambil benda itu. Begitu Ludira mengulurkan kedua tangan ingin menyambut wadah bunga tersebut—Kanigara melemparkannya jauh-jauh.
"Isinya kosong, kau bisa mengambilnya sendiri besok hari," goda Sultan.
Posisi mereka sekarang terjerat jarak yang cukup tipis. Kanigara bisa leluasa melihat dada dililit kemben milik Ludira bergerak naik turun, dadanya polos dan berkeringat.