Rinai Kenya

Dya Dauri
Chapter #9

Bab 9: Melati yang Mekar di Malam Hari | End of Volume 1

Sudut Pandang Ludira.



Aku terbangun dalam kondisi tubuh direbus. Selama tidur, aku terus membolak-balik tubuhku yang berbaring dengan gelisah.

Menahan, menahan sakit—itu yang harus aku lakukan. Hari ini semua kanca sekar merangkai bunga untuk upacara penyambutan seseorang, aku tidak tahu siapa orangnya tapi mereka menyebut orang itu tamu penting sultan.

Dariyah berjalan bersamaku, dia mengajak aku mendoakan sultan dalam hati. Dariyah menanyakan apa aku sudah diperbolehkan oleh ibu suri merangkai bunga untuk diantar ke kamar sultan, aku menjawabnya dengan jujur.

"Belum, kemampuanku masih perlu dilatih lagi." Aku tersenyum seolah itu kata-kata penyemangat untuk diri ini sendiri.

Dariyah mengatakan bahwa dirinya sudah dipercaya merangkai serta mengantar bunga ke kamar pribadi sultan baru beberapa minggu saja menjadi kanca sekar pemula. Dariyah menasehatiku; persetujuan ibu suri adalah bentuk penerimaan yang harus didapatkan oleh semua kanca sekar pemula jika ingin tetap bekerja di istana. Aku, menurutnya kanca sekar pemula paling lama yang tidak diberikan izin untuk datang ke kamar sultan.

Dia menarik mundur alasan kemampuanku yang buruk. Dariyah mendorong alasan baru yang lebih masuk akal; Sultan belum mengakui keberadaanku.

Itu yang aku inginkan. Diakui sebagai seorang perempuan yang melayani sultan. Sekaligus, menyimpan perasaan padanya.

Setya masih tidak mau berbicara padaku. Aku pun belum mengambil hadiah fotoku dari sultan. Terlebih tamu penting yang waktunya sangat mendadak ini menahan urusan Setya atau foto, fokusku seluruhnya pada pekerjaan. Aku bahkan menahan tubuhku agar tidak tumbang.

Tidak ada yang boleh tahu aku sakit menjelang penyambutan tamu penting sultan. Aku bisa mendapat hukuman dari Nyai Lurah yang mengawasi kami dan—sebelum mendapat izin dari ibu suri untuk memperkuat posisiku, aku bisa dengan mudah kehilangan pekerjaan.

Seorang kanca sekar istana yang dikeluarkan secara cuma-cuma; apa kata orang-orang di kampung? Mereka pasti akan mencibir dan mengucilkan keluargaku. Ini adalah posisi kehormatanku sebagai seorang rakyat biasa, aku membayangkan ekspresi senang bercampur harus dari ayah dan ibuku. Pelukan dari adik-adikku yang membuatku sedikit merasa hangat di malam-malam yang jauh dari mereka.

Ayah dan ibuku tidak lagi mencurahkan seluruh perhatian mereka padaku setelah adik-adikku lahir. Ayah tidak pernah lagi mengajak aku ke pasar di dekat alun-alun kota, ibu lebih sering meninggalkan kami karena aku yang mengurus adik-adikku di rumah. Sultan Kanigara, si pangeran kecil adalah kenangan masa kecil yang tidak pernah akan kulupakan. Di mana aku tidak menjadi anak sulung yang menggantikan orang tuaku, tapi seorang gadis yang pernah duduk di atas pundak ayahnya dan bercanda bersama ibunya sembari memasak di rumah.

Senyumku tertahan. Teringat gambar sultan kecil yang kubuat dari arang, masih tersimpan di bawah lincak bambu yang sama. Sosok yang menuntunku ke sini, berada di posisi terhormat sebagai kanca sekar.

Aku tidak mau mengecewakan keluargaku dan mengecewakan diriku di masa kecil.

Namun, malamnya. Aku sungguh tidak kuat lagi. Kembenku basah menyerap keringat yang tak kunjung berhenti, wajahku pucat, dan tubuhku terasa sangat panas.

Untung aku sudah menyelesaikan bagianku. Nyai Lurah yang melihatku tidak dalam kondisi yang sehat dengan cepat menyuruhku kembali ke kamar tidur kanca sekar.

Sebelum benar-benar ambruk aku melangkah keluar membawa wadah bunga yang sudah kosong. Kanca sekar lain melirik ke arahku dengan iri. Walaupun aku sering dimarahi karena masih tidak terbiasa dengan tata-krama istana, jemariku menyelamatkanku. Aku selalu menjadi kanca sekar pertama yang menuntaskan pekerjaan sehingga aku punya banyak waktu bebas untuk belajar menulis dari mendengarkan suara pelayan lain yang sedang berbicara.

Setya juga memberikanku banyak buku untuk dibaca. Dia biasanya memintaku menulis ulang seluruh isi buku itu menggunakan gaya bahasaku, dia akan memeriksanya; menjelaskan bagian mana yang salah dan tetap mendukungku untuk bisa menulis serta membaca.

Lihat selengkapnya