Di sudut ruangan cahaya senthir meneteskan bayangan yang bergerak masuk cepat pada dinding gebyok. Dua bilah kayu pintu kamar tertutup keras tanpa palang pintu yang sempat dipasang dari dalam oleh si penyusup sore ini.
Ayahnya—pulang dari rapat bersama sultan.
"Bocah ingusan itu!"
Mustika yang duduk di meja rias baru saja hendak mengoleskan bedak dingin bercampur perasan air bengkoang ke wajahnya. Dia terpaksa menahan ritual perawatan diri tiap sore itu demi mendengarkan sang ayah mengeluarkan caci maki kepada calon menantu sendiri.
"Ayah, selamat datang," sambut Mustika seolah menyadarkan ayahnya bahwa dia tidak sendirian di dalam kamar tidurnya ini. Kedua tangan disatukan untuk memberikan hormat kepada ayahnya. "Kapan Ayah kembali?"
Ayahnya sekonyong-konyong berlari ke arahnya, mengulurkan kedua tangan dengan histeris. "Oh, Mustika! Mustika!"
"Putriku," menggenggam paksa kedua tangan sang putri, berlutut di hadapan Mustika, "bantu ayahmu, bujuklah Sultan—bocah itu sudah gila! Dia sudah banyak terpengaruh budaya asing! Kau harus menyadarkannya, buat dia kembali ke jati dirinya sebagai Sultan. Kau memiliki kecantikan dan bakat suara mendiang ibumu..."
"Aku," lanjut sang ayah, menepuk-nepuk dada dengan keras, "sangat mencintai ibumu, keluarga kita... hanya kau dan Tyas yang Ayah punya, aku tidak ingin keluarga kita kehilangan apa yang seharusnya milik kita, takhta itu... harus menjadi milik Swara!"
Itu janji abadi ayahnya kepada ibunya sebelum wanita yang pernah menjadi pesinden resmi istana itu meninggal dunia karena terjangkit wabah penyakit paru-paru; membuat penderita sesak napas sebelum tewas dalam waktu singkat. Karena kebijakan egois raja terdahulu—ayah Sultan Kanigara—menghancurkan wilayah tumbuhnya tanaman-tanaman herbal sebagai penawar penyakit wabah demi kekuasaan militer lalu mengisolasi keraton, ibunya tidak terselamatkan.
Ibunya tidak pernah mencintai ayahnya selama pernikahan politik mereka; hati wanita itu selalu teruntuk lelaki lain. Lelaki yang tidak pantas bersama wanita berdarah bangsawan sepertinya, lelaki yang secara derajat berada jauh di bawah ujung helai rambutnya. Tetapi, berbanding terbalik dengan ayahnya—ayahnya sangat mencintai ibunya, dia ingin "menyelamatkan" harga diri dan martabat ibunya. Mengambil suara wanita itu untuk selalu terdengar dalam bahtera pernikahan bersamanya.
Ibunya adalah suara hati yang terus membersamai sang ayah selama mengabdi pada sultan terdahulu.
Kepergian yang terlalu cepat itu meninggalkan duka paling pahit di benak ayahnya. Dia menjadi seorang pria tak terkendali, cinta yang lapuk dan mengering itu terbakar menjadi kehausan akan takhta.