Rinai Kenya

Dya Dauri
Chapter #11

Bab 2: Kegaduhan Ganda

Kereta kuda tertutup beroda empat menyimpan kedua wanita Swara yang duduk saling berhadapan.

Primaningtyas yang sudah lama tidak naik kereta kuda heboh memukul-mukul dinding kabin dalam, meminta kereta kuda dihentikan.

"Hentikan! Hentikan keretanya! Aku ingin muntah!"

Mustika membuka kipas lipat, menggerak-gerakkan kipas agar tidak terlalu pengap.

Sang kakak masih tidak bisa diam sejak separuh perjalanan menuju keraton dilewati. Mustika tidak ingin repot-repot menanggapi kelakuan kakak perempuannya itu, jika Primaningtya ingin ikut—dia harus bertahan di dalam sini sampai dinding tinggi bangunan keraton terlihat.

"Oh, aku akan mati! Aku akan mati di dalam sini!"

Bising ketukan tapal kaki kuda tak-tok-tak-tok bersatu cambukan kusir diikuti ringkikan kuda membuat Primaningtyas reflek berpegangan kuat pada tirai kabin.

"Mengapa keretanya malah semakin cepat?"

Mustika menutup kipas lipat, menaruh ke atas paha. Dia menetap dalam posisi duduk yang tegak dan anggun, ayunan kereta kuda dari atas ke bawah sampai ke kiri ke kanan tidak bisa menghancurkan posisi duduk putri bungsu Ki Hata Swara.

"Supaya kita bisa segera sampai dan tidak terlalu memakan waktu di perjalanan lebih lama lagi."

"Oh itu bagus." Primaningtyas menyilangkan kedua tangan di depan dada, secara mengejutkan tampak lebih tenang saat kereta melaju cepat.

Primaningtyas lalu melotot ke arah sang adik sambil menyipitkan mata. "Kau, apa kau membenciku?" tanyanya curiga.

Mustika tipe orang yang tidak akan melompati satu anak tangga sekalipun hanya untuk bisa turun lebih cepat. Dia sangat teratur tapi diam-diam dalam hati suka menghina orang lain yang dianggapnya berantakan.

Adiknya itu seperti permata yang menyembunyikan retakan halus di dalam diri sekuat mungkin. Mustika bisa terus berjalan memantulkan kilau kaca tanpa pernah terlihat remuk berkeping-keping.

"Kita duduk bersama sekarang," elak Mustika cerdas.

Primaningtyas bersungut-sungut dibuat Mustika.

"Kalau kau tidak suka tunanganmu, batalkan! Tidak, kalian bahkan belum bertunangan. Ayah itu... dia hanya memaksakan semua ini."

Mustika menatap kipas lipat di atas pahanya. "Aku menjadikan seluruh putri priyayi lain menjadi temanku, Sultan seharusnya tidak punya pilihan lain selain menikahiku," ujarnya.

Lihat selengkapnya