Rinai Kenya

Dya Dauri
Chapter #12

Bab 3: Mata

Sesampainya Kanigara di dekat kolam teratai Kaputrian, dia langsung memerintahkan prajurit yang dibawanya untuk melerai perkelahian dua perempuan yang berguling di atas hamparan kelopak bunga untuk upacara penyambutan.

Mustika yang menyusul dari belakang sempoyongan diterkam keterkejutan; menyaksikan salah satu dari dua perempuan itu tak lain dan tak bukan adalah sang kakak sendiri.

"Tyas, kendalikan dirimu!" Mustika menahan bahu kakaknya, membantu para prajurit menjinakkan amukan Primaningtyas yang masih ingin menghajar seorang kanca sekar—kanca sekar itu dibantu duduk oleh beberapa dayang-dayang yang menerima arahan dari Mustika sendiri.

Dia memutar paksa tubuh Primaningtyas menghadapnya. "Lihat aku, apa kau mau aku membencimu karena perilaku tidak terhormat yang kau lakukan di Kaputrian keraton ini?" ancamnya tegas.

"Tapi pelayan hina itu membawa bungkusan kain mori berisi bunga kantil dan kertas bertuliskan mantra-mantra sihir hitam! Dia ingin melakukan pelet di keraton!" tuduh Primaningtyas memberi pembelaan kepada dirinya. "Aku berniat menghentikannya, tapi perempuan sialan itu terus mengelak. Dia tidak mengaku dan malah menyerangku duluan!"

Penggunaan sihir hitam di dalam keraton terutama Area Para Putri saja sudah merupakan pelanggaran terberat yang bisa menempatkan pelaku dalam dua pilihan; diusir atau hukuman mati. Terutama jika niat pelaku melakukan pelet untuk para pejabat tinggi istana atau keluarga kerajaan.

Mustika tidak langsung memercayai tuduhan sang kakak. "Jaga suaramu, kita sedang berada di Kaputrian dan kau kini menghadap Yang Agung. Beri hormatmu, Primaningtyas," suruhnya tanpa memberi napas bagi sang kakak untuk membantah.

Primaningtyas dengan kesal berjalan melewatinya, menurunkan kaki lalu menyatukan kedua tangan di depan Sultan yang mengangkat satu telapak tangan—menyuruhnya untuk menyelesaikan gerakkan salamnya yang kaku dan terlihat konyol.

"Jadi kau kakak perempuannya Gusti Mustika." Sultan menemukan netra sang calon tunangan, Mustika mengangguk. Merangkul tubuh sang kakak, menggiringnya lebih dekat ke hadapan Kanigara.

"Dia jarang keluar rumah karena masih ketakutan setelah kejadian penculikan dulu, mohon maafkan kegaduhan yang telah dibuatnya, Yang Agung."

"Aku mengerti..." Sultan melepaskan lirikannya ke arah kanca sekar yang berupaya menutupi luka goresan bekas cakaran tangan Primaningtyas di salah satu lengannya, sekantong kain mori terbaring di sisi kakinya.

Mustika memberikan sang kakak kepada para prajurit dan dayang-dayangnya yang bersedia mengawal sampai masuk ke kereta kuda di luar gerbang keraton. Primaningtyas pergi dengan langkah kaki yang menghentak keras-keras, dia memiliki temperamen yang sama seperti ayah mereka.

Dia lalu menatap kanca sekar korban penindasan sang kakak dengan iba. "Berdiri di hadapanku, tidak apa-apa," pintanya lembut.

Mustika selalu menghargai semua pelayan yang mengabdi padanya, dia juga sering mengajak mereka berbicara tanpa membuat mereka merasa takut mengeluarkan sedikit suara berada di dekatnya.

Lihat selengkapnya