Rinai Kenya

Dya Dauri
Chapter #13

Bab 4: Noda

Sudut pandang Ludira.



Alih-alih kembali ke kamar atau mencari tabib istana untuk mengobati lukaku, aku menyimpang ke Gedogan di dekat alun-alun belakang. Bau menyengat kotoran kuda mengingatkan pada Mustika yang melepeh keberadaanku.


“Pergilah, obati lukamu.”


Penjaga pos alun-alun belakang memperbolehkanku masuk, mereka percaya saat aku bilang ingin membantu pelayan lain memandikan kuda. Prajurit di depan kandang membukakan pintu, menatapku prihatin. Dia mungkin berpikir betapa rajin aku membantu pelayan lain padahal sedang terluka.


“Ludira!”


Para pelayan yang sedang sibuk di dalam kandang tercengang melihat kehadiranku. Tatapan mereka ragu-ragu tapi juga penasaran tentang luka-luka di tubuhku.


“Apa masih ada sisa air bersih?” tanyaku.


Salah seorang pelayan mengangguk, memukul-mukul pelan sebuah gentong air besar.


Ringkikan kuda menggelitik setiap langkah yang aku ambil, setelah berada cukup dekat dengan gentong—aku mengambil air bersih lalu membasuh luka-luka sampai darah menuruni sepanjang lenganku.


“Apa yang terjadi padamu?” tanya seorang pelayan yang sedang memandikan kuda, khawatir.


Aku membilas tanah yang menempel di rambutku, menggulung lalu meremasnya. Air kotor rambutku bercucuran.


Sejujurnya aku tidak ingin menceritakan aku baru saja berkelahi dengan kakak Gusti Mustika, pertengkaran itu bisa saja merugikan posisiku. Aku mendengar bahwa kain mori yang kutemukan ternyata berisi mantra pelet dan sejenisnya; aku benar-benar tidak tahu apa isinya, aku berniat membuangnya setelah aku membuka kain itu.


“Aku, aku habis diserang oleh seorang wanita yang dibawa oleh Gusti Mustika,” terangku, tidak salah; aku memang diserang—setelah aku menyerang kakak Gusti Mustika duluan, aku melakukannya karena dia merebut kain dariku.


Setelah membersihkan diri, aku berdiri di depan sekat kandang bersama pelayan lain yang tengah memberi makan kuda. Aku membantunya yang dengan senang hati menerima bantuanku.


Lihat selengkapnya