Riana membuka mata dengan berat saat suara ponselnya membangunkannya dari tidur yang sedikit mengusik. Saat melihat nama Jaka di layar, ia menghela napas dan mengangkat telepon.
Mimpi tadi seperti itu sangat menguras tenaga, membuatnya lemas ingin rasanya meminum air gula tapi telepon dari Jaka memang harus segera dijawab.
“Halo, Riana?” suara Jaka terdengar ceria tapi sedikit khawatir. “Aku dengar dari Andin kalau kamu sakit. Aku mau mampir ke kos kamu aja, siapa tahu butuh sesuatu.”
Riana menolak cepat-cepat. “Enggak, aku baik-baik saja, kok. Cuma kecapekan sedikit, sudah yah aku mau istirahat,” jawab Riana datar. “Oke oke,” jawab Jaka yang tidak terlalu diperhatikan oleh Riana.
Setelah menutup telepon, Riana segera bangkit dan memutuskan mandi, berharap rasa lelahnya bisa luruh dengan air dingin. Dia tidak ingin terlalu lama merapikan diri; pikirannya sudah kembali tertuju pada diari tua. Teh manis dibuat untuk menemani penyelidikan diari tua. Ada perasaan besar mendesak yang tak bisa ia abaikan, seolah olah buku itu selalu memanggil-manggilnya untuk menyelami lebih dalam lagi.
Setelah bersiap, Riana kembali ke meja dan membuka diari yang bersampul lusuh itu. Namun baru saja ia tenggelam dalam pekerjaannya suara ketukan di pintu membuatnya terlonjak. Dia tak menduga ada yang datang di malam begini.
Dengan cepat, Riana membuka pintu dan mendapati Jaka berdiri di sana, senyum lebar bercampur raut khawatir di wajahnya.
“Aku udah bilang nggak usah ke sini, kak Jaka,” ucapnya kesal, karena merasa sedikit terganggu.
Jaka mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. “Maaf, Riana. Aku cuma mau memastikan kamu benar-benar baik-baik saja. Tadi aku sibuk.”
Meski ada rasa jengkel, Riana tak bisa mengabaikan tatapan khawatir di mata Jaka. Dengan sedikit enggan, ia menarik napas dalam dan membuka pintu lebih lebar, memberi isyarat untuk mempersilahkannya masuk. Namun, ia sengaja membiarkan pintunya tetap sedikit terbuka, seolah memberi batas halus agar Jaka tak merasa terlalu nyaman untuk tinggal lama.
“Masuk, Kak,” ujar Riana pelan, membuka pintunya lebar-lebar. Meski ragu, ia tak dapat menahan diri. Mengingat pada semua bantuan yang sering diberikan Jaka, ia membiarkan keengganannya tersisih sejenak. Riana jarang sekali membiarkan pria masuk ke kamarnya, namun kali ini ia tahu Jaka adalah pengecualian— pria yang manis di matanya.
Setelah masuk, Jaka melihat ke sekeliling dengan cermat, dan sorot kekhawatiran terpancar dari wajahnya. “Kamu beneran baik-baik saja, Riana? Jangan terlalu memaksa diri kalau kamu butuh istirahat,” katanya dengan nada lembut, tatapan matanya penuh perhatian.
Riana tersenyum samar, menatap Jaka dengan kehangatan yang ia sembunyikan. “Iya, Kak,Cuma kecapekan saja,” balasnya ringan, lalu duduk di tepi ranjang sambil merapikan beberapa buku. Mereka berbincang ringan, tentang pekerjaan, cuaca, dan hal-hal sepele lainnya. Jaka, sesekali, melontarkan pujian-pujian kecil yang membuat Riana tersipu tanpa bisa menahannya. “Kamu itu hebat, tahu. Kalau bukan karena ketelitian dan dedikasi kamu, aku nggak yakin siapa lagi yang bisa ngerjain proyek ini,” ujarnya sambil tersenyum lebar.