Pagi itu udara masih terasa dingin ketika Zahra keluar dari kamar sambil merapikan rambutnya asal. Aroma nasi goreng dari dapur memenuhi rumah kecil mereka yang sederhana.
“Ayo sarapan dulu, nanti telat,” panggil ibunya dari dapur.
“Iya, Bu.”
Zahra segera duduk di lantai ruang tengah yang sekaligus menjadi ruang makan keluarga mereka. Ayahnya sudah lebih dulu duduk sambil menyeruput teh hangat sebelum berangkat kerja.
Rumah mereka memang tidak besar. Dinding kayunya mulai kusam dimakan usia, sementara atap seng di bagian dapur kadang bocor saat hujan deras turun. Namun bagi Zahra, rumah itu selalu terasa hangat.
Ayahnya bekerja serabutan. Kadang membantu orang di kebun, kadang menjadi buruh angkut di pasar kecamatan. Sementara ibunya sesekali membantu tetangga di ladang demi menambah penghasilan.
Meski hidup pas-pasan, kedua orang tuanya selalu berusaha agar Zahra bisa menyelesaikan sekolahnya.
“Sekolah sampai jam berapa hari ini?” tanya ayahnya.
“Kayaknya cepat, Yah. Udah mau libur semester juga.”
Ayahnya mengangguk kecil.
Setelah sarapan selesai, Zahra membantu ibunya membereskan piring sebelum kembali masuk ke kamar mengambil tas sekolahnya.
“Bu…” panggil Zahra pelan.
Ibunya menoleh sambil melipat lap dapur.
“Kenapa?”
Zahra tersenyum kecil.
“Kalau libur semester nanti kita main ke rumah nenek yuk.”
Tangan ibunya mendadak berhenti bergerak.
“Udah lama kan kita nggak jenguk nenek sekeluarga.”
Ibunya menoleh pelan.
“Ibu kan sering jenguk nenek.”
Zahra langsung menggeleng kecil.
“Iya… tapi ibu nggak pernah ngajak aku sama ayah. Ibu selalu pergi sendiri.”
Suasana mendadak hening.
Ayah Zahra yang sejak tadi duduk di ruang tengah ikut menoleh pelan.
Zahra kembali berkata dengan suara lebih kecil.
“Padahal Zahra kangen rumah nenek…”
Ia tersenyum kecil sebelum melanjutkan.
“Kangen Ka Eva, Ka Sinta sama kangen Bibi Dewi juga.”
Ibunya terdiam beberapa saat sebelum kembali melipat lap perlahan.
“Kan dulu sering ketemu.”
Zahra mengangguk kecil.
“Iya… itu waktu Zahra masih kecil.”
Ia menunduk sebentar.
“Paling dulu ketemu Ka Eva waktu masih sekolah. Sama Ka Sinta juga kadang pas pulang sekolah aja. Udah nggak pernah main seharian kayak dulu lagi…”
Senyumnya perlahan memudar.
“Sekarang mereka juga udah pada nikah.”
Suasana kembali hening.
Ibunya menunduk, seolah ada sesuatu yang terasa berat setiap kali nama adiknya disebut.
Zahra sebenarnya sudah lama menyadari perubahan itu.
Dulu rumah nenek selalu ramai bagi mereka.
Ia, Eva, dan Sinta hampir tidak pernah terpisah. Mereka bermain dari siang sampai sore di halaman rumah nenek yang luas. Kadang memanjat pohon mangga, kadang bermain petak umpet sampai dimarahi nenek karena pulang terlalu sore.
Namun semua itu perlahan berubah.
Semakin Zahra besar, keluarganya semakin jarang datang ke rumah nenek.
Kadang ibunya tetap pergi sebentar untuk menjenguk nenek, tetapi hampir tidak pernah mengajak Zahra ikut.
Dan setiap pulang dari sana, wajah ibunya selalu terlihat lebih diam dari biasanya.
Zahra tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi.
Ia hanya mengerti bahwa ada sesuatu yang berubah di antara keluarganya dan keluarga Bibi Dewi.
Sesuatu yang membuat orang-orang dewasa memilih saling menjauh.
“Ayah sama ibu pikirin dulu ya,” kata ayahnya akhirnya memecah hening.
Zahra langsung menoleh cepat.
“Berarti boleh?”
Ayahnya tertawa kecil.
“Belum tentu.”
Zahra langsung mendekat ke ibunya sambil tersenyum manja.
“Lagian Zahra udah lama nggak ngerasain suasana rumah nenek…” rengeknya pelan.
“Ya, Bu… please…”
Ibunya menatap Zahra cukup lama.
Entah kenapa, melihat wajah anaknya yang begitu berharap membuat hatinya terasa tidak enak.
Tiga belas tahun berlalu ternyata cukup lama untuk membuat banyak hal berubah.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu ada rindu yang diam-diam belum benar-benar hilang.
“Ayah sama ibu pikirin dulu,” jawabnya akhirnya pelan.
Meski belum mendapat jawaban pasti, wajah Zahra tetap terlihat senang.
Setidaknya kali ini ibunya tidak langsung menolak.
Suasana dapur kembali hening beberapa saat.
Zahra kembali masuk ke kamar mengambil tas sekolahnya.
Ia lalu menghampiri kedua orang tuanya dan mencium tangan mereka bergantian.
“Aku berangkat sekolah dulu yaa assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan,” jawab ayahnya.
“Iya, jangan ngebut,” tambah ibunya pelan.
Zahra mengangguk cepat sebelum keluar rumah sambil membawa helm.
Udara pagi masih terasa dingin ketika ia mulai mengendarai motornya menuju sekolah.
Namun sepanjang perjalanan, pikirannya tetap kembali pada rumah nenek.
Entah kenapa kali ini ia benar-benar ingin pergi ke sana.
Bukan hanya karena rindu pada neneknya.
Tapi juga karena ia merindukan suasana yang dulu pernah terasa begitu dekat.
Jam pelajaran berlangsung seperti biasa.
Namun saat jam istirahat tiba, Zahra langsung membuka ponselnya diam-diam di bawah meja kelas.
Beberapa chat dari group kecil Eva dan Sinta sudah masuk sejak tadi.
Ka Eva
(Jadi nggak nanti ke rumah nenek pas libur? 👀
Nenek nanyain kamu terus tau)
Zahra tersenyum kecil lalu membalas cepat.
Zahra
(Masih dibujuk 😭)
Tak lama kemudian balasan lain muncul.
Ka Sinta
(Bujuk lagi aja Tante Mira ya Zah 😭)
Ka Eva
(Iyaaa mumpung aku sama Ka Sinta lagi di rumah. Suami aku lagi kerja ke kota beberapa minggu.)
Ka Sinta