Suasana ruang tengah masih terasa canggung setelah Bibi Dewi masuk ke dapur.
Tak ada yang benar-benar bicara beberapa saat.
Hanya suara sendok dari dapur dan suara televisi kecil milik nenek yang terdengar pelan.
Zahra melirik Eva dan Sinta bergantian.
Ka Sinta akhirnya berdehem kecil sambil berdiri perlahan.
“Zah, ikut ke belakang yuk.”
“Hm? Ngapain?”
“Biar nggak tegang banget di sini,” bisik Eva sambil menahan tawa kecil.
Zahra langsung ikut berdiri.
“Ih iya juga.”
Mereka bertiga berjalan pelan ke belakang rumah melewati dapur.
Saat melewati dapur, Zahra sempat melihat ibunya sedang menuang air minum tanpa berbicara apa pun.
Sementara Bibi Dewi berdiri di dekat meja dapur sambil membuka rantang makanan.
Keduanya tetap diam.
Padahal jarak mereka dekat sekali.
Zahra langsung memalingkan wajah pelan lalu mengikuti Eva keluar menuju belakang rumah.
Di belakang rumah nenek masih ada sumur lama yang dulu sering mereka pakai bermain air waktu kecil.
Pohon pisang dan jemuran kain masih berada di tempat yang sama.
Eva langsung duduk di bangku kayu kecil sambil mengembuskan napas panjang.
“Ya Allah… aku sampe ikut capek tiap liat mereka ketemu.”
Ka Sinta tertawa kecil.
“Udah biasa.”
Zahra ikut duduk di samping mereka.
“Memang nggak pernah ngobrol sama sekali ya?”
Eva menggeleng.
“Kalau ada nenek paling seperlunya doang.”
“ Lebaran juga sekarang jarang bareng,” tambah Ka Sinta pelan.
Zahra menunduk kecil.
Padahal dulu rumah nenek selalu ramai tiap lebaran.
Eva tiba-tiba menoleh ke Zahra sambil tersenyum kecil.
“Tapi serius deh… aku seneng kamu akhirnya datang lagi.”
“Iya,” sahut Ka Sinta. “Udah lama banget nggak kumpul begini.”
Zahra ikut tersenyum.
“Aku juga kangen.”
Eva terkekeh kecil.
“Inget nggak dulu kamu paling cengeng kalau kalah main?”
“IHHH Ka Eva!”
“Bener kan?” goda Ka Sinta. “Dulu habis kalah petak umpet langsung ngadu ke Tante Mira.”
Zahra langsung menutup wajahnya malu.
“Itu kan masih kecil!”
Mereka bertiga langsung tertawa bersama.
Suasana perlahan mulai terasa hangat lagi seperti dulu.
Eva lalu bersandar santai di kursi kayu kecil itu.
“Tapi jujur ya… aku capek lihat mama sama Tante Mira kayak gini terus.”
Ka Sinta mengangguk pelan.
“Aku juga.”
Zahra yang sejak tadi diam akhirnya menatap keduanya bergantian.
“Kita harus bikin mereka baikan.”
Eva dan Ka Sinta langsung menoleh ke arahnya.
Ka Sinta terlihat sedikit kaget.
“Baikan?”
Zahra mengangguk cepat.
“Iya… mau sampai kapan saling diem terus kayak gitu?”
Ia menunduk kecil sebelum melanjutkan pelan,
“Kita ini keluarga…”
Suasana mendadak hening beberapa detik.
Angin sore bergerak pelan menggoyangkan daun pisang di belakang rumah.
“Harusnya nggak begini terus,” lanjut Zahra lirih.
Eva menghela napas kecil sambil menatap halaman.
“Aku juga kadang sedih lihatnya.”
“Apalagi tiap lebaran,” tambah Ka Sinta pelan. “Rumah nenek jadi beda sekarang.”
Zahra menatap keduanya lagi.
“Makanya kita coba dulu pelan-pelan.”
Eva akhirnya bertanya pelan,
“Terus gimana caranya?”
“Aku bakal sering ngajak ibu ke rumah nenek selama liburan,” jawab Zahra cepat.
Ka Sinta mulai memperhatikan serius.
“Nanti kalau ibu masak banyak atau bikin kue…” ucap Zahra pelan.
Eva dan Ka Sinta langsung memperhatikan.
“Kita makan bareng aja di rumah nenek.Ajakin bibi Dewi juga biar mereka berdua bisa saling ketemu, ya siapa tau karena sering ketemu lama- lama mereka bisa saling sapa lagi terus akhirnya baikan deh ”
Ka Sinta mengangkat alis kecil.
“Emang mama mau?”
“Makanya pelan-pelan,” jawab Zahra cepat.
Eva ikut berpikir.
“Tapi mama biasanya males kalau ada Tante Mira…”
“Nah itu,” gumam Ka Sinta.
Zahra lalu berkata lagi,
“Kalau yang ngajak nenek gimana?”
Eva langsung menoleh.
“Maksudnya?”
“Kan Bibi Dewi paling nggak enakan sama nenek.”
Ka Sinta mulai mengangguk kecil.
“Ohh…”
“Nanti misalnya nenek bilang sekalian makan di sini aja,” lanjut Zahra. “Jadi nggak keliatan kayak sengaja dipertemuin.”
Eva akhirnya tersenyum tipis.
“Itu lebih mungkin sih.”
“Terus kita jangan ninggalin mereka berdua,” tambah Zahra cepat. “Biar suasananya santai aja dulu.”
Ka Sinta tertawa kecil.
“Kamu serius banget ya mikirinnya.”
“Ya iyalah,” jawab Zahra pelan. “Aku pengen rumah nenek rame lagi kayak dulu.”
Eva saling pandang dengan Ka Sinta beberapa detik.
Lalu Eva mengangguk pelan sambil tersenyum kecil.
“Yaudah… kita coba.”
Ka Sinta ikut mengangguk. “Pelan-pelan aja. Yang penting jangan nyerah dulu.”
Wajah Zahra langsung sedikit berbinar.
“Serius?”
“Iya,” jawab Eva sambil tertawa kecil. “Kasian juga lihat nenek pasti sedih liat kedua anaknya kaya gini terus”
Ka Sinta menepuk pelan pundak Zahra. “Ayok, kita sama- sama berjuang buat bikin keluarga kita akur lagi.”
Eva lalu mengangkat jari kecilnya bercanda. “Mulai sekarang… misi damai keluarga.”
Zahra langsung terkekeh. “Ih apaan sih.”
“Tapi serius,” lanjut Eva lebih pelan. “Kalau ada kesempatan, aku sama Ka Sinta bakal bantu deketin mama sama Tante Mira.”
Ka Sinta mengangguk setuju. “Minimal biar mereka nggak terus-terusan saling ngindar.”
Hati Zahra terasa sedikit lega mendengarnya.
Baru saja mereka ingin lanjut mengobrol, suara nenek tiba-tiba terdengar dari dalam rumah.
“Zahraaa… Evaaa… Sintaaa… makan dulu!”
" Udah dipanggil tuh” ujar Eva sambil berdiri.
Mereka bertiga pun berjalan masuk kembali ke dalam rumah.
Saat masuk ke ruang makan, Zahra melihat ibunya sedang sibuk menata piring dan lauk di meja.
Ayahnya sudah duduk di dekat nenek sambil menuangkan air minum.
Aroma sayur asem dan ayam goreng memenuhi ruangan hangat itu.
Namun mata Zahra langsung mencari seseorang.
Ia menoleh ke dapur, lalu ke ruang depan.
Tidak ada Bibi Dewi.
Sepertinya beliau sudah pulang.
Zahra duduk perlahan lalu bertanya polos,