Nenek dan Tante Mira yang sejak tadi tertawa langsung menghampiri Ka Sinta.
"Kenapa, Sin?" tanya nenek khawatir.
Tante Mira ikut berjongkok di sampingnya.
"Perutnya sakit?"
Ka Sinta menggeleng pelan.
"Nggak sakit sih, Tante."
"Terus?"
"Kayak nggak nyaman aja."
Eva yang duduk paling dekat langsung ikut panik.
"Nggak nyaman gimana?"
"Nggak tau... kadang suka begini kok."
Ka Sinta mengusap pelan bagian bawah perutnya.
"Mungkin kebanyakan duduk dari tadi."
Tante Mira tetap terlihat khawatir.
"Udah berapa lama?"
"Baru sebentar."
Nenek memegang tangan cucunya.
"Pusing nggak?"
"Nggak nek"
"Mual?"
"Nggak juga."
Tante Mira dan nenek saling pandang.
Meski Ka Sinta terlihat tenang, mereka tetap tidak bisa langsung menganggap sepele.
Apalagi Ka Sinta sedang hamil.
Tante Mira akhirnya berkata,
"Kalau gitu kita periksa ke bidan aja."
"Hah?" Ka Sinta langsung menoleh.
"Iya. Mumpung masih jam tujuh malam. Biasanya bidan masih buka jam segini."
"Nggak usah, Tante."
"Cuma periksa sebentar aja biar tenang."
Eva langsung mengangguk setuju.
"Iya, Ka. Biar aman."
Nenek juga ikut mengangguk.
"Betul. Daripada semua kepikiran."
Eva kemudian berdiri.
"Yaudah aku ke rumah dulu ngasih tau Mamah."
Baru saja Eva hendak melangkah ke arah pintu, Ka Sinta buru-buru memanggil.
"Eva."
Eva menoleh.
"Nggak usah."
"Loh?"
"Aku baik-baik aja kok."
"Tapi Ka..."
"Beneran."
Ka Sinta tersenyum kecil untuk meyakinkan semuanya.
"Perut aku emang suka tiba-tiba nggak nyaman kayak gini."
Tante Mira masih terlihat ragu.
"Beneran, Sin?"
"Iya, Tante."
"Yakin nggak perlu ke bidan?"
Ka Sinta mengangguk.
"Yakin."
Ia lalu mengubah posisi duduknya sedikit dan bersandar pada sofa.
"Nih lihat, sekarang juga udah enakan."
Eva masih memperhatikannya dengan curiga.
"Serius?"
"Iya."
"Nggak bohong?"
Ka Sinta sampai tertawa kecil.
"Ngapain juga aku bohong."
Nenek menghela napas pelan.
"Kalau ada apa-apa langsung bilang ya."
"Iya, nek"
"Jangan ditahan-tahan." Tambah tante mira
"Iya tante."
Tante Mira masih memperhatikan wajah Ka Sinta beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
"Kalau nanti nggak nyaman lagi, langsung ke bidan."
"Siap, Tante."
Eva akhirnya kembali duduk.
"Yaudah deh."
"Tuh kan," kata Ka Sinta sambil tersenyum.
"Kalian paniknya kayak aku mau lahiran aja."
Sontak semua orang langsung tertawa.
"Ih jangan ngomong gitu!" protes Eva.
Nenek sampai ikut terkekeh.
"Orang lagi khawatir malah bercanda."
Suasana yang sempat tegang perlahan kembali mencair.
Zahra yang sejak tadi diam akhirnya ikut bernapas lega.
Syukurlah.
Ternyata Ka Sinta memang hanya merasa sedikit tidak nyaman dan sekarang sudah jauh lebih baik.
Tak lama kemudian, obrolan mereka kembali berlanjut.
Meski begitu, sesekali Tante Mira masih melirik Ka Sinta diam-diam.
Memastikan keponakannya itu benar-benar baik-baik saja.
Malam itu akhirnya kembali berjalan tenang.
Setelah Sinta memastikan dirinya baik-baik saja, suasana ruang tengah perlahan kembali ramai oleh obrolan dan tawa.
Nenek beberapa kali masih melirik ke arah Sinta, memastikan cucunya benar-benar sudah nyaman.
Namun melihat Sinta yang sudah kembali tertawa dan ikut bercanda, rasa khawatir itu sedikit demi sedikit menghilang.
Menjelang pukul sepuluh malam, satu per satu mulai menguap.
"Udah, udah. Tidur sana kalian," usir nenek sambil tertawa.
"Tadi katanya nggak boleh begadang."
"Iya, nek," jawab Eva.
Meski begitu, mereka bertiga masih sempat mengobrol pelan di ruang tengah sambil membentangkan kasur seperti saat kecil dulu.
Tak lama kemudian, rumah nenek mulai sunyi.
Lampu ruang tengah dimatikan.
Hanya lampu teras yang masih menyala redup menemani malam.
Pagi hari datang dengan udara kampung yang sejuk.
Suara ayam berkokok dan kicauan burung terdengar dari berbagai arah.
Sinar matahari pagi masuk perlahan melalui jendela rumah nenek.
Di ruang tengah, Ayah Zahra sudah duduk santai sambil menyeruput secangkir kopi hangat.
Tak lama kemudian, nenek datang membawa kipas kecil lalu duduk di sampingnya.
"Nak gimana kabar ayah dan ibumu pada sehat kan?" tanya nenek.
Ayah Zahra menoleh lalu tersenyum.
"Alhamdulillah semuanya sehat, Mak."
"Syukurlah kalau sehat."
"Iya, Mak."
Nenek mengangguk pelan.
Dari arah dapur terdengar suara minyak berdesis.
Tante Mira tampak sibuk menggoreng tempe untuk sarapan pagi.
Aroma tempe goreng yang gurih mulai memenuhi rumah.
"Kayaknya hari ini sarapan enak," ujar Ayah Zahra sambil tersenyum.
Nenek terkekeh kecil.
"Kalau Mira yang masak biasanya memang nggak pernah gagal."
Sementara itu, di halaman rumah nenek, Zahra, Eva, dan Ka Sinta sedang menikmati udara pagi yang masih sejuk.
Ka Sinta duduk santai di bangku kayu dekat pohon mangga sambil sesekali mengusap perutnya.
Zahra dan Eva duduk di tikar yang digelar di teras.
Dari halaman terlihat beberapa warga mulai beraktivitas. Ada yang menyapu halaman, ada juga yang mengayuh sepeda menuju pasar.
"Enak banget ya udara pagi di sini," kata Zahra sambil menarik napas panjang.
"Iya lah," jawab Eva. "Nggak kayak di kota."
Tak jauh dari mereka, beberapa ekor ayam milik tetangga berkeliaran bebas di depan rumah.
Tiba-tiba salah satu ayam berlari mendekat ke arah teras.
"WOIII!" Eva langsung mengangkat kakinya kaget.
Zahra spontan tertawa.
"Ka Eva takut ayam?"
"Aku nggak takut!"
"Terus tadi ngapain angkat kaki?"
"Refleks!"
Sinta sampai tertawa kecil melihat keduanya.
"Ayamnya juga bingung kali."
"Berisik kalian."
Mereka kembali tertawa bersama.
Setelah suasana tenang, Ka Sinta menoleh ke arah Zahra.
"Ngomong-ngomong, Zahra sekarang kelas tiga ya?"
"Iya ka."
"Udah kepikiran habis lulus mau kuliah atau kerja?"
Zahra terdiam sebentar sebelum menjawab,
"Kayaknya kerja aja."
"Kenapa?" tanya Eva.
Zahra memainkan ujung bajunya pelan.
"Kasian sama Ayah sama Ibu. Biaya kuliah kan mahal."
Ka Sinta dan Eva saling pandang sejenak.
"Tapi sekarang banyak beasiswa juga, Zah," kata Ka Sinta lembut.
"Iya," sambung Eva. "Jangan langsung nyerah dulu sebelum cari informasi."
Zahra mengangguk pelan.
"Nanti aku pikirin lagi deh."
"Nah gitu," ujar Eva.
"Yang penting sekarang fokus lulus dulu."
"Dan jangan kebanyakan rebahan," tambah Ka Sinta bercanda.
"IHHH."
Tawa mereka kembali memenuhi halaman rumah nenek yang hangat di pagi itu.
Tak lama kemudian, aroma tempe goreng dari dapur semakin menggoda.
Dari dalam rumah, suara Tante Mira terdengar memanggil.
"Zahraaa... Evaaa... Sintaaa... sarapan dulu!"
"Nah, dipanggil," kata Eva sambil berdiri.
Ka Sinta ikut bangkit perlahan dari bangku.
"Ayo sebelum tempenya habis."
"Ih, emang siapa yang mau ngabisin?" goda Zahra.