Di ruang tamu, Ayah Zahra masih menatap layar ponselnya beberapa saat.
Deretan angka itu masih terpampang di sana.
Nomor yang langsung ia kenali begitu melihatnya.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Tanpa berpikir panjang, ia segera mematikan layar ponselnya sebelum istrinya sempat melihat lebih jelas.
"Siapa yang nelepon, Yah?" tanya Ibu Zahra dari dapur.
Ayah Zahra berdeham pelan lalu memasukkan ponselnya ke saku.
"Bukan siapa-siapa, Bu. Salah sambung, mungkin."
"Ohh."
Ibu Zahra mengangguk santai.
"Kenapa nggak diangkat? Siapa tahu penting."
Ayah Zahra berusaha tersenyum senormal mungkin.
"Nggak apa-apa, Bu. Kalau memang penting, nanti juga nelpon lagi."
"Hehe."
Untungnya Ibu Zahra sama sekali tidak curiga.
"Iya juga sih."
Ayah Zahra mengangguk kecil, tetapi pikirannya sudah melayang ke mana-mana.
Nomor itu bukan nomor asing.
Justru terlalu ia kenal.
Dan itulah yang membuatnya gelisah.
Sementara itu, suasana berbeda terlihat di rumah nenek.
Setelah sempat pulang ke rumah masing-masing untuk mandi dan beristirahat, Eva dan Ka Sinta kembali datang ke rumah nenek.
Di tangan Ka Sinta terdapat beberapa wadah makanan.
"Nenek!" panggil Sinta sambil masuk ke teras.
Nenek yang sedang duduk santai langsung menoleh.
"Nah, cucu-cucu nenek datang lagi."
Sinta tersenyum lalu mengangkat wadah yang dibawanya.
"Nek, ini Sinta masakin sayur sop sama tempe goreng buat nenek makan siang."
Mata nenek langsung berbinar.
"Wahh, enak banget ini."
Beliau menerima wadah itu dengan senang.
"Terima kasih ya, Sin."
"Sama-sama, Nek."
Nenek membuka sedikit tutup wadah dan langsung mencium aromanya.
"Hmm... harum sekali,ini banyak banget sin, kalau nenek makan sendiri ga bakal habis. "
Eva tertawa kecil.
"Ka Sinta sengaja bawain banyak nek soalnya buat di makan bareng-bareng hehe."
"Iya nek hehe," sahut Sinta tersenyum malu
Nenek ikut tertawa.
Kemudian beliau berkata,
"Yaudah ayok sini makan bareng sama nenek."
Eva langsung tersenyum.
"Boleh, Nek."
Lalu ia berdiri lagi.
"Tapi aku ajak Mamah dulu ya."
Nenek tersenyum lalu mengangguk.
"Iya, ajak Mamahmu."
Sementara Eva keluar menuju rumahnya, Sinta membantu nenek membawa makanan ke dapur.
"Wah, nenek jadi nggak usah masak lagi."
"Nggak apa-apa, Nek."
"Kamu juga harus jaga kesehatan ya sin jangan sampe kecapean kamu kan lagi hamil"
Sinta tersenyum kecil sambil mengusap perutnya.
"Iya, Nek masak buat nenek ga cape ko."
Tak lama kemudian Eva tiba di rumahnya.
Ia langsung menuju dapur.
Di sana, Bibi Dewi sedang mencuci beberapa piring sambil membereskan peralatan masak.
"Mah."
"Iya?" jawab Bibi Dewi.
"Kita makan siang bareng nenek yuk."
Bibi Dewi menoleh sekilas.
"Nenek ngajak?"
"Iya."
"Makan sama Ka Sinta juga."
Bibi Dewi terdiam sesaat.
Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Iya, ayo."
Eva langsung tersenyum lebar.
"Beneran?"
"Iya."
"Yeay."
Namun Bibi Dewi kembali berkata,
"Kamu duluan aja. Nanti Mamah nyusul."
Eva mengernyit.
"Kenapa nggak bareng?"
"Mamah mau beresin piring dulu."
Eva melihat tumpukan piring yang memang masih cukup banyak.
"Oke, Mah."
"Nanti Mamah nyusul."
"Jangan lama-lama ya."
Bibi Dewi tersenyum tipis.
"Iya."
Eva pun berlari kecil keluar rumah.
Sesampainya di rumah nenek, Eva langsung masuk ke ruang makan.
"Nek!"
"Iya?"
"Mamah mau nyusul katanya."
"Wah syukurlah," jawab nenek lega.
Sinta yang sedang menata piring ikut tersenyum.
"Alhamdulillah."
Tak lama kemudian mereka mulai menyiapkan makan siang.
Sayur sop buatan Sinta yang masih hangat diletakkan di tengah meja.
Tempe goreng tersusun rapi di piring.
Aroma gurih langsung memenuhi ruang makan.
"Wahh..." kata nenek.
"Kalau begini nenek bisa nambah nasi."
Eva tertawa.
Sinta menggeleng sambil tertawa kecil.
Di tengah suasana hangat itu, sesekali nenek melirik ke arah pintu rumah.
Menunggu Dewi datang.
Namun menit demi menit berlalu.
Sosok putrinya itu belum juga terlihat.
Eva yang menyadarinya mulai menoleh ke arah luar rumah.
"Mamah kok belum datang ya..."
Nenek hanya tersenyum tipis.
"Barangkali masih beres-beres."
"Iya mungkin."
Ka Sinta lalu mengambil sendok saji dan tersenyum.
"Udah, kita makan duluan aja sambil nunggu Mamah datang."
"Iya juga sih," sahut Eva.
"Nanti keburu dingin."
Nenek mengangguk setuju.
"Betul. Kasihan sayur sopnya kalau sudah dingin."
Akhirnya mereka mulai mengambil nasi dan lauk pauk masing-masing.
Sayur sop hangat mulai dituangkan ke mangkuk.
Tempe goreng berpindah satu per satu ke piring mereka.
Tak lama kemudian suasana ruang makan kembali dipenuhi obrolan ringan dan suara sendok yang beradu pelan dengan piring.
Sementara itu, di rumah sebelah.
Bibi Dewi sebenarnya sudah selesai membereskan semua pekerjaan dapurnya.
Piring sudah dicuci.
Meja sudah dibersihkan.
Tidak ada lagi yang perlu dikerjakan.
Namun ia masih berdiri diam di ruang tamu.
Tatapannya tertuju pada ponsel yang berada di atas meja.
Beberapa detik kemudian ia mengambil ponsel itu.
Layarnya menyala.
Terlihat sebuah nomor yang tidak diberi nama.
Bibi Dewi menatap nomor itu cukup lama.
Lalu perlahan menekan tombol panggil.
Tut...
Tut...
Tut...
Ia menunggu.
Namun panggilan itu tidak diangkat.
Tut...
Tut...
Tut...
Masih tidak ada jawaban.
Wajah Bibi Dewi perlahan berubah kesal.
"Ck."
Panggilan berakhir sendiri.
Dengan kesal ia meletakkan ponselnya agak keras ke atas sofa.
"Bikin kesel aja."
Ia menghembuskan napas panjang.
Beberapa saat kemudian, Bibi Dewi mengambil tas kecilnya lalu berjalan keluar rumah.
Langkahnya mengarah ke rumah nenek.
Sesampainya di depan rumah nenek, Bibi Dewi belum langsung masuk.
Dari teras, ia bisa mendengar suara tawa dari dalam rumah.
Tanpa sengaja langkahnya terhenti.
Suara nenek terdengar lebih dulu.
"Eva, pelan-pelan makannya ya."
"Iya, Nek," jawab Eva dengan mulut masih penuh makanan.
Ka Sinta langsung tertawa.
"Iya nih, Eva. Awas ya, jangan sampai kamu habisin semuanya. Mamah belum makan."
"Iya, iya."
Nenek ikut tertawa kecil.
"Nenek jadi ingat dulu waktu kalian masih kecil."
Eva dan Sinta langsung menoleh penasaran.
"Ingat apa, Nek?"
"Kalau Tante Mira masak sayur sop, kalian berdua yang paling heboh."
Eva langsung tertawa.
"Iya juga ya."
"Sedangkan Zahra malah makan mie."
Sontak mereka bertiga tertawa.
"Soalnya Zahra nggak suka sayur," kata Eva.
"Kalau sayur sop kan makanan kesukaan kita, Nek," sambung Sinta.
"Kalau Zahra beda selera kayaknya."
"Hahaha..."
Tawa kembali terdengar.
Kemudian Ka Sinta tersenyum kecil.
Tatapannya sedikit menerawang mengingat masa lalu.
"Eh, tapi kalau diingat-ingat..."
"Apa?" tanya Eva.
"Tante Mira tuh baik banget ya sama kita."
Eva langsung mengangguk.
"Iya."
Ka Sinta melanjutkan dengan suara lembut.
"Dulu Tante Mira sering masakin makanan kesukaan kita."
"Iya."
"Kadang aku ngerasa Tante Mira lebih perhatian sama kita daripada dirinya sendiri."
Nenek yang mendengar itu hanya tersenyum kecil.
Ka Sinta kembali berkata,
"Mama waktu itu jarang pulang."
Eva perlahan terdiam.
"Yang nemenin kita tiap hari ya Tante Mira sama Nenek."
Ruangan mendadak terasa sedikit lebih tenang.
Nenek mengusap punggung tangan Sinta pelan.
Senyum hangat masih terlihat di wajah beliau.
Tanpa mereka sadari, di depan rumah, Bibi Dewi berdiri mematung.
Semua perkataan itu terdengar jelas olehnya.
"Tante Mira lebih perhatian sama kita daripada dirinya sendiri..."