Terlihat Ayah Zahra mengakhiri panggilannya.
Perlahan ia menurunkan ponsel dari telinganya lalu memasukkannya ke dalam saku celana.
Wajahnya tampak tegang.
Matanya bergerak ke kanan.
Lalu ke kiri.
Memastikan keadaan di sekitarnya aman.
Memastikan tidak ada siapa pun yang mendengar percakapannya.
Setelah beberapa detik mengamati keadaan, Ayah Zahra mengembuskan napas pelan.
Kemudian ia berjalan menuju kamarnya.
Sementara itu, dari balik dinding dekat lorong kamar...
Zahra masih berdiri mematung.
Jantungnya berdegup cepat.
Kepalanya penuh pertanyaan.
Namun di saat yang sama, ada masalah lain yang jauh lebih mendesak.
"Aduhh..."
Zahra meringis pelan.
"Gak kuat... pengen pipis."
Ia langsung melupakan sejenak rasa penasarannya.
Dengan langkah cepat namun tetap berusaha tidak berisik, Zahra berlari kecil menuju kamar mandi yang berada di belakang dapur.
Beberapa menit kemudian...
"Ahhh..."
Zahra mengembuskan napas lega.
"Akhirnya lega juga."
Ia mencuci tangan lalu berjalan kembali menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Zahra langsung merebahkan tubuh di atas kasur.
Namun matanya belum juga terpejam.
Pikirannya kembali mengingat kejadian tadi.
Ayah teleponan sama siapa ya?
Dan kenapa Ayah bilang...
"Aku dan ibu nggak tahu..."
Zahra memandangi langit-langit kamar.
Semakin dipikirkan, semakin membuatnya bingung.
Apa yang sebenarnya tidak mereka ketahui?
Apa yang disembunyikan Ayah?
Atau mungkin...
Tidak.
Zahra segera menggelengkan kepala.
Ia merasa pikirannya mulai berlebihan.
"Mungkin urusan kerja kali..."
gumamnya pelan.
Meski begitu, rasa penasaran itu tetap tidak hilang.
Jarum jam terus berdetak.
Malam berjalan seperti biasa.
Sedikit demi sedikit rasa kantuk kembali datang.
Dan akhirnya Zahra pun tertidur.
Suasana pagi hari datang dengan tenang.
Udara terasa segar setelah hujan semalam.
Cahaya matahari masuk melalui celah jendela rumah.
Di dapur, aroma nasi goreng sederhana sudah tercium sejak pagi.
Ibu Zahra sibuk menyiapkan bekal.
Sementara Ayah Zahra sedang mengenakan jaket kerjanya.
Karena bekerja serabutan, pekerjaan Ayah tidak selalu sama setiap harinya.
Kadang membantu bangunan.
Kadang mengangkut barang.
Kadang memperbaiki rumah warga.
Apa pun yang bisa dikerjakan demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Sedangkan Ibu Zahra sesekali membantu bekerja di ladang atau sawah milik warga sekitar.
Pagi itu mereka tampak sudah siap berangkat.
"Zahra," panggil Ibu dari dapur.
Zahra yang baru keluar kamar langsung menghampiri.
"Iya, Bu?"
"Ibu udah masakin sarapan buat kamu."
Zahra melihat meja makan.
Ada nasi goreng, telur dadar, dan teh hangat.
Matanya langsung berbinar.
"Wah, enak."
Ibu tersenyum kecil.
"Nanti bantu Ibu beres-beres rumah ya."
"Iya, Bu."
Kemudian Zahra melihat kedua orang tuanya yang sudah siap berangkat.
"Ibu sama Ayah nggak sarapan dulu?"
Ayah menggeleng.
"Enggak."
"Ibu sama Ayah bawa bekal aja."
"Nanti makan di tempat kerja."
"Oh..."
Zahra mengangguk pelan.
Lalu ia tersenyum.
"Oh iya, Bu."
"Hati-hati ya kerjanya."
Ibu Zahra mengusap kepala putrinya.
"Iya."
Ayah Zahra juga tersenyum.
"Kamu juga hati-hati di rumah."
"Iya, Yah."
Tak lama kemudian mereka berdua berangkat.
Zahra berdiri di teras memperhatikan Ayah dan Ibunya berjalan menjauh.
Namun tanpa sadar...
Pandangannya lebih lama tertuju pada Ayahnya.
Bayangan kejadian semalam kembali muncul.
Ayah yang berbicara diam-diam.
Ayah yang terlihat waspada.
Ayah yang mengatakan ada sesuatu yang tidak diketahui dirinya dan Ibunya.
Zahra menggigit bibir bawahnya pelan.
"Ayah sebenarnya nyembunyiin apa ya..."
gumamnya.
Lalu ia menggeleng cepat.
"Enggak , enggak."
"Aku nggak boleh nuduh macam-macam."
Meski berkata begitu...
Rasa penasaran itu justru semakin besar.
Dan tanpa Zahra sadari...
Rahasia yang ia dengar semalam akan membawanya pada sesuatu yang jauh lebih rumit daripada yang pernah ia bayangkan.
Pagi itu, suasana di rumah Bibi Dewi terlihat tenang.
Di ruang tamu, Ka Sinta dan Bibi Dewi sedang duduk di sofa sambil menikmati teh hangat.
Sinta sesekali mengusap perutnya yang mulai membesar.
"Mah," katanya.
"Iya?"
"Hari ini aku mau ke bidan. Mau USG kehamilan aku."
Bibi Dewi langsung mengangguk.
"Yaudah, Mamah temenin."
Sinta tersenyum.
"Makasih, Mah."
"Kita USG ke bidan sini aja ya, biar dekat."
"Iya, Mah."
Tak lama kemudian mereka pun berangkat.
Karena sedang tinggal sementara di rumah ibunya, Ka Sinta memeriksakan kandungannya di bidan desa tempat ia dulu sering berobat semasa kecil.
Biasanya ia memeriksa kandungan di kota bersama suaminya.
Sesampainya di klinik, mereka langsung disambut oleh bidan yang sudah cukup lama bertugas di desa tersebut.
Begitu melihat wajah Ka Sinta, bidan tampak memperhatikan beberapa saat sebelum tersenyum lebar.
"Eh... ini Sinta, ya?" tanyanya ramah.
Ka Sinta ikut tersenyum kecil.
"Iya, Bu Bidan."
"MasyaAllah... udah mau jadi ibu sekarang."
Bidan tertawa kecil.
"Ibu hampir nggak ngenalin."
Sinta ikut tertawa malu.
Pemeriksaan pun dimulai.
Setelah pemeriksaan awal selesai, bidan mempersilakan Sinta berbaring untuk menjalani USG.
"Nah, sekarang kita lihat dedek bayinya ya."
Sinta langsung terlihat antusias.
"Iya, Bu."
Bidan mengoleskan gel di perut Sinta lalu mulai menggerakkan alat USG perlahan.
Monitor di samping ranjang menyala.
Tak lama kemudian muncul gambar hitam putih di layar.
"Nah, ini bayinya."
Sinta langsung menatap layar tanpa berkedip.
"Itu, Bu?"
"Iya."
Wajah Sinta perlahan berubah haru.
Meski gambar di layar tidak terlalu jelas baginya, tetap saja ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
"Itu bayi aku..."
gumamnya pelan.
Bibi Dewi yang berdiri di samping ikut memperhatikan layar.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Bidan kembali menggerakkan alat USG.
"Alhamdulillah, posisi bayinya bagus."
"Perkembangannya juga sesuai usia kehamilan."