Zahra berdiri beberapa langkah dari teras. Kedua matanya terus memperhatikan Ayahnya tanpa berkedip.
Alisnya sedikit mengernyit.
Ada rasa aneh yang kembali muncul di dalam hatinya.
Semalam Ayah berbicara diam-diam di telepon.
Sekarang, Ayah kembali mendapat panggilan dari nomor asing.
Dan wajah Ayah terlihat seperti orang yang sedang menyimpan sesuatu.
Zahra masih memandangi punggung Ayahnya.
Wajahnya tampak curiga.
Bibirnya sedikit mengatup.
Pikirannya kembali dipenuhi pertanyaan.
"Kenapa Ayah selalu menjauh kalau telepon?"
"Siapa sebenarnya yang menelepon Ayah?"
"Apa ada hubungannya dengan percakapan semalam?"
Ibu Zahra yang sejak tadi duduk di teras memperhatikan putrinya, akhirnya menoleh.
"Zahra," panggil Ibu pelan.
Zahra tersentak kecil.
"Iya, Bu?"
Ibu memperhatikan wajah Zahra.
"Kenapa ngeliatin Ayah kayak gitu?"
Zahra langsung tersenyum kecil.
Senyumnya dibuat-buat agar Ibunya tidak merasa aneh.
"Enggak apa-apa kok, Bu."
"Zahra cuma lagi bengong aja."
Ibu mengangguk pelan.
"Oh..."
Zahra kembali melirik ke arah Ayahnya yang masih berbicara di kejauhan.
Namun kali ini, ia berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.
Di dalam hati, Zahra tahu...
Ada sesuatu yang belum ia mengerti.
Dan semakin Ayah berusaha menutupinya, rasa curiganya justru semakin besar.
Sementara itu, suasana di rumah Bibi Dewi menjelang siang terasa hangat.
Aroma tumisan bawang mulai memenuhi dapur.
Eva sedang berdiri di depan kompor sambil memasak untuk makan siang. Tangannya perlahan mengaduk masakan di wajan, sesekali ia mengecek bumbu yang sedang dimasaknya.
Di dekat meja dapur, Sinta membantu menyiapkan bahan-bahan masakan. Ia sedang mengiris sayuran di atas talenan dengan teliti. Beberapa potong wortel, buncis, dan daun bawang sudah tersusun rapi di dalam mangkuk.
Sementara itu, Bibi Dewi duduk di kursi dekat meja makan. Di hadapannya ada segelas teh hangat yang belum disentuh.
Tatapannya mengarah ke dapur, tetapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Ucapan bidan tadi pagi kembali terbayang di kepalanya.
Lalu ucapan Bu Rina di pasar.
Tentang Mira yang dulu sering ngegendong Sinta dan Eva saat hujan untuk di periksa ke bidan karena khawatir panasnya gak turun.
Tentang Mira yang merawat kedua keponakannya seperti anak sendiri.
Semua kata-kata itu terus berputar di pikirannya.
"Nggak banyak orang yang mau ngurus keponakan kayak anak sendiri."
Bibi Dewi terdiam. Tangannya memegang gelas teh, tetapi ia tidak meminumnya. Wajahnya terlihat kosong, seolah sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Eva yang sedang memasak menoleh ke arah ibunya.
"Mah," katanya pelan.
Tidak ada jawaban.
Eva kembali mengaduk masakan sebentar, lalu menoleh lagi.
"Mamah, sayurnya mau dimasukin sekarang atau nanti?"
Bibi Dewi masih diam.
Sinta yang sedang mengiris sayuran ikut menoleh ke arah ibunya. Ia memperhatikan wajah ibunya beberapa detik.
"Mamah," panggil Eva sedikit lebih keras.
Bibi Dewi tersentak.
"Eh?"
Ia menoleh cepat.
"Iya, kenapa, Va?"
Eva tersenyum kecil.
"Sayur Sop ya mau di masak sekarang atau nanti?"
Bibi Dewi mengangguk pelan.
"Oh, iya. Masak aja sekarang."
Sinta lalu membawa mangkuk berisi sayuran yang sudah diiris ke dekat kompor.
"Ini, Va," katanya sambil menyerahkan mangkuk itu.
Eva menerimanya.
"Makasih, Kak."
Bibi Dewi memperhatikan mereka berdua.
Eva kembali menoleh ke arah ibunya.
"Mamah lagi kepikiran sesuatu ya?"
Bibi Dewi terdiam sebentar.
Lalu ia tersenyum tipis.
"Enggak."
"Cuma agak capek aja."
Eva dan Sinta saling pandang sebentar. Mereka tahu senyum ibunya tidak sepenuhnya terlihat seperti biasa.
Namun keduanya memilih tidak memaksa.
"Iya deh, Mah," kata Eva pelan.
Kemudian Eva kembali memasak, Sementara Bibi Dewi kembali mulai meminum teh ya pelan.
Di tempat lain di rumah Zahra, suasana siang mulai terasa tenang.
Ayah akhirnya masuk kembali ke rumah setelah selesai menerima telepon.
Wajahnya sudah tidak setegang tadi.
Namun Zahra masih sempat memperhatikannya diam-diam.
Ia ingin bertanya.
Sangat ingin.
Tetapi ia menahan diri.
Tidak lama kemudian, Zahra berjalan menuju kamar.
Di dalam kamar, ia melihat Ibunya baru saja selesai salat.
Ibu sedang merapikan mukena dengan tenang.
Zahra berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
"Bu."
Ibu menoleh.
"Iya, Zahra?"
"Ayo makan."
"Aku udah masakin telur ceplok."
Ibu tampak sedikit terkejut.
Kemudian senyum hangat muncul di wajahnya.
"Tumben anak Ibu masak."
Zahra tersenyum bangga.
"Iya kan zahra udah gede bu udah 17 tahun, jadi sesekali bantuin ibu masak lah sambil belajar juga kan."
Ibu tertawa kecil.
"Yaudah deh bagus kalau gituh."
Kemudian Ibu berdiri sambil merapikan mukenanya.
"Sana ajakin Ayah juga."
"Kita makan bareng."
Zahra mengangguk cepat.
"Oke, Bu."
Ia langsung berjalan menuju ruang depan.
Ayah sedang duduk sambil melepas sandal.
"Yah," panggil Zahra.
Ayah menoleh.
"Iya?"
"Ayo makan."
"Aku masak telur ceplok."
Ayah tersenyum kecil.
"Telur ceplok aja nih, gak pake sayur ." Kata ayah sambil tertawa
Zahra langsung tersenyum malu.
"Ya telur ceplok aja dulu, masak yang lainnya nanti belajar dulu hehe ."
Ayah dan ibu tertawa bersama
Tak lama kemudian, mereka bertiga duduk bersama di meja makan sederhana.
Di atas meja sudah tersedia nasi hangat.
Ada beberapa telur ceplok buatan Zahra.
Serta sambal dan kerupuk yang disiapkan Ibu.
Meski sederhana, suasana makan siang itu terasa hangat.
Zahra mengambil satu telur ceplok lalu meletakkannya di piring Ayah.
"Yah, nih."
"Cobain masakan Zahra."
Ayah menatap telur itu lalu tersenyum.
"Iya , ayah coba ya."
Zahra menunggu dengan wajah penuh harap.
Ayah mengambil sedikit nasi dan telur.
Lalu mencicipinya perlahan.
Beberapa detik kemudian, Ayah mengangguk.
"Enak."
Wajah Zahra langsung berbinar.
"Beneran?"
"Iya."
"Enak."
Ibu ikut tersenyum melihat tingkah putrinya.
"Nah, kalau sering bantu Ibu, nanti makin jago masaknya."
Zahra mengangguk semangat.
"Iya, Bu."
Mereka bertiga kembali makan bersama.
Namun di sela-sela suasana hangat itu...
Zahra kembali melirik Ayahnya.
Ayah terlihat makan seperti biasa.
Berusaha tersenyum.
Berusaha terlihat tenang.
Tetapi bagi Zahra...
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Sesuatu yang belum ia pahami.
Dan jauh di dalam hatinya...
Zahra mulai yakin bahwa panggilan-panggilan misterius itu bukan sekadar urusan biasa.
Zahra masih tersenyum lebar setelah mendengar Ayah memuji masakannya.
Mereka bertiga melanjutkan makan siang dengan tenang.
Sendok beradu pelan dengan piring.
Suara kipas angin kecil terdengar dari sudut ruangan.
Di luar rumah, matahari siang bersinar cukup terik.
Setelah beberapa saat, Zahra tiba-tiba menoleh kepada Ibunya.
"Bu."
Ibu Zahra mengangkat wajahnya.
"Iya?"
"Besok jadi kan makan siang di rumah Nenek?"
Tangan Ibu yang sedang mengambil nasi perlahan berhenti.
Wajahnya terlihat sedikit berubah.
Zahra memperhatikannya dengan penuh harap.
Beberapa detik berlalu.
Ibu belum menjawab.
Akhirnya, Ibu mengembuskan napas pelan.
"Besok laginya aja ya, Zahra."
Zahra langsung mengernyit.
"Loh, kok besoknya lagi?"
"Ibu kan udah janji."
Ibu kembali diam.
Tatapannya justru jatuh ke piring.
Seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
Zahra semakin bingung.
Namun sebelum Zahra sempat bertanya lagi, Ayah yang duduk di sampingnya akhirnya bicara.
"Udah, turutin lagi aja maunya Zahra."
Ayah tersenyum kecil kepada Ibu.
"Hitung-hitung ajakin dia liburan selama libur sekolah."
Zahra langsung menoleh kepada Ibunya dengan mata berbinar.
"Tuh, Bu."