Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #3

Menolak Pintu Surga

Ratusan undakan anak tangga perlahan sudah terpijak dua kaki melangkah pasti, sebentar dia berdiri diatas undakan kesekian anak tangga dengan selimut gumpalan asap putih tipis. Menoleh kebelakang seraya masih ada hati yang tertinggal terasa bisikan kesedihan seseorang menyentuh relung jiwa, kini sudah jauh terpisah berbeda alam.

Langkah kaki kanan sudah mendarat pada undakan anak tangga atas, tapi ada rasa ragu kaki kiri untuk melangkah. Lagi-lagi wajahnya menoleh kebelakang semakin mendengar bisikan seseorang jauh disana terjerat dalam kesedihan dan kerinduan seraya memanggil mengulik sanubari makin terpapar keraguan.

Kepulan asap putih tipis makin menyelimuti langkah keraguan dua kaki, tapi kini kepastian dua langkah kaki terus menaiki undakan anak tangga. Serba putih setelan pakaian yang di pakai semakin berkilau terhempas kilauan cahaya dari ujung bersinar kuning langsat. Semakin tinggi tiada aka rasa takut sudah menapaki setiap undakan anak tangga makin membawanya naik tinggi.

Tidak tahu berada dimana dan berada dimana, tapi setiap langkah pasti akan mengajak ketempat dimana Andaru selamanya berada. Makin ada ragu dia untuk mendekati pintu perlahan terbuka, kilauan cahaya terang dengan hamparan bentangan hijau seraya itu adalah taman surga.

Hamparan hijau dengan aneka warna bunga, tersugguhkan perbukitan hijau beratap langit cerah. Tetesan air sejuk tidak akan pernah putus dari hausnya dahaga bagi setiap jiwa yang telah memiliki kodratnya untuk berada dalam taman surga itu.

Serba putih setelan pakaian setiap penghuni surga, terlihat tersenyum ketika berpapasan dengan wajah sumringah berkilau. Tersenyum seraya seorang memanggil Andaru agar tidak berlama-lama berdiri depan pintu surga, tentu langkah kaki kanannya terkulik tergoda untuk masuk. Padahal Andaru semestinya memang masuk surga setelah kematiannya, karena perbuatan baik dengan segudang amal ibadah selama hidupnya.

"Andaru ..."

Baru saja kedua langkah kakinya akan masuk melewati batasan dunia hampa dan pintu surga tidak jadi.

"Andaru ..."

Makin terdengar bisikan angin membawa kian mengulik keraguan Andaru, padahal penghuni surga lainnya sejak tadi tersenyum berdiri di belakangnya seraya mengajaknya lekas masuk.

"Naila?" guman dalam hati Andaru.

Keraguan semakin kuat mengajak dua kaki keluar dari dalam pintu surga, padahal hempasan semilir angin sejuk surga sesaat mengelus wajahnya. Tapi keraguan makin tidak ingin dia mengajaknya masuk kedalam surga. Seperti dorongan kuat kerinduan yang di rasakan Naila, mengajaknya untuk tidak jadi menghuni surga.

"Haiii ..."

"Berhenti!"

Teriak dua lelaki berpakain serba putih mengejar turuni anak tangga. Andai saja Andaru tidak menolak pintu surga, tentu dia akan jadi penghuni surga selamanya. Surga yang hanya di peruntukkan, untuk orang-orang yang beriman tidak meninggalkan perintahNya dan selalu mengerjakan kebajikan, maka itu pasti untuk mereka di sediakan surga sebagai tempat tinggalnya.

Lihat selengkapnya