"Itu yang saya sesalkan, Dokter. Kenapa Andaru sedikitpun dia tidak pernah bercerita tentang sakitnya. Sakit yang di deritanya selama ini pada saya,"
Terduduk sedih guratan wajah menyesal bercampur amukan amarah. Mata berkaca-kaca, sesaat diam ingin tidak menjawab ungkapan kepiluan berselimut sesal tidak berujung semakin menghancurkan relung hati Naila.
"Begitu besar cinta Andaru padamu, Naila. Dia tidak ingin dan menghendaki air matamu menetes basahi wajahmu yang cantik itu. Lebih baik Andaru menyimpan sejuta rasa sakitnya, dari pada dia menyiramkan rasa kesedihan untukmu. Namun saya sering menasehati Andaru, agar penderitaan sakit yang di rasakannya selama ini bisa sedikit berkurang, dengan dia harus berbagi sedih denganmu. Tapi lagi-lagi Andaru tidak mau melihat kamu sedih ikut larut dalam setiap penderitaan sakit yang di deritanya,"
Beranjak bangun Dokter Sulana, sungguh cantik parasnya dengan setelan blazer putih cemerlang. Stetoskop di letakannya pada meja dilirik Naila, celana panjang hitam berbahan katun dengan sepasang sepatu hak tinggi warna merah tua mengajaknya berjalan mendekati Naila.
"Saya yakin saat ini sampai kapanpun rindu kamu dengan Andaru tidak akan pernah bertepi. Saya yakin, apa yang dilakukan Andaru padamu hanya untuk kebaikanmu, Naila. Begitu baik dan suami itu sungguh beriman sekali, dia tidak pernah meninggalkan atau alpa pada kewajibannya. Saya yakin, saat ini Andaru sudah bahagia disana,"
Setengah membungkuk Dokter Sulana, dua tangannya menyentuh bahu belakang Naila masih terlihat sedih.
"Tapi Dokter?" __ "Ikhlaskan Andaru, Naila."
Sungguh sedih Naila, lagi-lagi tepukan halus telapak Dokter Sulana mendarat pelan pada bahu belalang Naila seraya menenangkannya.
"Naila ini aku. Aku Andaru?"
Tidak terlihat Andaru terduduk berhadapan dengan Naila, dua tangan Andaru berapa kali bermain melambai-lambai didepan wajah kesedihan istrinya itu. Tetap saja tidak mendengar dan melihat, sampai-sampai jemari kanan Andaru coba mengambil stetoskop yang tergeletak diatas meja. Stetoskop tidak bisa diambil, bingung Andaru dan dia masih belum sadar bila antara dirinya dengan Naila sudah berbeda alam.
"Kenapa gua ngak bisa menyentuh Naila. Dan Naila kenapa ngak bisa dengar dan melihat gua?"
Terdiam dia kini mulai terpancing sedih perhatikan dua mata istrinya berkaca-kaca seraya menatap padanya, tapi sekali lagi Andaru mencoba menyentuh wajah Naila tidak bisa. Seraya kosong hanya angin bayangan sepi terlihat samaar gelap, sesepi kerinduan memisahkan keduanya untuk selamanya.
"Sakit apa Andaru, Dokter?" tanya Naila.
"Kelenjer getah bening stadium empat. Sebenarnya saya tidak mau mendahului Sang Pencipta, dengan memvonis sisa waktu hidup Andaru, Naila. Tapi segitu sayangnya Andaru padamu, sampai dia sadar diri kapan dia akan pergi untuk selamanya. Dia memilih hari pernikahan, persis di hari yang sama pada hari kapan dia akan meninggalkan kamu selamanya,"
Mengelus dadanya Andaru saat Dokter Sulana akan terduduk, mungkin risih jika Andaru kini hanya mahluk kasat mata tidak terlihat sampai dia di duduki Dokter cantik itu.
"Apa gua?" __ "Sekarang kamu sudah pergi selamanya Andaru. Hanya kerinduan yang selalu menjerat aku selamanya, "