Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #5

CLBK

"Loe ngak bisa terus-terusan begini. Loe harus bangkit dari keterpurukan dan loe ngak bisa terus-terusan lagi menyimpan kerinduan loe dengan Bang Andaru. Dia udah ngak ada, loe harus ikhlasin dia, Naila."

Mungkin capek juga sudah berapa hari Syla menasehati Naila, tapi tetap saja dia tidak mudah melepaskan kerinduan dengan Andaru.

Walau saat ini dan selamanya Andaru bukan lagi penghuni dunia fana ini, dia mungkin sudah bahagia di surga.

Mungkin ada benarnya juga nasehat adiknya itu yang memang rada cerewet tapi sayang dan perhatian sekali dengan Naila. Baru semalam saja mengecap indahnya maligahi rumah tangga, tetapi suami tercintanya sudah pergi untuk selama-lamanya.

Hanya diam terduduk saja tidak lantas makan. Semestinya fungsi sendok untuk menyendok dan untuk alat makan, tidak di goyang-goyangkan menari-nari diatas piring. Apalagi garpu dari tadi keempat ujung tajamnya, sudah terbenam setengah masuk kedalam potongan paha ayam.

Tentu saja tidak enak makan Martin dan Dila, dua orang tua yang tidak akan pernah henti-hentinya mencintai menyayangi anaknya. Orang tua mana yang tidak miris tersayat sakit hatinya ketika melihat anak kesayangannya baru semalam saja menikah, tetapi sudah di tinggal pergi suaminya, untuk selama-lamanya.

"Apa kata adikmu benar, Nai." prihatinnya Dila beranjak bangun dari duduk.

Sendok garpu juga diletakan diatas permukaan piring bermain dengan sisa nasi serta lauk pauk. Pastinya jugq seorang Ayah merasakan hal yang sama terasa sedih bhatinnya ikut menangis dengan apa yang di rasakan anakya saat ini.

Martin juga sampai tidak enak makan, sekali bibir gelap beratap kumis tebal karena sering merokok menempel pada lengkungkan gelas setengah terteguk air putih kedalam mulut. Tidak banyak air putih di teguknya, karena tidak banyak asupan makanan masuk memenuhi lambungnya juga harus tahu diri ikut empati dengan keadaan anaknya.

"Kamu minum susu ini saja, kalau kamu tidak mau makan, Nai."

Dila sudah berdiri disamping Naila hanya tersenyum sedikit persis segelas susu disamping wajahnya. Syla menarik napas menahan emosi, padahal dia juga sudah capek sering menasehati Kakaknya itu, tetap saja tidak masuk keotak.

"Lama-lama capek juga gua nasehatin loe!" kesal beranjak bangun Syla.

"Nai," dua mata Martin menatap wajah Naila terpaksa mengambil segelas susu dari Ibunya.

"Siapapun tidak akan ingin kehilangan orang yang di sayanginya, Naila. Tapi bukan berarti loe harus terus terpuruk tidak terbangun cuman ngerasain sedih dan rindu sama Bang Andaru yang udah ngak ada! Loe harus bangkit dan bangun, Naila. Loe harus melanjutkan kehidupan loe selanjutnya, pastinya Andaru juga ngak mua lihat loe terus-terusan begini nyiksa diri loe sendiri!"

Masih belum habis rasa jengkel Syla masih terus ingin mencongkel keras hati Naila hanya sedikit meneguk susu, lalu gelasnya di letakan pada meja.

"Ting ... Tong ..." terdengar suara bel rumah berbunyi.

Semua melirik kearah lorong kecil jalan menuju ruangan tengah.

"Huhhhh!" geretan kesal Syla beranjak jalan.

Lihat selengkapnya