"Kematian yang menjemput setiap manusia yang ada didunia fana ini, itu sudah pasti. Tapi sebalik bangkit dari kematian itu tidak pernah ada kepastian," kata Bajana sambil melirik sendu wajah Andaru.
"Ya kalau yang bangkit dari kematian, itu cuman arwah-arwah penasaran karena pintu surganya selalu tertutup. Nah loe, pintu surga jelas-jelas terbuka lebar buat loe. Ini loe malahan ngak mau jadi penghuni surga, malahan loe menolak pintu surga," sambung Rake melirik senyum Bajana.
"Loe ngak bakalan bisa nendang botol kosong itu!" ledek Rake.
Berapa kali kaki kanan Andaru di ayunkan menendang botol plastik kosong, tapi botol plastik kosong hanya tergeletak diam saja.
"Hahhh! Gua belum mau masuk surga! Masih ada cinta yang makin bikin hati gua sakit menanti rindu ini sama Naila!"
Terduduk sedih Andaru sandaran peyangga jembatan, terlihat dari luar sepanjang jembatan sangat terlihat artistik sekali. Penerangan cahaya lampu terlihat dari celah-celah lobang jembatan seperti sarang lebah.
Jembatan yang berlokasi di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat cukup cukup banyak menarik perhatian banyak orang. Desain artistik modern membuat tempat ini di jadikan spot foto yang instagramable.
Desain jembatan menyerupai sarang lebah yang melapisi sisi sebelah kanan dan kiri jembatan di keliligi dengan jejeran deretan gedung-gedung bertingkat menjulang tinggi.
Malam makin larut, hembusan semilir angin terasa makin dingin menyentuh sembilu hati kerinduan bermuara kesedihan pastinya akan sangat lama sekali terasa.
"Hehhh! Loe mau ngapain?" sempat bingung juga Rake.
Bajana mencoba menarik Andaru, sepertinya penasaran ingin sekali menubruk gadis cantik sedang berjalan ditengah jembatan sepi malam itu.
Tapi lagi-lagi hanya kosong terasa hampa ketika tubuhnya sengaja di tubrukan pada gadis cantik hanya terasa sunyi kosong berjalan saja. Makin bingung Andaru, padahal hasrat sudah memuncak menahan rindu tidak lagi pernah bersentuhan dengan Naila setelah dia meninggal dunia.
"Loe ngak bakalan bisa sentuh dan menyentuh siapapun, apalagi menampakin diri loe. Karena dimensi tubuh loe sudah kasat mata dan kosong hampa,"
"Apalagi buat ngerasain hasrat loe lagi coba-coba sentuh istri loe. Loe udah ngak bisa!" kata kedua penjaga surga.
Sebenarnya Bajana dan Rake kasihan dengan Andaru, memang benar apa yang di katakan penjaga pintu surga itu. Bila Andaru tidak bisa lagi merasakan hasratnya yang tertahan selama ini terbendung karena rindu. Terlebih dia hanya sekedar ingin menyentuh atau merasakan kecupan bibir tipis istrinya, yang malam pertama saja tidak di rasakannya.
Wajahnya sedih terlihat dari celah lobang jembatan berbentuk sarang lebah. Sinar cahaya rembulan malam terasa makin menyakiti hati, karena masih terasa panjang malam belum beranjak pergi.
Tapi antara siang dan malam tidak pernah berarti bagi mahluk kasat mata tidak terlihat lagi yang hanya di rindukan oleh Naila sepanjang waktu terus berlalu tidak terbatas.