Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #8

Mulai Ada Rasa

Rasa kesedihan makin terpancar dari raut wajah Sabrina terbalut mukenah putih. Kian terlihat sembab wajah sejak dari tetesan air mata makin mengajak relung hatinya bersedih.

Dua tangan masih menengadah seraya menguntai setaip butiran doa terpanjatkan padaNya.

Seakan kebesaran dan keagungan Allah sebagai zat yang selalu di muliakan dan selalu membisikan pertolongan pada setiap hambanya selalu penuh keyakinan.

Masih menengadah mengarah keatas dua tangan seraya mengingatkan kita pada kemuliaan dan ketinggianNya. Dia adalah Allah dengan kuasa dan kewenanganNya diatas segala yang ada, dimana Sabrina selalu mendekatkan dirinya padaNya.

"Hanya padaMu, tempatku berlindung dan memohon. Aku yakinkan dari segala doa yang aku panjatkan padaMu Ya Allah, agar kedua orang tuaku serta Abangku selalu dalam pangkuan dan pelukanMu selalu. Lapangan kubur mereka dan selalu terbuka lebar pintu surga untuk mereka. Aamiin, Ya Rabbal Alamin."

Kini dua telapak hangat mendarat seraya membasuh wajah kesedihan, pasti membekas basah pada setiap relung jari tangan Sabrina. Hanya itu yang dapat di lakukannya mengirim doa untuk kedua orang tua yang sudah tiada, terlebih untuk seorang Abang yang sangat di sayanginya, dia juga telah tiada.

Sejak dari tadi Andaru hanya terduduk sujud, dua tumit kakinya menahan tubuhnya seraya makin tidak tertahan kesedihan melihat begitu baik adiknya selalu menyelipkan untaian doa untuknya.

Ingin rasanya Andaru memeluk Sandira, tetapi lagi-lagi dia hanya mahluk kasat mata tidak terlihat. Hanya terasa kosong hampa dan angin saja yang terpeluk dalam kerinduan Andaru.

Sabrina beranjak bangun, sazadah sudah terlipat dan di letakan diatas sandaran kursi. Hanya dia sendiri dalam kamar, biasanya Andaru selalu masuk mengajak bercanda atau sekedar bertanya tentang keadaannya. Tapi kini semua sudah telah hilang terbawa angin mengajak pergi tidak akan pernah kembali lagi.

Mulai ada rasa kerinduan bercampur sedih pasti tidak akan pernah terjawab dari raut wajah Sabrina masih kenakan mukenah putih terduduk diatas kursi berhadapan cermin meja rias.

Andaru berdiri di belakangnya, sekali lagi dua tangannya ingin memeluk adiknya itu, tapi lagi-lagi hanya kosong hampa terasa dalam pelukannya.

"Bang?" guman sedih.

"Abang disini, Sab." jawab sedih Andaru hanya kosong dia sekali lagi ingin memeluk adiknya.

Lihat selengkapnya