Rumah bergaya minimalis modern sudah berselimut gelap malam, sebagian kabut malam mungkin sudah menyelimuti relung dedaunan terpanjang tertata rapi di pelataran halaman rumah.
Sepi tidak ada yang menduduki kursi berhadapan dengan meja terasa kosong hampa, hanya memandang gelap malam terdiam membisu didepan teras depan beranda rumah.
Cahaya lampu sungguh terlihat terang menerangi balkon atas lantai dua rumah. Sorot lampu mobil suv merah tua sudah masuki pelataran halaman rumah.
"Brak"
Pintu sisi kiri mobil ditutup begitu saja oleh Syla. Tersenyum berbalut angin malam tergurat dari raut wajah Naila turun dari mobil. Pelan sekali dia menutup pintu mobil sampai tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Dari atas balokn namun tidak terlihat oleh dua pasang mata gadis pemilik rumah minimalis modern itu. Berdiri Andaru dengan tatapan dua mata cemburu, sedangkan Bajana dan Rake masih setia berdiri mengapitnya.
"Maaf, Nai. Bukan berarti ledekan gua kemarin jadiin hati loe segitu cepat ngelupain Bang Andaru,"
"Ayah dan Ibu, pasti saat itu punya alasan tepat. Kenapa mereka ngak mau nerima Erlang,"
Ada rasa tidak enak Syla, sebenarnya saat kedatangan Erlang, dia hanya sekedar meledek saja. Tidak ada maksud berlebihan untuk kembalikan perasaan yang sempat terbantahkan ketika.
Kini kursi yang kosong itu terasa hangat terduduki oleh dua gadis yang hanya terasa sepi menatap pelataran halaman rumah kian berbalut malam.
"Ngak tahu, Syl. Sejak kedatangan Erlang, kenapa hati perasaan gua seakan dipaksa untuk makin melupakan Andaru," sahut Naila menoleh pada wajah adiknya.
"Uaahhhhhhhhh ..." teriakan Andaru terdengar memekik pengeng dua kuping penjaga pintu surga.
Tapi tetap saja suara teriakan Andaru tidak terdengar oleh Syla dan Naila. Terduduk berdeku tertahan kembar tumit kaki Andaru di hadapan Naila.
Seraya dia memohon dengan memohon menguncupkan dua tangan, tatapan wajahnya seraya ingin yakinkan istrinya. Bila dia ada duduk memohon di hadapannya, bila hatinya masih setia mencintai.
"Nai, aku disini. Aku masih ada disini, hanya untuk membayar segala kerinduan yang kamu rasakan saat ini. Tapi tidak Nai, jangan kamu jadikan segalanya ini jadi hancur tidak berbentuk lagi, Nai. Aku masih sayang cinta padamu. Sampai aku menolak pintu surga, karena aku tahu kamu masih merindukan aku,"
Dua tangan Andaru ingin sekali menghusap wajah cantik istrinya, tapi hanya kosong terasa. Terdiam Andaru masih duduk berdeku, serasa percuma saja apa yang di perbuatnya selama ini. Bila dia sampai menolak pintu surga, hanya demi membayar kerinduan istrinya.
Tapi semua itu kini nyata terhempas sapuan badai angin topan yang menggerakan hati istrinya untuk makin melupakan dirinya.