Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #10

Janji Terbayar Sedih

"Gua hanya ingin bisa membelai menyentuh wajah Naila dan bisa merasakan sentuhan hangatnya," berkaca-kaca Andaru dua matanya penuh harap.

Terharu Bajana dan Rake saling melirik, malam itu ketiganya berada di stadiun sepak bola yang megah dan besar sekali.

Tribun kursi penonton terlihat sepi, tidak terdengar periang pencinta sepak bola mengelu-elukan menggiring setiap tendang pasti bolea menggiring masuk kedalam gawang lawan.

Hanya sorot sinar lampu cahaya terang menerangi kesetiap sudut lapangan bola. Terlihat kecil ketiganya saat berdiri diatas rerumputan hijau dari atas ujung tribun kursi penonton.

"Gua janji setelah ini gua akan kembali kesurga. Gua ngak boleh egois apalagi cemburu. Karena saat ini dan selamanya gua dan Naila sudah berbeda alam. Setiap gerakan hati gua tidak akan pernah lagi memikirkan cinta dan bahkan gua harus menahan teriakan kerinduan Naila. Ajarin gua untuk dapat memeluk dan merasakan sentuhan hangat itu,"

Seraya berharap memohon Andaru pada Bajana dan Rake tersenyum. Dua penjaga pintu surga itu seakan yakin dengan Andaru akan menepati janjinya, setelah semua itu bisa di rasakan Andaru dapat menyentuh dan memeluk istrinya akan kembali kesurga.

"Gua yakin sama loe, Andaru. Loe dapat nepatin janji loe," sahut Bajana yakin.

Tapi hati mana yang sebenarnya masih ingin berlama-lama tinggal di dunia fana. Tapi janji harus di tepati walau terbayar kesedihan akan selamanya pergi meninggalkan Naila.

Sungguh tiada duanya penjaga pintu surga, bingung tapi tersenyum berdiri saja Andaru melihat kehebatan dua penajag pintu surga itu yang akan mulai mengajari dirinya.

Bingung juga Andaru melihat Bajana dan Rake, sebentar terlihat terduduk di ujung tribun atas kursi penoton, tapi sebentar lagi dengan kedipan dua mata saja, keduanya sudah ada di hadapan Andaru lagi.

"Gua mau bisa seperti kalian berdua," kata Andaru yakin.

"Wooowwww ... Akhhhhhhh ..."

Teriakan Andaru terdengar seketika dua tangannya tertarik terangkat terbang, lalu terduduk diantara kursi tribun penonton tengah dan segera melesat terbang pindajlh keatas begitu saja menghilang dan muncul lagi.

"Wooowwww ... Akhhhhhhh ..." teriak ketakutan Andaru.

Dua tangan masih dipegang erat dua penjaga pintu surga, wajahnya meluncur kebawah sontak ketakutan akan menghantam hamparan rerumputan hijau luas.

Dua mata terbuka lebar seraya mulutnya terbuka lebar menghirup angin bebas. Wajahnya pasti akan membentur rerumputan tanah lapang, bagai ujung roket meleset akan menghujam bumi.

"Wooowwww ... Akhhhhhhh ..."

"Uahahhhhhh ... Hahahaha ..." hanya tertawa saja Bajana dan Rake seraya meledek Andaru.

Lihat selengkapnya