Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #11

Berat Meninggalkan

Terdiam merenung tergurat kerinduan kian menjebak hati tidak ingin terpisah dalam rindu, mengelana jauh dalam surga keabadian tempat insan terbaik pilihan Sang Pencipta berdiam.

Pasti janji itu akan tertepati, tidak ada ingkar terlahir tumbuh setelah niatnya tercapai. Wajah terus merenung seraya tidak ingin terusik bisikan angin malam terasa dingin menyentuh kalbu. Pasti akan terasa berat meninggalkan kerinduan, untuk menepati janji kembali jadi penghuni surga abadi.

Hanya lara pilu kian membara dalam relung sukma mengalir dalam nadi mengular kedalam perasaan, mencurahkan kerinduan yang pasti tidak pernah berujung.

Jarak dimensi yang sangat jauh tidak akan pernah terukur jarak dengan tali kerinduan apapun antara surga dan dunia fana.

Karena janji pasti Sang Pencipta tidak pernah ingkar pada manusia, yang selalu setia, selalu mengenangNya, selalu bersyukur nikmatNya, selalu menjalankan perintahNya dalam lima waktu, serta setia dalam perbuatan baik. Pasti terbayar surga, alam kasat mata akan jadi tempatnya.

Guratan senyuman wajah ikut andil juga paparan sinar cahaya rembulan malam, serta miliran kedipan mata bintang memayungi alam jagat raya kini berselimut malam gelap.

Dua kaki seraya tidak takut menggantung jatuh menjuntai kebawah bermain dengan hempasan kecil semilir angin dingin.

Dia hanya terduduk diatas ujung gedung menara, salah satu gedung tertinggi di Jakarta. Gedung pencakar langit 56 lantai dengan ketinggian mencapai 230 meter. Sungguh terlihat kokoh megah menjulang tinggi, dengan berselimut kaca-kaca tebal penahan panas ketika siang datang.

"Gua ngak mungkin ingkar. Setelah ini, gua akan kembali kesurga. Tapi kenapa sepertinya gua ngak punya nyali untuk menampakan diri dan menyentuh Naila?" guman risau Andaru.

"Terasa berat gua meninggalkan, Naila. Tapi kenapa sekarang Naila segitu mudah ngelupain gua?"

Beranjak bangun kian terasa perasaannya terdongkrak paksa putus asa dan ingin terjun bebas terbang dari gedung salah satu tertinggi di Jakarta.

Hempasan angin seraya mengusik mengajak hati agar melompat saja terjun bebas, apakah semilir angin tidak tahu bila Andaru sebenarnya kini mahluk kasat mata tidak terlihat.

Justru awalnya dia ingin sekali bisa terlihat dan menyentuh kerinduan istrinya. Tapi kenapa sat ini terasa berat dia untuk pergi meninggalkan Naila, setelah dia kini bisa menyentuh dan menampakan diri.

Ingkar tidak mungkin akan menghasut pikirannya, pasti Andaru akan menempati janji pada dua penjaga pintu surga.

"Kalian berdua tidak perlu khawatir. Gua pasti akan kembali kesurga dan menepati janji gua,"

Tersenyum Andaru menoleh kiri-kanan sudah berdiri di sampingnya Bajana dan Rake. Bajana dan Rake maju selengkah berdiri mengapit Andaru, tatapan dua matanya menjorok kebawah hanya terlihat sepi gelap dan kecil setiap kendaraan masih lalu-lalang. Hanya kentara jelas sorot cahaya lampu saling menyapa kendaraan berpapasan.

"Loe harus temuin Naila," kata Bajana tidak yakin.

"Lebih cepat, lebih baik." sambung Rake sedikit tersenyum.

Lihat selengkapnya