Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #12

Menepati Janji

"Walau kematian itu pasti akan merenggut setiap jiwa yang hidup didunia ini. Tapi aku yakin, bila saat ini Andaru masih tetap mencintai aku, Erlang."

Makin gugup bercampur cemas guratan wajah Erlang, seraya hatinya tidak akan ada asa bulat sempurna untuk mendapatkan cinta Naila.

Fesimis tapi kian kentara jelas kelicikan dua matanya, terduduk berdeku seraya memohon pada pujaan hati agar melunak hati.

Jemari kanan pelan sekali menyelip masuk kedalam saku blazer warna krem, sudah dalam genggaman satu kotak merah kecil tidak tahu isinya apa.

"Kematian itu telah memisahkan kamu dengan Andaru, Nai. Jauh dan sangat jauh jarak antar waktu, yang pasti tidak ada rangkaian ukuran cinta manapun bisa merangkai kembali cinta yang telah tiada terkubur butiran tanah merah,"

Lirikan sinis dua wajah penjaga pintu surga melihat rayuan maut Sang Punjangga cinta dadakan berselimut kelicikan makin tersirat pada gerakan pada dua bola matanya.

Kotak merah kecil itu berisi cincin emas putih bertahta berlian, kilauannya sampai membuat Naila terkoyak kekuatan hatinya seraya bergejolak ingin melepaskan kata cinta dengan suaminya.

"Manusia licik itu harus di kasih pelajaran tentang hidup! Gimana menghargai cinta sejati dan tidak seharusnya manusia licik itu merayu istrinya Andaru sampai begitu!"

"Gua setujuh. Tapi lagian juga kenapa istrinya Andaru jadi matre gitu?!"

Dua penjaga pintu surga merasa kecewa jengkel dengan sikap Naila, seakan dia begitu mudah sekali luluh dengan bujukan rayuan Erlang. Erlang mengarahkan kotak merah kecil berisi cincin bertahta berlian lengkap dengan segudang kata rayuan maut.

"Naila, maukah kamu jadi?" __ "Akhhhhhh ..."

Baru saja Erlang mengukapkan isi hatinya akan melamar Naila. Sontak Naila berteriak tutupi wajah dengan kedua tangannya.

Celana levis hitam melorot turun saat di dodorin Bajana dan Rake tersenyum menahan geli tawa. Malunya minta ampun sekeren Erlang ternyata dia pakai celana kolor icont smile persis menutupi burung kesayangannya.

"Rasain loe!"

"Loe pantas harus di kasih pelajaran! Hidup agar tidak sombong lagi!"

Makin menahan tawa geli Bajana dan Rake sampai kedua tangannya masih menahan sekuat tenaga celana levis. Dua tangan Erlang sampai sulit sekali menarik keatas celananya.

Tidak mungkin Naila membuka dua matanya melihat ada sesuatu dibalik celana kolor smile yang dipakai Erlang.

"Er! Erlang itu ..."

Celah jemari sempat perlihatkan nyata celana kolor smile seraya meledek Naila.

"Kok ngak bisa. Kenapa ini?"

Dua tangan sekuat tenaga menarik celana agar kancing bisa terselip masuk kedalam lobangnya, tapi tetap saja tidak bisa. Karena kali ini malahan Bajana ikut menahan celana levis, makin terbahak-bahak dua penjaga pintu surga.

"Hahahahahaha ... "

Ada rasa takut tapi penasaran, di tutup rapat celah jemari tapi sedikit di lebarkan karena penasaran dua mata Naila mungkin penasaran ingin melihat.

Kali ini dua matanya sungguh melihat dua penjaga pintu surga, Bajana dan Rake terdiam merasa kejahilan mereka sudah ketahuan.

Lihat selengkapnya