"Andaru ..."
Teriakan Naila terdengar menggema bermain diatas langit melepaskan pekik mengoyahkan ketegaran seorang suami yang kini dia harus menepati janjinya.
Terlambat sudah teriakan Naila, kini Andaru tidak akan pernah bisa lari dari kenyataan, dimana dia saat ini dan selamanya akan jadi penghuni surga abadi.
Terasa berat kedua kaki berpijak naiki setiap undakan anak tangga, kian terasa beban merasuk hati mengoyak bahtin melawan kesedihan. Namun semua pergolakan bhatin percuma saja, karena harus menghadapi kenyataan menghadapi kodratnya sebagai mahluk penghuni surga.
Tidak mau lepas dan kabur lagi dua tangan penjaga pintu surga begitu kencang sekali memegang kiri-kanan tangannya.
Kepulan asap putih menyelimuti setiap pijakan kaki menaiki undakan anak tangga, sudah terlihat makin tinggi sebentar lagi akan terlihat pintu surga.
Bajana dan Rake berjalan mengapit Andaru tatapan wajahnya yakin, bila pintu surga itu akan terbuka lebar untuknya.
"Andaru ..."
Kali ini teriakan terdengar kian menyayat bhatin merasuk mengoyahkan keyakinan terhenti dua langkah kaki.
Saling menatap dua penjaga pintu surga, serasa tahu apa yang sedang mengulik bhatin seorang suami yang sebenarnya dia masih teramat berat meninggalkan istrinya sendiri hidup didunia fana.
"Tidak Andaru," ucap datar Bajana.
Masih tergenggam erat jemari kanan Bajana perlahan menarik pergelangan kiri Andaru. Tapi terasa berat sekali langkah kakinya, seraya terikat kerinduan kian bertambah tumbuh panjang.
"Andaru?"
Dua pergelangan tangan Andaru terentang kedepan, sedangkan dua penjaga pintu surga sudah melangkah naiki undakan anak tangga.
"Yakinkan saja Andaru. Bila Naila akan baik-baik saja," __ "Lagiankan Naila sudah menemukan teman hidup pengganti loe,"
Bareng dua pasang kaki naiki undakan anak tangga berdiri sama rata dengan Andaru sebentar menoleh pada Bajana dan Rake.
Angkasa bebas kian kentara jelas terlihat, sinar cahaya matahari kian terasa menerangi bermain dengan kilauan cahaya sinar rembulan serta planet-planet berputar-putar segimana fungsi dan tugasnya.
"Gua merasa ada sesuatu yang ngak bikin hati ini tenang meninggalkan Naila. Bukan karena gua harus menepati janji untuk segera kembali kesurga pada kalian berdua. Tapi terasa keyakinan itu tergerus dengan ketidak percayaan gua sama Erlang,"