Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #14

Gua, Semakin Yakin

"Gua, bingung Syla. Gua harus gimana? Selama kepergian Andaru, gua cuman bisa menahan kerinduan berkepanjangan. Loe tahu dong, Andaru udah ngak ada dan dia udah jelas ngak terlihat lagi!" sesengugukan pilu menangis Naila.

Capek sudah menahan sedih, rindu selalu memanggil Andaru, nyatanya tidak akan pernah terlihat lagi. Hanya langit hitam terlihat bertaburan miliran mata-mata nakal berkedip terang seraya masih memata-matai sampai dimana kesetiaan Naila menanti panjang kerinduan yang sesungguhnya tidak terlihat lagi. Hanya merindukan sesuatu yang tidak pasti, sesuatu yang hampa kosong tidak akan pernah berbentuk dan bertepi.

Sementara sinar cahaya rembulan malam kini mulai terpapar segelintiran halus awan-awan kelabu membayangi laju cahaya sinar rembulannya. Kepakan gerombolan kembar burung-burung seakan jelas kentara terbang terlihat diantara selipan sinar cahaya rembulan malam tidak tahu akan terbang kemana.

Suasana hati makin tersayat sakit, sakitnya sampai menghujam hati mengularkan air mata kesedihan sembabi wajah Naila. Dia hanya terduduk diatas rerumputan kecil di pelataran depan rumah, kedua tangan adiknya pelan penuh kelembutan memancing empati memapah seorang Kakak yang kian terundung sedih terjerembab jatuh dalam kerinduan tidak berdasar.

Bingung tidak tahu apa yang tengah terjadi pada sepasang saudara kandung hanya terbalut dengan untaian kesedihan kini saling berpelukan. Erlang mendekati, wajahnya mendongak keatas langit tidak lagi melihat sinar cahaya terang seperti tadi dilihat jelas dua matanya telah membawa pergi jawaban kerinduan.

Outfit yang di pakai Erlang sungguh menandakan dia sesungguhnya sudah berbeda dengan dulu, kilauan arloji mahal membalut pergelangan kiri terlihat berkilau terpapar sinar cahaya rembulan malam. Hasratnya masih tertunda untuk meluapkan niat malam itu agar sungguh terjawab dengan keindahan yang bakalan menyejukan sanubar.

"Andaru, Nai?" ucap sedih Syla sedih.

"Iya, Syla. Itu Andaru? Tapi? Tapi kenapa hati gua semakin ngak yakin, Syla."

Sahut Naila makin erat memeluk adiknya sekali lagi mendongak wajahnya keatas. Lirikan kesedihan Syla menoleh pada langkah kaki Erlang semakin dekat terbungkus sepatu fantopel hitam brandit.

"Nai?" ucap Erlang ragu.

Kini kembali lagi kotak merah kecil sudah terjilat sinar cahaya rembulan malam menyentuh cincin bertahta berlian. Mungkin hati orang tua seakan kian luruh, Martin dan Dila tidak mungkin akan terdiam selalu melihat kesedihan Naila selama ini tertekan dalam penantian kerinduan yang tidak tidak akan pernah terlihat lagi.

"Nai, loe yakin?"

Terlepas pelukan Naila, serasa dia terpanggil untuk menjawab keyakinan hatinya setelah di tinggal selamanya Andaru, padahal tadi jelas bila kedatangan suaminya hanya untuk membayar kerinduannya saja dengan Andaru sudah menampakan dirinya sebagai mahluk yang tidak terlihat.

Langkah pasti Naila makin mantap mendekati calon suaminya itu, tatapan kesedihan terseka husapan telapak tangan kanan disertai hati makin yakin.

"Gua, semakin yakin Syla," sahut Naila.

Jemari manis mulai tersemat lobang cincin dari calon suami perlahan tapi pasti. Menahan sedih atau menahan tidak enak hati Naila terpaksa menerima pinangan tengah malam buta itu, di saksikan langit terasa suram sendu sedih.

"Nai?" ingin sekali Syla mengetuk hati Naila sekali lagi.

Lihat selengkapnya