Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #15

Cemas

"Venna, aku akan jadikan kamu ratu dalam hidupku. Tidak siapapun ratu yang datang menggoda, terlebih ratu itu datang memaksa menyengatku sampai tidak berdaya. Aku akan tetap selalu jadikan kamu ratu satu-satunya di dunia ini,"

"Aku juga ingin jadikan kamu raja dalam hidupku. Yang selalu setia setiap saat menghalau segala rintang kesedihan menjaga kesetiaan,"

Terdengar sama ungkapan terucap dari bibir mengular keyakinan dalam hati Erlang dan Venna merajuk ikatan atas nama kesetiaan cinta, bila keduanya akan saling setia dan tidak akan selangkahpun meninggalkan.

Deburan riak ombak pasang tidak sampai menghempas dua pasang kaki bertelanjang nyata menapaki butiran kecil pasir putih basah. Sungguh iindah dan seromantis ungkapan hati seluas samudra beratap langit sendu, buket bunga di terimanya sebagai tanda ketulusan mengular tergurat dari raut wajah Erlang. Tergenggam penuh keyakinan jemari-jemari memeluk erat batang buket bunga sebagai tanda ketulusan Erlang di terima Venna.

Malam itu pantai pasir putih terasa sunyi sepi, hanya mereka berdua saja dengan iringan suara deburan ombak yang tidak akan pernah hilang dimakan lekangnya waktu dan cinta. Sendu tatapan dua pasang mata tergurat keyakinan, bila keduanya berjanji bersungguh-sungguh menjadi ratu dan raja yang saling mengisi dan mengasihi dengan ketulusan hati selalu mencintai.

"Is that your promise?" pastikan Venna

Tidak terpejam dua mata lentik Venna, hatinya memastikan kembali cinta Erlang padanya. Deburan riak ombak makin membuat hati kian dilanda cemas, takut kalau-kalu itu hanya ungkapan kosong saja.

"I really am and I promise to always be your king when sad and happy," yakin jawaban Erlang.

Terdengar yakin jawaban, sontak Venna melabuhkan pelukan begitu erat sekali pada lelaki yang sebegitu dia percaya sekali. Tidak lagi tergurat cemas dari raut wajah Venna, sungguh jelas sinar cahaya rembulan malam memapari wajahnya kian tersenyum bahagia.

Wajah tergurat cemas dan jengkel, terduduk dibalik kemudi setir mobil suv putih. Mobil itu sejak tadi di biarkan terparkir tidak jauh dari bibir pantai, sejak tadi juga Andaru perhatikan king maker love sedang permainkan cinta dua gadis yang sebentar lagi akan jatuh dalam kubangan kesedihan.

"Tin ... Tin ..." klakson dibagian tengah setir dua kali ditekan tangan Andaru.

Menoleh perhatikan mobil tidak terlihat siapapun dalam mobil. Bingung juga Erlang cepat melepaskan rentangan tangan Venna padahal masih ingin terpeluk hangat. Angin laut makin kencang sekali menerpa, tapi genggaman erat batang buket bungat tidak terbiarkan terlepas.

Erlang berdiri persis depan mobil miliknya, hanya sepi sunyi terlihat dalam mobil. Tatapannya pasti mengarah kedalam, sungguh memang tidak ada siapapun dalam mobil itu. Andai saja Erlang bisa melihat siapa yang sudah duduk dalam mobil, tentu dia akan bisa melihat wajah kecemasan dan jengkelannya Andaru.

"Pembohong loe, Erlang!"

Lihat selengkapnya