"Kami berdua punya tanggung jawab besar, tapi tidak semerta mengabaikan tugas kami!" kilah kesal Rake.
Sinis terlihat dingin wajah Biduri, bagai seperti kobaran api neraka mengelana membakar dosa pada setiap penghuni neraka. Tudingannya terbantahkan, dia beranjak bangun dari duduk seraya ingin melempar kedua penjaga pintu surga kejurang dalam tidak berdasar terlalap kobaran api neraka.
Tidak pada Bajana serasa hatinya belum terpancing untuk membantah segala tudingan penjaga pintu neraka. Tatapan Rake kini mulai luruh seraya sejuk terterpa hembusan angin sejuk surga, hanya gara senyuman lelaki tua berjenggot panjang dengan setelan pakaian kurung serba putih.
Dia adalah Wicaksana berarti sungguh bijaksana, sepasang alis sudah terlihat memutih memayungi kedua mata selalu menatap penuh kesejukan penuh arti. Apalagi rambutnya yang panjang, tidak ada sehelai yang terlihat hitam, dia adalah penanggung jawab alam baka.
Tidak banyak kata, banyak tersenyum tergurat dari paparan raut wajah Wicaksana. Singgasana jadi tempat duduknya paling atas dan paling terhormat, sungguh tugas mulia yang harus disertai tanggung jawab besar dilandasi dengan bijaksana dalam setiap mengambil keputusan.
"Andai saja kami berdua sudah lalai bersalah dalam bertugas, kami berdua siap di berikan sanksi. Tapi kami sebagai penjaga pintu surga, kami juga merasa punya tanggung jawab penuh kasih,"
"Kalau kalian punya tanggung jawab? Kenapa kalian biarkan manusia itu kembali lagi kedunia fana!"
Tadinya Bajana mau membela diri tidak bermaksud mencari muka pada penanggung jawab alam baka, tapi sayangnya langsung terbantahkan lagi oleh Biduri.
"Sudah, sudah. Kalian tidak perlu saling membenarkan dan menyalahkan. Tidak ada kata benar dan salah untuk yakinkan diri kalian itu paling sempurna tidak bersalah. Sang Pencipta, Yang Maha Kuasa begitu baik hati dengan segala kemurahannya menciptakan semesta ini dengan segala jalan hidup, kodrat dan nasibnya. Terlebih setiap helaan napas masih tercipta mengalir dalam setiap tubuh manusia yang pasti dia berkodrat menentukan mana jalan hidupnya selama dia tinggal didunia fana,"
Sekali jemari-jemari keriput kanan menyelip kedalam jenggot panjang dengan penuh tebaran senyuman bijaksana. Masih terduduk di singgasana, senyumannya seraya ingin menaburkan kebijaksanaan yang harus tertular pada penjaga pintu surga dan neraka agar mengurungkan niat untuk tidak saling melempar kesalahan terlebih egois hatinya selalu berkata benar.
"Kami tidak ingin Andaru masuk neraka, karena membiarkan tanggung jawab yang belum di selesaikan begitu saja di tinggalkan," __ "Kalian berdua tetap lalai dengan tugas kalian!"
Alibi Rake sontak terbantahkan Biduri makin tidak ingin dua penjaga pintu surga itu mencuri perhatian penanggung jawab alam baka. Seorang penanggung jawab alam baka tidak semesti dia berat sebelah atau memihak siapapun, tentu dia harus bijaksana sesuai dengan nama yang selama ini melekat dengan kodratnya.
"Andai kami telah lalai dalam melaksanakan tugas, tidak mengapa kami berdua di kasih sanksi. Namun kami berdua masih punya naluri empati yang sangat luas, seperti semesta jagat ini untuk tidak membiarkan manusia berbuat salah dan terjerumus jatuh dalam kobaran api neraka!"