Tidak jadi masuk Syla kedalam kamar, sempat melirik aneh kedalam kamar Naila pintunya terbuka sedikit. Antara kamar Syla dan Naila tidak terlalu jauh hanya bersebelahan jaraknya, makin bingung mengulik semakin aneh berpacu denyut jantung ketakutan.
Pintu semakin terbuka lebar, padahal sudah mengantuk tapi rasa kantuk terbawa hilang karena penasaran wajahnya melongok kekiri kamar sebelah. Pelan pintu kamarnya sendiri di tutup rapat, dua kaki makin mengajak untuk merangkak samping kiri. Kening berkerinyit bingung, jemari kanan mendarat menggaruk kepalanya.
Hanya terlelap tidur Naila, seraya dia sedang bermimpi indah sedang bersama Erlang terbang dengan kuda putih sembrani mengangkasa bebas menembus cakrawala mega langit malam. Kepakan dua sayap kuda terus mengepak cepat terbang tinggi menembus langit ketujuh tidak punya batasan waktu.
"Kenapa gua ngak bisa menyentuh Naila lagi?" guman bingung.
Terasa hampa kosong sentuhan dua tangan Andaru, padahal ingin sekali memeluk membelai wajah istrinya yang terlelap tidur.
Wajah tergurat sedih dan bingung, hukuman apa yang kini sedang merasuk dalam dirinya. Kenapa tidak bisa menyentuh memeluk seseorang yang segitunya cepat berpaling darinya, yang awalnya segitu besar rindu Naila padanya.
"Akhhhhhhh ..."
"Brug ... Prang..."
Teriakan pilu meratapi kesedihan terdengar sampai menjatuhkan vas bunga dan tirai jendela bergerak terhempas angin kencang.
Bergidik ketakutan Syla terkejut melihat vas bunga terjatuh pecah dilantai. Terduduk jongkok sedih disudut dinding kamar, dua tangan berkepal meradang marah ingin memukul kepalanya tidak jadi.
"Kenapa ini?! Bajana ... Rake ...?"
Urat kepalaan dua tangan terlihat mengular tapi tidak memukul kepalanya. Tatapan sedih masih tidak mau beranjak pergi menatap terbaring lelapnya tidur Naila diatas dipan ranjang.
"Bang Andaru?"
Syla mulai menyadari akan kehadiran seseorang yang tidak terlihat, tapi kali ini kenapa dia juga tidak bisa melihat hanya terlihat sepi hampa kosong.
"Syl, Syla!" panggil Andaru berharap.
Lagi-lagi hanya kosong hampa dua tangan Andaru tidak bisa menyentuh Syla, apalagi menyentuh istrinya.
"Ini jalan loe, Andaru. Loe udah ngak bisa lagi menyentuh atau menampakan diri loe lagi," tandas Rake.