Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #18

Selamat Tinggal

Sebelum Andaru kembali kesurga, dia ingin sekali menemui adiknya. Sungguh sayang seribu sayang, hanya terasa hampa kosong pasti perpisahan akan selalu terkenang walau terpisah jarak dan dimensi waktu. Meraba saja tidak bisa, apalagi untuk memeluk sekedar melepaskan kerinduan juga tidak bisa.

"Selamat tinggal, Sabrina." terdengar sedih.

Lelap sekali tidur Sabrina, hanya bantal guling jadi pelepas kerinduannya. Berat rasanya Andaru utuk beranjak bangun dari duduk menyamping diatas dipan ranjang, Sabrina tidur menyamping membelakangi menghadap dinding tembok.

"Abang akan pergi selamanya," beranjak bangun Andaru.

"Bajana, Rake apa tidak ada kesempatan lagi buat gua. Sebentar aja,"

Seraya memohon pada dua penjaga pintu surga malahan dua wajah saling menatap sendu. Mungkin baru kali ini dua penjaga surga di hadapkan dengan dilemma, tapi kali ini tidak dapat bisa membantu lagi dan memberikan kesempatan pada Andaru.

Membungkuk didepan dipan ranjang, bibirnya sesaat mendarat kekening adiknya, berata sekali bibir tipis melepaskan kecupan kasih sayang pada adiknya. Pasrah sudah Andaru, tapi mungkin kali ini kecupan bibir tipisnya walau terasa kosong mencium kening adiknya walau tidak terasa.

Sudah tidak sabaran dua penjaga pintu surga menunggu drama lagi, dua tangan Andaru sontak di tariknya keluar dari dalam kamar. Tertahan dua penjaga surga dengan setengah tubuh Andaru sengaja didekatkan pada kusen pintu. Masih tidak ingin Andaru meninggalkan adiknya kini terbaring tidurnya tersenyum seraya tahu dengan kedatangan Abangnya.

Langkah pasrah Andaru, terasa kuat genggaman kiri-kanan dua tangan penjaga surga tidak mau lagi mahluk penghuni surga itu lepas kembali.

"Abang Andaru." terjaga bangun Sabrina.

"Tadi gua mimpi Bang Andaru datang. Lalu pergi ninggalin gua," guman sedih Sabrina.

Berkaca-kaca dua mata menahan sedih berselimut samar cahaya penerangan malam, terasa hening sepi kamar yang selamanya akan mengulik sepi terpanjang dalam penantiannya pada seseorang yang tidak terlihat.

"Selamat tinggal Abang, selamat jalan." tersenyum walau tidak terhaan sedihnya.

Lihat selengkapnya