Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #19

Yang Tidak Terlihat Tersakiti

Malam tadi serasa dingin mulai berganti, siang sudah datang menunjukan kilauan cahaya memantul pada setiap lempengan kaca-kaca tebal gedung bertingkat. Kini terasa panas kilaun sinar matahari merasuk setiap relung jiwa penghela napas mulai kembali berjalan menapaki setiap langkah kodratnya.

Bukan hanya lalu-lalang kendaraan penuhi setiap sudut jalan, namun terdengar pasti detak setuap penghela napas berjalan mencapai tujuan pasti dengan aneka berselimut warna mode pakaian. Semilir angin terasa kian merasuk setiap relung dedaunan rimbun hijau berjejer tertata rapi sepanjang tepi jalan.

Sejak tadi malam terasa lelah, wajah tergurat lesu tidak beralas merasuk dingin hawa bumi menyatuh dalam tubuh. Setelan pakain serba putih mulai menggerutu sudah bercampur bercak noda kotor terhias. Terasa hina, tidak terasa sakit terinjak banyak pasang kaki dengan aneka macam merk model sepatu-sandal membungkus setiap sepasang kaki berjalan.

Tersaru dengan lantai jalan, tentu tidak disengaja oleh banyak pasang kaki menginjak tubuh Andaru tertidur melintang ditengah tepian jalan. Serasa dia lelap sekali tidurnya, tidak peduli dengan banyak pasang kaki menginjak tubuhnya tidak terpanggil sakit dan merasa terhina. Karena dia mahluk yang tidak terlihat, tidak merasakan sentuhan apapun.

Colekan sengatan sinar matahari persis menyolek wajah tampannya, terjaga bangun serasa terkelitiki jilatan sengatan sinar matahari. Tidak lantas dia beranjak bangun, terduduk malas seraya menikmati secangkir kopi hitam hangat lengkap dengan cemilan pagi terhampar jejeran gedung bertingkat.

Tapi itu hanya bayangan belaka saja, tatapannya perhatikan sekitar jalan makin masa bodoh banyak pasang kaki penghela napas mengejar kodrat menabraknya tetap tidak mau beranjak bangun. Walau dia mengharap kasihan prihatin dari banyak penghela napas untuk mengasihaninya dengan Andaru masih terduduk tetap saja tidak akan ada yang melihatnya.

Mendongak wajah kelangit cerah seraya berharap pintu surga masih terbuka untuknya, tapi hati mengajak ragu karena kian banyak membayar ingkar janji.

"Itu bukannya?" guman Andaru cepat beranjak bangun.

"Haiii. Haiii berhenti loe!"

Di terabas jalan Venna tidak melihat atau mendengar suara panggilan, cepat Andaru kedepan menghalangi jalan. Tetap saja dirinya tidak terlihat Venna berjalan biasanya tidak merasakan sentuhan apapun walau berapa kali dua tangan mahluk tidak terlihat itu mencoba menarik pergelangan tangan mulus Venna.

"Haiii ..."

Kencang sekali teriakannya persis depan kuping kanan Venna.

Terhenti langkah Venna, padahal berapa langkah lagi sudah masuk pintu loby dimana dia ingin menemui seseorang. Pintu kaca otomatis dari tadi terbuka dan tertutup sendiri, kuping sedikit terdengar panggilan itu.

Betis sampai lutut kaki terlihat putih seksi, dengan dress women summer korea warna hitam, sepatu hak tinggi warna merah tua tentu makin bikin terlihat anggun dan seksi. Rambut panjang tergerai pirang, sejak tadi tas kecil warna hijau toska menyelempang pada bahu kanannya.

"Loe jangan percaya sama Erlang ..." terdengar lagi bisikan merasuk liang kuping kanan Venna.

Tidak jadi lagi Venna masuk, padahal pintu otomatis terbuka tertutup sendiri. Pegawai bingung melihat sikap aneh Venna, bikin pegawai lainnya menepi minggir.

Sempat tergoda juga Andaru melihat kecantikan Venna yang sedang menabur pesona kini persis berdiri berhadapannya, tapi tetap saja Venna hanya melihat kosong hampa tidak ada siapapun di hadapannya.

"Loe jangan percaya sama Erlang ..." makin kencang suara itu terdengar.

Pegawai yang akan masuk kedalam kantor hanya cengar-cengir melihat sikap aneh Venna berputar-putar depan pintu otomatis terbuka-tertutup sendiri. Andaru merasa bila Venna sedikit bisa mendengar panggilannya, kini jemari kanannya sengaja mengelus pipi gadis yang sedang kebingungan itu.

"Haiiii! Siapa loe?!"

Makin tersenyum Andaru, mungkin dia merasa hanya Venna yang bakalan bisa jadi orang yang bisa merasakan sentuhan dan mendengarnya.

Lihat selengkapnya