"Jadi loe suami?" __ "Benar, gua suaminya Naila,"
Seperti orang gila Venna berapa kali telunjuk kanan menunjuk-nunjuk tidak tahu siapa yang di tunjuk dan sedang di ajaknya bicara. Terduduk sepi kursi-kursi penonton aneka warna terhampar sepanjang tribun penonton berselimut dingin sunyi dalam luasnya stadion lapangan bola.
"Gua sudah menolak pintu surga hanya demi ingin membayar kerinduan Naila. Tapi semua percuma, semua pengorbanan gua," terdengar hanya suara kosong saja.
Makin penasaran Venna ingin sekali melihat wajah Andaru, husapan hangat sempat mendarat pada wajah tidak terlihat. Terasa sejuk sekali terpancing hasrat naluri mahluk tidak terlihat untuk membalas belaian tapi sudah terundung sedih.
"Jadi loe kembali kedunia ini hanya demi membayar kerinduan istri loe? Tapi, loe lihatkan tadi gimana sikap istri loe. Istri loe jatuh dalam pelukan Erlang, karena luluh hatinya oleh kata-kata yang sama di ucapin Erlang sama gua belum lama ini," sahut sedih Venna.
"Selama gua menjalin hubungan dengan Naila, gua memang ngak mau berterus terang dengan sakit yang gua derita. Gua ngak mau Naila ikut bersedih dengan keadaan gua. Gua memilih hari pernikahan gua, dimana hari bahagia itu, persis di hari terkakhir gua. Gua cuman ngerasain semalam hidup jadi suami dari istri yang gua cintai,"
Terharu sedih Andaru, tetap saja dia tidak terlihat dari pandangan penasaran tatapan Venna ingin sekali melihat sosok yang tidak terlihat.
Hamparan rerumputan hijau kecil terpangkas rapi dengan ukuran pendek tumbuh berdiri atas batang, daun kecil hijau dan organ reproduktif, serta bagian bawah berupa akar merangkai setiap tanah-tanah merah. Lengkap dengan sepasang gawang pada setiap ujung sudut tengah lapangan, dimana bola selalu di tendang untuk masuk kedalam gawang lawan. Diatas lapangan rumput hijau, kaki-kaki pintar pemain lebih leluasa untuk bergerak, mengoper menendang gelinding bola pada setiap jejak kaki-kaki untuk mencapai semangat bola masuk masuk kedalam gawang lawan.
"Cuman loe yang bisa ngebantu gua. Cuman loe yang bisa dengar gua,"
Beranjak bangun Andaru, makin ingin tahu Venna dua matanya menatap kosong terhampar kursi-kursi kosong disetiap tribun kilau dengan cahaya penerangan lampu dari atas setiap sudut atap stadion.
"Apa yang bisa gua bantu buat loe?" balik tanya Venna masih bingung.
"Gua cuman ingin bisa terlihat dan menyentuh lagi istri gua," sahut Andaru
Andai saja Venna bisa melihat, tentu dia akan terkasima dengan wajah tampan yang tidak terlihat persis berdiri di hadapannya.
"Tapi gua ngak bisa apa-apa buat ngebantuin loe dan gua aja ngak tahu siapa nama loe dan gimana caranya gua bisa bantu loe?"
Barangkali capek dan makin lama merasa aneh saja Venna bicara sendiri seakan ingin tahu siapa yang lawan yang sedang diajak bicara tapi tidak terlihat.
"Walau saat gua kecil, gua sering mendengar suara-suara aneh yang tidak terlihat. Kadang suara itu bikin gua ketakutan, tapi bukan berati gua bisa ngebantuin loe," makin tidak yakin Venna.
Turuni undakan anak tangga berlantai keramik kasar, sementara Andaru masih berdiri diatas tribun kursi penonton. Venna sudah berjalan diatas rerumputan kecil ditepian lapangan bola, guratan wajahnya masih terasa berkelana tidak berdasar.
Masih ada rasa kecewa dan jengkel pada lelaki yang selama ini sebegitu sekali terpuji dalam hatinya. Tapi nyatanya, Erlang telah mencampakan dia dengan segudang rayuan sampai menggurat kesedihan dalam hati. Venna berdiri dikelilingi bola-bola terdiam lelah, mungkin tadi siang terombang-ambing tertendang kaki-kaki pemain bola.
"Gua tahu loe kecewa sama Erlang. Gua tahu loe segitu cintanya sama Erlang, walau dia bandar barang haram yang sudah menghipnotis banyak orang dengan kenikmatan sesaat. Loe tetap mau terima cintanya, walau penuh dengan gelimangan dosa. Tapi, loe saat ini udah dibuat kecewa,"